Tiga
Sudah satu bulan Junna bekerja di
perusahaan nenek sebagai karyawan biasa, dan dia benar-benar telah dekat
dengan karyawan lain. Namun menurutnya ada satu karyawan yang benar-benar sulit
untuk diakrabi, dia merasa ada tembok pemisah yang sangat tebal dan tinggi
untuk mendekatinya. Benar, dia adalah Park Sunny, yang sejak awal memang telah
berbeda. Padahal awal Junna datang, dia mulai dekat tetapi kedekatannya tidak
semakin akrab, hanya dingin dan datar tidak ada kemajuan sama sekali. Yeoja itu
juga terlihat aneh saat waktu-waktu tertentu, dia pernah melihat yeoja itu
mengenakan sebuah pakaian yang aneh dan melakukan gerakan gerakan aneh tetapi
tetap di tempat. Dia menanyakan pada yang lain mereka juga tidak tahu, mereka
juga merasa sedikit takut dan aneh. Tapi mereka tetap mencoba bersikap biasa.
Setelah makan siang semua anggota
tim akan melakukan rapat mendadak, karena ada seorang claien yang tidak puas
dengan pekerjaan mereka. Mereka berkumpul di ruang rapat, namun seseorang belum
juga muncul padahal mereka sangat membutuhkan ide-ide cemerlang yang keluar
dari otaknya. Orang itu adalah Park Sunny yang saat ini tengah berada di
kampus, ketua tim terus mencoba menelfon yeoja itu. Junna yang melihat mereka
tengah pusing, mengusulkan untuk memulai rapat mendadak ini. Junna juga
mengusulkan ide-ide yang ada di dalam otaknya.
“Bagaimana kalau kita mengusulkan
untuk berpindah destinasi wisata? Bukankah dia mengeluhkan destinasinya yang
tidak sesuai dengan keinginannya?”
“Benar, lalu kemana rekomendasi yang
akan kamu ajukan?” tanya manager Go.
“Jeju island, bukankah itu tempat terindah
di korea?” Sokyung mengusulkan.
“Itu ide yang baik, tapi saat di
Gyeongsangbuk-cara dia komplain?” tanya Junna yang sedang melihat data
kelainnya. Semua mengangguk membenarkan, sekarang mereka tengah berfikir ulang
untuk kelain VIP mereka yang berasal dari luar negeri.
Breep...breeep....breep..
Ponsel manager yang berada di atas
meja bergetar, sebuah panggilan masuk dari Sunny. Ketua segera mengangkatnya
dan memarahi Sunny setelah tersambung.
“Ya! kenapa kau tidak mengangkat
teleponku sedari tadi!” seru ketua tim dengan nada tinggi membuat semua yang
ada di ruangan itu terloncat kaget dan merasa takut. Apa lagi Junna baru
pertama kali dia melihat ketua mereka semarah ini.
“Mianhaeyo, aku sedang ujian. Apa
ada masalah manager Go?” tanya Sunny dari seberang.
“Tentu saja ada, makannya aku
menghubungimu..” seru ketua tim kemudian me-loudspeker ponselnya.
“Oh, baiklah. Apa yang bisa ku
bantu?” mereka memandang ponsel tak percaya, di saat seperti ini dia masih bisa
bersantai sedangkan yang lain bekerja keras.
“Ya! kau masih bisa bersantai
sedangkan yang lain sedang bingung.” Seru ketua, kemudian menceritakan masalah yang sedang
dihadapi tim mereka. Sedangkan yang lain mendengarkan dengan seksama, sambil
mencari solusi untuk kehebohan ini.
“Oh baiklah, tenang saja setelah aku
selesai dengan kuliahku. Aku akan menyelesaikan itu.” Mata mereka tertuju pada
ponsel ketua, lagi-lagi mereka tidak percaya Sunny masih bisa bersantai dengan
keadaan ini.
“Ya! bagaimana kau akan menyelesai
kan itu semua?!” seru Junna kesal. Bukan saja Junna yang merasa kesal tetapi
semua yang ada di ruang rapat juga merasakan hal yang sama.
“Kau membuat gendang telingaku
pecah! Bukankah sudah kubilang aku yang akan mengurus itu, jadi tenanglah dan
tolong kirimkan data kelian VIP itu secara detail. Oh ya, dan tolong seseorang
menjemputku nanti kira-kira pukul tiga. Aku akan menemui kelain itu. Sekali
lagi meanhae, aku haru mengerjakan ujinku. Selamat bertemu!” seru Sunny dari
seberang.
“Benar-benar anak itu!” seru ketua
kesal, sedangkan yang lain menghela nafas. Mereka menganggap yeoja itu sedang
bercanda di situasi seperti ini. “Baiklah kita akhiri saja, biarkan nona Park
yang mengatasinya. Kita kerjakan saja yang lain. Junna-ssi?” seru ketua
memanggilnya.
“Ne?”
“Kau yang akan pergi bersamanya.”
Junna yang mendengar itu membulatkan matanya, sedangkan yang lain tersenyum
lega karena bukan mereka yang akan mengatasi masalah ini. Junna mengacak
rambutnya frustasi, memang berat tapi bagaimana dia harus memimpin perusahaan
ini di kemudian hari bila dia menyerah karena masalah seperti ini.
***
Junna tengah mengemudikan mobilnya
dengan lumayang cepat, disampingnya telah bertumpuk dokumen yang akan
didiskusikan dengan Park Sunny. Saat ini dia tengah menuju Sungkyunkwan
University, tempat yeoja itu berada sekarang. Dia sekilas melihat alroji yang ada
di tangannya yang menunjukkan pukul 14: 40, kemudian berfokus untuk menyetir.
Dia mempercepat laju mobilnya menyusuri jalanan kota Seoul yang cukup ramai. Tak
kurang dari sepuluh menit dia sampai, dia menunggu yeoja itu di dalam hingga
membuatnya bosan. Dia memutuskan untuk berkeliling mencari yeoja itu.
Sambil menikmati suasana kamus yang
tenang dia menyusuri setiap lorong, matanya tak henti-henti mencari sosok yeoja
itu. Sesekali dia menatap jam tangannya sambil terus mencari keberadaan yeoja
itu. Beberapa kali dia tersenyum simpul pada segerobol mahasiswi yang
menyapanya dan membicarakannya. Matanya tertuju pada sebuah ruangan yang cukup
luas, ia mendekat dan mencoba mengintipnya dari luar pintu. Terdapat sebuah
galeri seni yang di dalam terdapat cukup banyak kerajinan dan beberapa lukisan.
Tetapi matanya tertuju pada sebuah lukisan yang belum selesai, lukisan itu
bergambarkan wajahnya yang diselimuti dengan api biru. Membuatnya sangat
penasaran siapa yang melukisnya. Namun dia segera tersadar untuk segera mencari
yeoja itu dan segera membawanya pergi.
Sekarang dia menyusuri lorong
kembali, matanya menangkap sosok yeoja yang tak asing baginya. Dia mengenakan
baju tertutup dan tengah bercengkraman dengan akrab seorang dosen laki-laki.
Memang benar dia tengah melaksanakan ujian, itu didukung oleh teman-temannya
dan sedang berkonsentrasi mengerjakan ujin. Tunggu, Apakah yeoja ini memiliki hubungan
dekat dengan dosen itu? Atau jangan-jangan dia adalah .... jadi saat itu dia
dibuli karena dia memiliki kedekatan dengan dosen mereka?
Yeoja yang tengah diperhatika Junna,
memang benar dia adalah Park Sunny dan saat ini dia sedang berbicara pada
dosen. Bahkan sesekali Sunny tertawa sangat akrab, berbeda sekali saat dia
bersamanya.
“Lagi-lagi kau tertawa ketika ku ceritakan,
kisah cintaku.” Kata songsainim Han kemudian ikut tertawa. Setelah selesai
mengerjakan ujian, Sunny berniat pamit tapi songsaenim Han mengajak mengobrol
untuk menunggu yang lain selesai. Sunny memang telah dianggapnya sebagai
anaknya sendiri, meski kenyataannya dia tetaplah salah satu mahasiswi yang dia
ajar. Dia merasa Sunny mirip seperti putrinya yang telah hilang.
“Itu benar-benar sangat lucu
songsaenim. Bayangkan saja kau bertemu dengannya di mimpi dan kau mencoba
mencarinya. Dan saat kau menemukannya, kalian bertemu di taman dengan keadaanmu
yang ....” Sunny tak bisa melanjutkan kata-katanya karena merasa geli mendengar
cerita itu.
“Sunny-ah lihatlah ke luar!
Namjachingumu tengah memperhatikan kita. Dia terlihat cemburu dengan kita.”
Kata songsaenim Han mengalihkan pandangannya menuju pintu, memandang seorang
namja tengah berdiri dan memperkatikan mereka dengan seksama.
Sunny membalikkan tubuhnya, beralih memandang songsaenimnya, “Itu bukan namjachinguku, itu rekan kerja satu
timku. Kalau begitu saya pergi dulu, saya harus menemui kelain perusahaan kami.”
Jelasnya pada songsaeimnya setelah berpanitan, dia segera menghampiri Junna.
Saat akan menyapanya, tiba-tiba Junna berlalu pergi dan membuat Sunny bingung.
‘Tak biasanya Junna-ssi bersikap seperti itu padaku, apakah dia kesal karena
soal pekerjaan itu?’ Sunny segera menyusul Junna, tapi tiba-tiba dia mesaka
kesakitan di bagian perutnya. Sambil berjalan memegangi perutnya yang terasa
sakit dan terus mengikuti Junna ke parkiran. Dia terus memegangi perutnya,
namun ketika Junna melihatnya dia segera bersikap biasa sambil menahan rasa
sakit.
Kini mereka tengah di dalam mobil
menuju hotel Millennium Seoul Hilton Hotel,
mereka diam sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Junna sibuk
mengemudikan mobilnya, sedangkan Sunny sibuk dengan dokumen yang sedang dia
baca dan tangan kirinya meremas bajunya karena menahan sakit. Keringat dingin
mulai keluar dari keningnya, sambil menahan rasa sakit dia berfokus pada
dokumen yang ada di pangkuannya sekarang.
“Bagaimana kau akan mengatasinya?”
tanya Junna memaacah keheningan.
“Ah, itu. Tapi apa yang dikomplain
oleh tamu VIP itu?” tanya Sunny mencoba menutupi rasa sakitnya. “Kau memiliki
air?” tanyanya lagi.
Junna menoleh, dia melihat yeoja itu
berkeringat padahal ia telah menghidupkan AC-nya cukup dingin tetapi gadis itu
berkeringat. ‘apakah dia sakit?’ bergumam. “Kau sakit? Coba lihat di dasbor,
ada atau tidak?”
Sunny tidak menjawabnya dia mencari
air, setelah menemukannya dia mengambilnya namun tak segera diminum. Junna yang
melihat merasa bingung, sesekali dia memperhatikan apa yang Sunny lakukan.
Sunny merogoh tas yang ada di pangkuannya, setelah menemukannya dia mengambilnya.
Sebuah tabung kecil berisi obat, entah obat untuk apa. Junna yang melihat itu terkejut,
‘apakah dia benar-benar sakit? Tapi sakit apa?’ tanya Junna penasaran.
“Kau memiliki penyakit? Apakah kita
perlu ke rumah sakit dulu?” tanya Junna khawatir melihat gadis itu meminum
obatnya sambil menahan sakitnya. Setelah meminum obatnya gadis itu sedikit
pulih, tetapi dia masih merasa kesakitan.
“Anni..” jawab Sunny lemah sambil
menyandarkan tubuhnya di kursi. “Mungkin ini karena aku sedang datang bulan,
dan itu obat untuk pereda rasa sakit.” Katanya lagi sambil memegangi perutnya
dan menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit.
“Oh, tamu itu bilang bahwa dia tidak
bisa beribadah saat dia liburan. Oh ya, dan katanya dia tidak bisa makan daging
babi. Begitulah katanya.” Jelah Junna sambil mengemudikan mobilnya.
“Oh begitu, itu bukan masalah yang besar.
Aku kan bicara padanya, sebenarnya dia dari negara mana?” tanya Sunny.
“U.S.A.” jawab Junna singkat. Sunny
hanya mengangguk mengerti.
Setelah cukup lama menebus jalanan
kota Seoul yang mulai padat dengan orang-orang yang pulang kerja akhinya mereka
sampai. Jam seperti ini memang waktunya
orang-orang untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Junna memarkirkan
mobil, kemudian segera menuju hotel namun dia segera berbalik karena gadis
yang tadi bersamanya tertinggal di belakang. Junna menghembuskan nafas berat
dan menghampirinya yang tengah membawa dokumen dan tas ransel. Dia segera
membawakan dokumen-dokumen yang tenah di bawa Sunny kemudian berjalan terlebih
dahulu. Sunny yang melihat itu hanya tersenyum tipis dan dia merasa bahagia,
ada seseorang yang memperhatikannya.
Mereka tengah berdiri di depan pintu
dengan nomor 1093, kemudian menekan bel dan setelah menunggu cukup lama
akhirnya pintu terbuka. Seorang wanita dengan pakaian sopan muncul dan
mempersilahkan mereka masuk. Mereka mengikuti wanita itu masuk, mereka segera
duduk setelah dipersilahkan. Wanita itu pergi untuk memanggil tamu VIP yang
sedang ditunggu oleh mereka.
Seorang laki-laki paruh baya dan
seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Mereka segera berdiri dan
membungkuk memberi hormat, tapi laki-laki dan wanita paruh baya mengacuhkan
mereka dan segera duduk secara berdampingan. Junna memulai percakapan dengan
menanyakan kabar mereka.
“How are you, mr Smith and mrs.
Smith? Kami dari perusahaan Global World, ingin berdiskusi dengan Anda.” Kata
Junna sambil tersenyum, “Nama saya Junna Shin.” Kata Junna memperkenalkan diri.
“And ini adalah rekan saya, Sunny Park.” Kata Junna menunjuk Sunny yang duduk
di sampingnya.
Sunny tersenyum membenarkan, wanita
paruh baya yang melihat ke arah Sunny menjadi penasaran. Apakah wanita itu
adalah seorang muslim?
“Kau seorang muslim?” tanya mrs.
Smirt, membuat semua mata pertuju padanya.
“Ya, apakah ada yang salah
dengannya?”
“No, kami juga muslim sepertimu.
Kalau begitu apa yang akan kau rekomendasikan destinasi wisata untuk kami?”
tanya mr. John sambil memeluk istrinya.
“Saya merekomendasika sebuah kota di
Seoul, yaitu Itaewon. Letaknya tak begitu jauh dari hotel ini, disana Anda
dapat menemukan makanan halal dan juga dapat beribadah dengan tenang. Atau kita
dapat pergi ke pulau Jeju, pulau itu merupakan pulau dengan keadaan alam yang
indah. Beberapa restoran menyajikan makanan halal, dan Anda tidak perlu khawatir
di beberapa wilayah terdapat masjid untuk kita melaksanakan sholat.” Jelas
Sunny sambil tersenyum setelah selesai. Junna hanya memandangnya tak percaya
karena dia baru melihat kemampuan gadis itu, memang benar apa yang dikatakan
ketua dia benar-benar dapat mengambil hati orang lain dengan sangat mudah.
Pasangan suami istri itu saling
berpandangan dan tersenyum, mereka mengangguk dengan ide Sunny. “Baiklah, kami
akan memilih keduanya dan kami ingin kau yang menemani kami. Bagaimana?” tanya
mr. John, sang istri mengusap kedua tangannya memohon. “Ayolah Sunny, temani
kami. Kau itu sangat manis sekali.” Kata sang istri.
Sunny memandang Junna untuk
menanyakan pendapatnya, Junna mengangguk memberi persetujuan. Namun bukan itu
yang diharapkan oleh gadis itu, baginya tetap berada di rumah lebih baik dari
pada harus pergi. Dia membuat alasan agar dia tidak menemani mereka. “Sorry, mr
and mrs John. Sebenarnya saya ingin sekali, tapi besok saya harus kuliah.”
Katanya dengan sopan.
“Tapi kau bisa meminta izin, bukan?
Istriku ini sangat menyukaimu, dan dia juga merasa kau adalah anaknya. Karena
kami belum juga dikaruniai seorang putri. Kalau begitu batalkan saja semuanya,
kami akan segera kembali ke New York.” Kata mr Smith marah yang membuat semua
yang ada di ruangan itu kaget dengan keputusannya, apalagi istrinya dia
terlihat sangat kecewa dengan keputusan suaminya. Padahal dia sangat ingin bisa
dekat dengan Sunny, tapi dia tidak memiliki keputusan lain dia harus
menerimanya.
Junna tercengang, padahal setelah
itu mr Smith akan menandatangani kontrak ratusan milyar dolar dengan
perusahaan. Tapi sepertinya kontrak itu akan hilang begitu saja. Dia harus
menghela nafas, sebagai penerus perusahaan bukannya memajukan dia malah
akan menghancurkan perusahaan.
Junna dan Sunny berada dimobil,
mereka hendak pulang karena hari sudah gelap. Junna sangat senang karena mereka
akan menandatangani kontrak itu, setelah dia membujuk Sunny untuk mau ikut
bersama mereka. Sedangkan Sunny, gadis itu terlihat murung. Gadis itu tak
berbicara sedikitpun setelah kejadian itu, dia hanya diam memandang keluar
jendela.
Tiba-tiba perutnya terasa sangat
sakit, bahkan wajahnya terlihat sangat pucat seperti hantu-hantu korea yang ada
di film horor. Dia mencoba menyembunyikannya dari Junna, dia tahu bila Junna
mengetahui keadaannya saat ini dia pasti akan bertanya dan itu sangat mengganggunya.
Dia mencoba merogoh obat yang ada di dalam tas, setelah menemukannya dia
mencoba membukanya. Tapi semua isinya keluar dan jatuh karena Junna yang
tiba-tiba mengerem.
“Aisst, kenapa pengendara motor itu
sangat ceroboh?!” seru Junna kesal ketika sebuah motor menyalipnya dengan
kecepatan tinggi dan mobilnya hampir menabrak motor itu.
“Agggrh...” keluh Sunny saat semua
obatnya jatuh dan menahan rasa sakit. Junna yang mendengar erangan gadis itu,
menengok ke arahnya dan melihat gadis itu tengah memegangi perutnya yang terasa
terpelintir-pelintir. Junna sangat panik dan segera menepikan mobilnya.
“Kau tidak apa-apa, Sunny-ah?” tanya
Junna yang sekarang tengah memegang pundak gadis itu. Gadis itu tak menjawab,
dia tetap memegangi perutnya sambil menunduk. Setetes darah jatuh di atas
lengannya, dia segera menghapusnya dari hidungnya. Setelah dirasa bersih, dia
menjawab degan tersenyum.
“Aku baik-baik saja, Junna-ssi.”
Katanya seolah tidak terjadi apa-apa kemudian tersenyum kecut.
Junna menyadari hal yang janggal,
melihat wajah gadis itu yang terlihat pucat dan .. tunggu darah mengalir keluar
dari hidungnya. Kenapa denagn gadis ini, apa dia sedang menyembunyikan
penyakitnya? Tanpa pikir panjang Junna segera mengambil tisu dan mengelap darah
di hidung Sunny. “Sebenarnya apa yang kau sembunyikan, Park Sunny?!” tanya
Junna emosi tapi juga sangat khawatir dengan keadaan gadis ini.
“Apa?” tanya Sunny bingung sambil
memegangi tisue yang ada di hidungnya dan menahan sakit di perutnya. Kenapa ...
kenapa dia harus sekhawatir ini padanya?
“Jangan bilang kau menyembunyikan
penykit dari orang-orang?” tanya Junna mengira-ira. Setelah melihat ekspresi
gadis itu, Junna menghembuskan nafas kasar. Dia benar-banar tak percaya
dengan semua ini.
Perut Sunny semakin sakit dan dia
benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya. “Bisakah kita ke rumah
sakit, ku mohon?!” kata Sunny lemah nyaris tak terdengar
Junna menengok, dia melihat gadis
itu benar-benar sangat lemah. Tanpa pikir panjang dia segera menyetir mobil menuju rumah sakit. Saat ini dia benar-benar sangat khawatir dengannya, padahal
dulu bisa dibilang Junna tak mempedulikan satu orang pun apa lagi yeoja. Dia
sangat membenci yang namanya yeoja. Pikirannya saat ini benar-benar panik, dia
melajukan mobilnya dengan cepat, dia tidak ingin gadis yang ada di
sampingnya kenapa-kenapa. Sesekali dia melihat ke arah gadis itu, “Bertahanlah
... sebentar lagi kita akan sampai.” Namun gadis itu telah tak sadarkan diri.
Junna segera keluar dari mobilnya
dan menggendong wanita yang ada di sampingnya masuk ke rumah sakit. Dia sangat
panik dengan gadis yang digendongnya. Gadis itu sangat lemah wajahnya sangat
pucat. Junna mamanggil-manggil perawat agar mambantunya, dia mendengar gadis
itu mamanggil-manggil nama seseorang.
“Umar-ssi... umar-ssi...” Sunny
mengigau memanggil-manggil seorang pria di dalam gendongan Junna. Junna sedikit
kecewa kenapa bukan namanya yang disebut oleh gadis itu. Kemudian beberapa
perawat membawa pandu, Junna segera meletakkannya kemudian ikut mendorongnya
menuju ruang rawat. Tepat di pintu ruang rawat Junna di hentikan oleh perawat
yang tadi mendorong Sunny.
“Maaf tuan, anda sebaiknya tetap di
luar. Dokter akan memeriksa pasien. Dan silahkan Anda selesaikan
administrasi terlebih dahulu.” Kata perawat itu kemudian masuk dan menutup
pintu.
Junna rasanya ingin menemani gadis
itu untuk berjuang, ia sangat khawatir pada gadis itu. Ia tak bisa diam, ia
memutuskan pergi untuk menyelesaikan administrasi kemudian kembali menunggu
dokter keluar. Dia duduk di bangku depan gadis itu diperiksa, tak
henti-hentinya dia panjatkan doa pada Tuhan agar gadis itu tidak kenapa-kenapa.
“Kenapa lama sekali..” kata Junna
mengacak rambutnya frustasi, sudah tiga puluh menit dia menunggu tapi dokter
belum juga keluar. Dia semakin cemas dengan keadaan gadis itu. Beberapa saat
kemudian dokter keluar, Junna yang
melihat itu segera menghampiri.
“Ausi bagaimana dengan keadaan yeoja
itu?” tanyanya cemas.
“Apakah kau keluarganya?” Junna menggeleng. “Pasti kau namja chingunya.
Begini tuan, kami perlu persetujuan Anda untuk operasi...”
Tanpa pikir panjang Junna
meng-iya-kan, “Lakukan yang terbaik untuknya dan sembuhkan dia. Saya akan
membayar berapa pun untuk itu!”
Dari mimik muka sang dokter,
terlihat tidak enak hati untuk mengatakan yang sebenarnya. “Maaf tuan, operasi
itu hanya untuk usus buntu saja. Dan untuk kanker perlu penanganan
khusus.” Jelas dokter pada Junna, membuatnya terdiam. Dia berfikir ‘gadis itu
memiliki kanker dan mungkin dia menyembunyikannya dari orang-orang’.
“Apakah kanker itu dapat di
sembuhkan? Sudah berapa lama dia mengidap?” tanya Junna berusaha tegur.
“Apakah Anda tidak mengetahuinya?”
Junna menggeleng pelan, kemudian dokter menjelaskan. “Nona Park telah
mengidap cukup lama sekitar enam bulan yang lalu. Awalnya dia tidak tahu,
dia mengira itu hanya sakit perut biasa tapi dia ditemukan pingsan di tepi
jalan dan di bawa ke rumah sakit ini. Saat itu kondisinya lumayan parah, dan
dia juga telah melakukan terapi untuk mengurangi kanker itu. Tapi satu bulan
ini dia tidak melakukannya, padahal pihak rumah sakit telah menghubunginya.”
Setelah dokter menjelaskan itu semua
dia segera masuk kembali, kemudian seorang perawat datang dan menyodorkan
sebuah map dan menyuruhnya untuk tanda tangan. Setelah menandatangani, Junna
segera mengembalikan map itu. Sang perawat menerimanya kemudian masuk ke ruang
operasi.