Selasa, 20 Januari 2015

Time - Tiga

Tiga

Sudah satu bulan Junna bekerja di perusahaan nenek sebagai karyawan biasa, dan dia benar-benar telah dekat dengan karyawan lain. Namun menurutnya ada satu karyawan yang benar-benar sulit untuk diakrabi, dia merasa ada tembok pemisah yang sangat tebal dan tinggi untuk mendekatinya. Benar, dia adalah Park Sunny, yang sejak awal memang telah berbeda. Padahal awal Junna datang, dia mulai dekat tetapi kedekatannya tidak semakin akrab, hanya dingin dan datar tidak ada kemajuan sama sekali. Yeoja itu juga terlihat aneh saat waktu-waktu tertentu, dia pernah melihat yeoja itu mengenakan sebuah pakaian yang aneh dan melakukan gerakan gerakan aneh tetapi tetap di tempat. Dia menanyakan pada yang lain mereka juga tidak tahu, mereka juga merasa sedikit takut dan aneh. Tapi mereka tetap mencoba bersikap biasa.
Setelah makan siang semua anggota tim akan melakukan rapat mendadak, karena ada seorang claien yang tidak puas dengan pekerjaan mereka. Mereka berkumpul di ruang rapat, namun seseorang belum juga muncul padahal mereka sangat membutuhkan ide-ide cemerlang yang keluar dari otaknya. Orang itu adalah Park Sunny yang saat ini tengah berada di kampus, ketua tim terus mencoba menelfon yeoja itu. Junna yang melihat mereka tengah pusing, mengusulkan untuk memulai rapat mendadak ini. Junna juga mengusulkan ide-ide yang ada di dalam otaknya.
“Bagaimana kalau kita mengusulkan untuk berpindah destinasi wisata? Bukankah dia mengeluhkan destinasinya yang tidak sesuai dengan keinginannya?”
“Benar, lalu kemana rekomendasi yang akan kamu ajukan?” tanya manager Go.
“Jeju island, bukankah itu tempat terindah di korea?” Sokyung mengusulkan.
“Itu ide yang baik, tapi saat di Gyeongsangbuk-cara dia komplain?” tanya Junna yang sedang melihat data kelainnya. Semua mengangguk membenarkan, sekarang mereka tengah berfikir ulang untuk kelain VIP mereka yang berasal dari luar negeri.
Breep...breeep....breep..
Ponsel manager yang berada di atas meja bergetar, sebuah panggilan masuk dari Sunny. Ketua segera mengangkatnya dan memarahi Sunny setelah tersambung.
“Ya! kenapa kau tidak mengangkat teleponku sedari tadi!” seru ketua tim dengan nada tinggi membuat semua yang ada di ruangan itu terloncat kaget dan merasa takut. Apa lagi Junna baru pertama kali dia melihat ketua mereka semarah ini.
“Mianhaeyo, aku sedang ujian. Apa ada masalah manager Go?” tanya Sunny dari seberang.
“Tentu saja ada, makannya aku menghubungimu..” seru ketua tim kemudian me-loudspeker ponselnya.
“Oh, baiklah. Apa yang bisa ku bantu?” mereka memandang ponsel tak percaya, di saat seperti ini dia masih bisa bersantai sedangkan yang lain bekerja keras.
“Ya! kau masih bisa bersantai sedangkan yang lain sedang bingung.” Seru ketua,  kemudian menceritakan masalah yang sedang dihadapi tim mereka. Sedangkan yang lain mendengarkan dengan seksama, sambil mencari solusi untuk kehebohan ini.
“Oh baiklah, tenang saja setelah aku selesai dengan kuliahku. Aku akan menyelesaikan itu.” Mata mereka tertuju pada ponsel ketua, lagi-lagi mereka tidak percaya Sunny masih bisa bersantai dengan keadaan ini.
“Ya! bagaimana kau akan menyelesai kan itu semua?!” seru Junna kesal. Bukan saja Junna yang merasa kesal tetapi semua yang ada di ruang rapat juga merasakan hal yang sama.
“Kau membuat gendang telingaku pecah! Bukankah sudah kubilang aku yang akan mengurus itu, jadi tenanglah dan tolong kirimkan data kelian VIP itu secara detail. Oh ya, dan tolong seseorang menjemputku nanti kira-kira pukul tiga. Aku akan menemui kelain itu. Sekali lagi meanhae, aku haru mengerjakan ujinku. Selamat bertemu!” seru Sunny dari seberang.
“Benar-benar anak itu!” seru ketua kesal, sedangkan yang lain menghela nafas. Mereka menganggap yeoja itu sedang bercanda di situasi seperti ini. “Baiklah kita akhiri saja, biarkan nona Park yang mengatasinya. Kita kerjakan saja yang lain. Junna-ssi?” seru ketua memanggilnya.
“Ne?”
“Kau yang akan pergi bersamanya.” Junna yang mendengar itu membulatkan matanya, sedangkan yang lain tersenyum lega karena bukan mereka yang akan mengatasi masalah ini. Junna mengacak rambutnya frustasi, memang berat tapi bagaimana dia harus memimpin perusahaan ini di kemudian hari bila dia menyerah karena masalah seperti ini.
***
Junna tengah mengemudikan mobilnya dengan lumayang cepat, disampingnya telah bertumpuk dokumen yang akan didiskusikan dengan Park Sunny. Saat ini dia tengah menuju Sungkyunkwan University, tempat yeoja itu berada sekarang. Dia sekilas melihat alroji yang ada di tangannya yang menunjukkan pukul 14: 40, kemudian berfokus untuk menyetir. Dia mempercepat laju mobilnya menyusuri jalanan kota Seoul yang cukup ramai. Tak kurang dari sepuluh menit dia sampai, dia menunggu yeoja itu di dalam hingga membuatnya bosan. Dia memutuskan untuk berkeliling mencari yeoja itu.
Sambil menikmati suasana kamus yang tenang dia menyusuri setiap lorong, matanya tak henti-henti mencari sosok yeoja itu. Sesekali dia menatap jam tangannya sambil terus mencari keberadaan yeoja itu. Beberapa kali dia tersenyum simpul pada segerobol mahasiswi yang menyapanya dan membicarakannya. Matanya tertuju pada sebuah ruangan yang cukup luas, ia mendekat dan mencoba mengintipnya dari luar pintu. Terdapat sebuah galeri seni yang di dalam terdapat cukup banyak kerajinan dan beberapa lukisan. Tetapi matanya tertuju pada sebuah lukisan yang belum selesai, lukisan itu bergambarkan wajahnya yang diselimuti dengan api biru. Membuatnya sangat penasaran siapa yang melukisnya. Namun dia segera tersadar untuk segera mencari yeoja itu dan segera membawanya pergi.
Sekarang dia menyusuri lorong kembali, matanya menangkap sosok yeoja yang tak asing baginya. Dia mengenakan baju tertutup dan tengah bercengkraman dengan akrab seorang dosen laki-laki. Memang benar dia tengah melaksanakan ujian, itu didukung oleh teman-temannya dan sedang berkonsentrasi mengerjakan ujin. Tunggu, Apakah yeoja ini memiliki hubungan dekat dengan dosen itu? Atau jangan-jangan dia adalah .... jadi saat itu dia dibuli karena dia memiliki kedekatan dengan dosen mereka?
Yeoja yang tengah diperhatika Junna, memang benar dia adalah Park Sunny dan saat ini dia sedang berbicara pada dosen. Bahkan sesekali Sunny tertawa sangat akrab, berbeda sekali saat dia bersamanya.
“Lagi-lagi kau tertawa ketika ku ceritakan, kisah cintaku.” Kata songsainim Han kemudian ikut tertawa. Setelah selesai mengerjakan ujian, Sunny berniat pamit tapi songsaenim Han mengajak mengobrol untuk menunggu yang lain selesai. Sunny memang telah dianggapnya sebagai anaknya sendiri, meski kenyataannya dia tetaplah salah satu mahasiswi yang dia ajar. Dia merasa Sunny mirip seperti putrinya yang telah hilang.
“Itu benar-benar sangat lucu songsaenim. Bayangkan saja kau bertemu dengannya di mimpi dan kau mencoba mencarinya. Dan saat kau menemukannya, kalian bertemu di taman dengan keadaanmu yang ....” Sunny tak bisa melanjutkan kata-katanya karena merasa geli mendengar cerita itu.
“Sunny-ah lihatlah ke luar! Namjachingumu tengah memperhatikan kita. Dia terlihat cemburu dengan kita.” Kata songsaenim Han mengalihkan pandangannya menuju pintu, memandang seorang namja tengah berdiri dan memperkatikan mereka dengan seksama.
Sunny membalikkan tubuhnya, beralih memandang songsaenimnya, “Itu bukan namjachinguku, itu rekan kerja satu timku. Kalau begitu saya pergi dulu, saya harus menemui kelain perusahaan kami.” Jelasnya pada songsaeimnya setelah berpanitan, dia segera menghampiri Junna. Saat akan menyapanya, tiba-tiba Junna berlalu pergi dan membuat Sunny bingung. ‘Tak biasanya Junna-ssi bersikap seperti itu padaku, apakah dia kesal karena soal pekerjaan itu?’ Sunny segera menyusul Junna, tapi tiba-tiba dia mesaka kesakitan di bagian perutnya. Sambil berjalan memegangi perutnya yang terasa sakit dan terus mengikuti Junna ke parkiran. Dia terus memegangi perutnya, namun ketika Junna melihatnya dia segera bersikap biasa sambil menahan rasa sakit.
Kini mereka tengah di dalam mobil menuju hotel Millennium Seoul Hilton Hotel,  mereka diam sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Junna sibuk mengemudikan mobilnya, sedangkan Sunny sibuk dengan dokumen yang sedang dia baca dan tangan kirinya meremas bajunya karena menahan sakit. Keringat dingin mulai keluar dari keningnya, sambil menahan rasa sakit dia berfokus pada dokumen yang ada di pangkuannya sekarang.
“Bagaimana kau akan mengatasinya?” tanya Junna memaacah keheningan.
“Ah, itu. Tapi apa yang dikomplain oleh tamu VIP itu?” tanya Sunny mencoba menutupi rasa sakitnya. “Kau memiliki air?” tanyanya lagi.
Junna menoleh, dia melihat yeoja itu berkeringat padahal ia telah menghidupkan AC-nya cukup dingin tetapi gadis itu berkeringat. ‘apakah dia sakit?’ bergumam. “Kau sakit? Coba lihat di dasbor, ada atau tidak?”
Sunny tidak menjawabnya dia mencari air, setelah menemukannya dia mengambilnya namun tak segera diminum. Junna yang melihat merasa bingung, sesekali dia memperhatikan apa yang Sunny lakukan. Sunny merogoh tas yang ada di pangkuannya, setelah menemukannya dia mengambilnya. Sebuah tabung kecil berisi obat, entah obat untuk apa. Junna yang melihat itu terkejut, ‘apakah dia benar-benar sakit? Tapi sakit apa?’ tanya Junna penasaran.
“Kau memiliki penyakit? Apakah kita perlu ke rumah sakit dulu?” tanya Junna khawatir melihat gadis itu meminum obatnya sambil menahan sakitnya. Setelah meminum obatnya gadis itu sedikit pulih, tetapi dia masih merasa kesakitan.
“Anni..” jawab Sunny lemah sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. “Mungkin ini karena aku sedang datang bulan, dan itu obat untuk pereda rasa sakit.” Katanya lagi sambil memegangi perutnya dan menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit.
“Oh, tamu itu bilang bahwa dia tidak bisa beribadah saat dia liburan. Oh ya, dan katanya dia tidak bisa makan daging babi. Begitulah katanya.” Jelah Junna sambil mengemudikan mobilnya.
“Oh begitu, itu bukan masalah yang besar. Aku kan bicara padanya, sebenarnya dia dari negara mana?” tanya Sunny.
“U.S.A.” jawab Junna singkat. Sunny hanya mengangguk mengerti.
Setelah cukup lama menebus jalanan kota Seoul yang mulai padat dengan orang-orang yang pulang kerja akhinya mereka sampai.  Jam seperti ini memang waktunya orang-orang untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Junna memarkirkan mobil, kemudian segera menuju hotel namun dia segera berbalik karena gadis yang tadi bersamanya tertinggal di belakang. Junna menghembuskan nafas berat dan menghampirinya yang tengah membawa dokumen dan tas ransel. Dia segera membawakan dokumen-dokumen yang tenah di bawa Sunny kemudian berjalan terlebih dahulu. Sunny yang melihat itu hanya tersenyum tipis dan dia merasa bahagia, ada seseorang yang memperhatikannya.
Mereka tengah berdiri di depan pintu dengan nomor 1093, kemudian menekan bel dan setelah menunggu cukup lama akhirnya pintu terbuka. Seorang wanita dengan pakaian sopan muncul dan mempersilahkan mereka masuk. Mereka mengikuti wanita itu masuk, mereka segera duduk setelah dipersilahkan. Wanita itu pergi untuk memanggil tamu VIP yang sedang ditunggu oleh mereka.
Seorang laki-laki paruh baya dan seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Mereka segera berdiri dan membungkuk memberi hormat, tapi laki-laki dan wanita paruh baya mengacuhkan mereka dan segera duduk secara berdampingan. Junna memulai percakapan dengan menanyakan kabar mereka.
“How are you, mr Smith and mrs. Smith? Kami dari perusahaan Global World, ingin berdiskusi dengan Anda.” Kata Junna sambil tersenyum, “Nama saya Junna Shin.” Kata Junna memperkenalkan diri. “And ini adalah rekan saya, Sunny Park.” Kata Junna menunjuk Sunny yang duduk di sampingnya.
Sunny tersenyum membenarkan, wanita paruh baya yang melihat ke arah Sunny menjadi penasaran. Apakah wanita itu adalah seorang muslim?
“Kau seorang muslim?” tanya mrs. Smirt, membuat semua mata pertuju padanya.
“Ya, apakah ada yang salah dengannya?”
“No, kami juga muslim sepertimu. Kalau begitu apa yang akan kau rekomendasikan destinasi wisata untuk kami?” tanya mr. John sambil memeluk istrinya.
“Saya merekomendasika sebuah kota di Seoul, yaitu Itaewon. Letaknya tak begitu jauh dari hotel ini, disana Anda dapat menemukan makanan halal dan juga dapat beribadah dengan tenang. Atau kita dapat pergi ke pulau Jeju, pulau itu merupakan pulau dengan keadaan alam yang indah. Beberapa restoran menyajikan makanan halal, dan Anda tidak perlu khawatir di beberapa wilayah terdapat masjid untuk kita melaksanakan sholat.” Jelas Sunny sambil tersenyum setelah selesai. Junna hanya memandangnya tak percaya karena dia baru melihat kemampuan gadis itu, memang benar apa yang dikatakan ketua dia benar-benar dapat mengambil hati orang lain dengan sangat mudah.
Pasangan suami istri itu saling berpandangan dan tersenyum, mereka mengangguk dengan ide Sunny. “Baiklah, kami akan memilih keduanya dan kami ingin kau yang menemani kami. Bagaimana?” tanya mr. John, sang istri mengusap kedua tangannya memohon. “Ayolah Sunny, temani kami. Kau itu sangat manis sekali.” Kata sang istri.
Sunny memandang Junna untuk menanyakan pendapatnya, Junna mengangguk memberi persetujuan. Namun bukan itu yang diharapkan oleh gadis itu, baginya tetap berada di rumah lebih baik dari pada harus pergi. Dia membuat alasan agar dia tidak menemani mereka. “Sorry, mr and mrs John. Sebenarnya saya ingin sekali, tapi besok saya harus kuliah.” Katanya dengan sopan.
“Tapi kau bisa meminta izin, bukan? Istriku ini sangat menyukaimu, dan dia juga merasa kau adalah anaknya. Karena kami belum juga dikaruniai seorang putri. Kalau begitu batalkan saja semuanya, kami akan segera kembali ke New York.” Kata mr Smith marah yang membuat semua yang ada di ruangan itu kaget dengan keputusannya, apalagi istrinya dia terlihat sangat kecewa dengan keputusan suaminya. Padahal dia sangat ingin bisa dekat dengan Sunny, tapi dia tidak memiliki keputusan lain dia harus menerimanya.
Junna tercengang, padahal setelah itu mr Smith akan menandatangani kontrak ratusan milyar dolar dengan perusahaan. Tapi sepertinya kontrak itu akan hilang begitu saja. Dia harus menghela nafas, sebagai penerus perusahaan bukannya memajukan dia malah akan menghancurkan perusahaan.
Junna dan Sunny berada dimobil, mereka hendak pulang karena hari sudah gelap. Junna sangat senang karena mereka akan menandatangani kontrak itu, setelah dia membujuk Sunny untuk mau ikut bersama mereka. Sedangkan Sunny, gadis itu terlihat murung. Gadis itu tak berbicara sedikitpun setelah kejadian itu, dia hanya diam memandang keluar jendela.
Tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit, bahkan wajahnya terlihat sangat pucat seperti hantu-hantu korea yang ada di film horor. Dia mencoba menyembunyikannya dari Junna, dia tahu bila Junna mengetahui keadaannya saat ini dia pasti akan bertanya dan itu sangat mengganggunya. Dia mencoba merogoh obat yang ada di dalam tas, setelah menemukannya dia mencoba membukanya. Tapi semua isinya keluar dan jatuh karena Junna yang tiba-tiba mengerem.
“Aisst, kenapa pengendara motor itu sangat ceroboh?!” seru Junna kesal ketika sebuah motor menyalipnya dengan kecepatan tinggi dan mobilnya hampir menabrak motor itu.
“Agggrh...” keluh Sunny saat semua obatnya jatuh dan menahan rasa sakit. Junna yang mendengar erangan gadis itu, menengok ke arahnya dan melihat gadis itu tengah memegangi perutnya yang terasa terpelintir-pelintir. Junna sangat panik dan segera menepikan mobilnya.
“Kau tidak apa-apa, Sunny-ah?” tanya Junna yang sekarang tengah memegang pundak gadis itu. Gadis itu tak menjawab, dia tetap memegangi perutnya sambil menunduk. Setetes darah jatuh di atas lengannya, dia segera menghapusnya dari hidungnya. Setelah dirasa bersih, dia menjawab degan tersenyum.
“Aku baik-baik saja, Junna-ssi.” Katanya seolah tidak terjadi apa-apa kemudian tersenyum kecut.
Junna menyadari hal yang janggal, melihat wajah gadis itu yang terlihat pucat dan .. tunggu darah mengalir keluar dari hidungnya. Kenapa denagn gadis ini, apa dia sedang menyembunyikan penyakitnya? Tanpa pikir panjang Junna segera mengambil tisu dan mengelap darah di hidung Sunny. “Sebenarnya apa yang kau sembunyikan, Park Sunny?!” tanya Junna emosi tapi juga sangat khawatir dengan keadaan gadis ini.
“Apa?” tanya Sunny bingung sambil memegangi tisue yang ada di hidungnya dan menahan sakit di perutnya. Kenapa ... kenapa dia harus sekhawatir ini padanya?
“Jangan bilang kau menyembunyikan penykit dari orang-orang?” tanya Junna mengira-ira. Setelah melihat ekspresi gadis itu, Junna menghembuskan nafas kasar. Dia benar-banar tak percaya dengan semua ini.
Perut Sunny semakin sakit dan dia benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya. “Bisakah kita ke rumah sakit, ku mohon?!” kata Sunny lemah nyaris tak terdengar
Junna menengok, dia melihat gadis itu benar-benar sangat lemah. Tanpa pikir panjang dia segera menyetir mobil menuju rumah sakit. Saat ini dia benar-benar sangat khawatir dengannya, padahal dulu bisa dibilang Junna tak mempedulikan satu orang pun apa lagi yeoja. Dia sangat membenci yang namanya yeoja. Pikirannya saat ini benar-benar panik, dia melajukan mobilnya dengan cepat, dia tidak ingin gadis yang ada di sampingnya kenapa-kenapa. Sesekali dia melihat ke arah gadis itu, “Bertahanlah ... sebentar lagi kita akan sampai.” Namun gadis itu telah tak sadarkan diri.

Junna segera keluar dari mobilnya dan menggendong wanita yang ada di sampingnya masuk ke rumah sakit. Dia sangat panik dengan gadis yang digendongnya. Gadis itu sangat lemah wajahnya sangat pucat. Junna mamanggil-manggil perawat agar mambantunya, dia mendengar gadis itu mamanggil-manggil nama seseorang.
“Umar-ssi... umar-ssi...” Sunny mengigau memanggil-manggil seorang pria di dalam gendongan Junna. Junna sedikit kecewa kenapa bukan namanya yang disebut oleh gadis itu. Kemudian beberapa perawat membawa pandu, Junna segera meletakkannya kemudian ikut mendorongnya menuju ruang rawat. Tepat di pintu ruang rawat Junna di hentikan oleh perawat yang tadi mendorong Sunny.
“Maaf tuan, anda sebaiknya tetap di luar. Dokter akan memeriksa pasien. Dan silahkan Anda selesaikan administrasi terlebih dahulu.” Kata perawat itu kemudian masuk dan menutup pintu.
Junna rasanya ingin menemani gadis itu untuk berjuang, ia sangat khawatir pada gadis itu. Ia tak bisa diam, ia memutuskan pergi untuk menyelesaikan administrasi kemudian kembali menunggu dokter keluar. Dia duduk di bangku depan gadis itu diperiksa, tak henti-hentinya dia panjatkan doa pada Tuhan agar gadis itu tidak kenapa-kenapa.
“Kenapa lama sekali..” kata Junna mengacak rambutnya frustasi, sudah tiga puluh menit dia menunggu tapi dokter belum juga keluar. Dia semakin cemas dengan keadaan gadis itu. Beberapa saat kemudian dokter keluar,  Junna yang melihat itu segera menghampiri.
“Ausi bagaimana dengan keadaan yeoja itu?” tanyanya cemas.
“Apakah kau keluarganya?”  Junna menggeleng. “Pasti kau namja chingunya. Begini tuan, kami perlu persetujuan Anda untuk operasi...”
Tanpa pikir panjang Junna meng-iya-kan, “Lakukan yang terbaik untuknya dan sembuhkan dia. Saya akan membayar berapa pun untuk itu!”
Dari mimik muka sang dokter, terlihat tidak enak hati untuk mengatakan yang sebenarnya. “Maaf tuan, operasi itu hanya untuk usus buntu saja. Dan untuk kanker perlu penanganan khusus.” Jelas dokter pada Junna, membuatnya terdiam. Dia berfikir ‘gadis itu memiliki kanker dan mungkin dia menyembunyikannya dari orang-orang’.
“Apakah kanker itu dapat di sembuhkan? Sudah berapa lama dia mengidap?” tanya Junna berusaha tegur.
“Apakah Anda tidak mengetahuinya?” Junna menggeleng pelan, kemudian dokter menjelaskan. “Nona Park telah mengidap cukup lama sekitar enam bulan yang lalu. Awalnya dia tidak tahu, dia mengira itu hanya sakit perut biasa tapi dia ditemukan pingsan di tepi jalan dan di bawa ke rumah sakit ini. Saat itu kondisinya lumayan parah, dan dia juga telah melakukan terapi untuk mengurangi kanker itu. Tapi satu bulan ini dia tidak melakukannya, padahal pihak rumah sakit telah menghubunginya.”

Setelah dokter menjelaskan itu semua dia segera masuk kembali, kemudian seorang perawat datang dan menyodorkan sebuah map dan menyuruhnya untuk tanda tangan. Setelah menandatangani, Junna segera mengembalikan map itu. Sang perawat menerimanya kemudian masuk ke ruang operasi.