Empat
“Jangan mendekat! Pergi..... pergi!
Ku mohon jangan mendekat!” seru seorang gadis dalam tidurnya. Dia terus meronta
dan mengigau agar jangan mendekat dan menyuruh pergi. Wajahnya menjadi pucat
pasi, padahal sebelumnya wajahnya berseri meski dia baru beberapa jam telah
melewati operasi usus buntunya.
Seorang laki-laki yang tengah tidur
di sampingnya dalam posisi duduk terbangun karena mendengar suara berisik. Dia
terkejut mendapati gadis yang sedang dijaganya mengigau dan meronta-ronta.
Junna mencoba membangunkan gadis itu dari mimpi.
“Sunny-ya! sunny-ya!” seru Junna
panik sambil mengguncang tubuh gadis itu agar bangun. Gadis itu terbangun
kaget, wajahnya benar-benar pucat wajahnya memburu dan wajahnya dipenuhi
keringat padahal AC menyala cukup dingin. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya
kemudian.
Sunny belum menjawab pertanyaan
Junna, dia masih mengatur nafasnya dan menenangkan diri. Kemudian dia tersenyum
sambil mengangguk, tanda dia baik-baik saja. Junna membantu gadis itu untuk
duduk. “Gumawo... Junna-ssi.”
Junna duduk di kursi samping ranjang
gadis itu, “Ne. Hati-hati, jahitanmu belum kering.”
“Ah, nde. Apa dokter memberi tahumu
tentang ...” pertanyaan Sunny terputus saat seorang perawat datang untuk
mengecek keadaannya. Mereka hanya diam saat perawat itu tengah mengecek Sunny.
Setelah perawat itu selesai alangkah terkejutnya Sunny saat mendengar perkataan
dari sang perawat.
“Nona Park, keadaan Anda telah
membaik. Kemungkinan satu atau dua hari lagi Anda boleh pulang.” Kata perawat
setelah menstabilkan cairan infus. “Beruntung sekali Anda nona, Anda memiliki
kekasih yang menjaga anda dan perhatian. Apalagi dia sangat tampan.” bisik
perawat itu.
Sunny yang mendengar itu memerah,
‘tunggu kenapa pipiku terasa panas’. Kemudian dia melirik Junna yang tengah
memperhatikan dirinya, “Anni, dia rekan kerjaku. Kami hanya teman satu kantor
dan ..”
“Kami baru saja menjalinnya beberapa
waktu yang lalu.” Kata Junna yang tahu maksud dari perkataan sang perawat.
Sunny yang melihat itu melotot tak percaya dengan apa yang dikatakan Junna.
Sang perawat tersenyum, kemudian
pamit. “Ah bagus kalau begitu, jaga yeoja chingumu baik-baik, tuan.” Kata sang
perawat itu saat berjalan melewati Junna, Junna mengangguk mengerti.
Junna kemudian mengalihkan
pandangannya ke arah Sunny setelah perawat itu keluar. Gadis itu masih
menatapnya dengan tak percaya, dia menghembuskan nafas kasar kemudian berjalan
mendekat. “Kau sangat lucu dan juga manis saat kau marah?” Junna mengacak
rambut gadis itu lembut.
Sunny hanya menghela nafas kesal,
kemudian tersenyum pada Junna dan merapikan rambutnya yang acak-acakan karena
ulah Junna. “Ah, terserah kau saja Junna-ssi. Tapi aku tetap berterimakasih
padamu karena kau telah menjaga ku semalaman.”
“Tentu saja.” Kata Junna semangat,
“Dimana tempat tinggalmu? Aku akan membawa keperluanmu kemari.” Sunny menatap
Junna tajam, “Aku hanya ingin membawa perlengkapanmu saja, tidak bermaksud
apa-apa.” Kata Junna melanjutkan.
“Oh, baiklah. Setalah pulang kantor,
aku akan segera ke sini dan membawakanya.” Kata Junna setelah Sunny memberitahu
tempatnya tinggal. “Kalau begitu aku permisi dulu. Jaga dirimu saat aku tidak
ada.” Kata Junna bangkit kemudian mengacak gemas rambut gadis itu.
“Ya! jangan pegang kepalaku! Ini
rumah sakit, mana mungkin aku tidak baik-baik saja. Disini banyak perawat yang
sigap untuk mengecek keadaanku.” Kata Sunny merapihkan rambutnya, dia baru
menyadari bahwa dia tak lagi mengenakan kerudung. ‘Ini adalah terakhir kali aku
tak mengenakannya,’ batinnya.
“Oh dan satu lagi, bisakah kau
memanggilku Oppa. Itu terdengar lebih baik dari pada Junna-ssi.” Wajah Junna
tepat berada di depan wajah gadis itu yang sedang melamun. Gadis itu terkesiap
sambil memegang dadanya saat matanya tepat menatap mata Junna yang berada
tepat di depan wajahnya. Entah sejak kapan Junna berada di depan gadis itu.
“Astohfirulloh...” seru Sunny
terloncat sambil memegang dadanya karena terkejut. “Ya! kenapa kau tiba-tiba
menatapku seperti itu, Junna-ssi.”
“Mian, bukankah kau kusuruh
memanggilku Oppa. Aku kan lebih tua darimu tiga tahun.” Kata Junna menjauhkan
wajahnya. “Kau ingin makan sesuatu? Kalau iya, nanti akan ku bawakan. Tapi tunggu sampai
kau buang angin, anak manis!” Junna mencubit hidung gadis itu dengan gemas.
“Appo, kau jahat sekali Junna-ssi.
Upss mianhe Oppa. Kau jahat sekali!!” kata Sunny memegang hidungnya, takut
akan dicubit lagi.
“Nah itu kan lebih baik. Kalau
begitu aku pergi dulu Sunny.” Junna mencium kening gadis itu kemudian pergi.
Sunny sangat terkejut atas perlakuan Junna padanya, ia seketika membeku dan
merasakan debaran jantungnya yang tak menentu. Sedangkan Junna, dia tersenyum
bahagia. Seolah dia baru mendapatkan lotre yang selama ini dia inginkan. Meski
orang yang di sekelilingnya memandangnya aneh karena tersenyum-senyum sendiri
dia tak peduli. Karena hari ini hatinya benar-benar sangat bahagia.
Sebelum Junna masuk kantor dia terlebih
dulu pulang ke apartemen mewahnya, untuk mandi dan berganti pakaian. Meski rasa
lelah menjalar tubuhnya, dia tetap masuk kerja. Bisa dibayangkan dia baru saja
tidur dua jam yang lalu, dan ia terbangun karena orang yang di jaganya terbangun
tepat pukul enam. Dan dia juga harus masuk, bagaimana dia akan menjalankan
perusahaan keluarganya suatu saat nanti bila dia malas dan egois.
Saat Junna telah sampai di kantor,
ketua tim menyuruhnya untuk bertemu presdir yang tak lain adalah nenek kandungnya
sendiri. Dia segera meletakkan tas kerjanya dan berjalan ke ruangan neneknya.
Setelah berada di depan ruangan, ia berkonfirmasi pada sekretaris nenek.
“Sekretaris Dan, apakah presdir ada?”
tanya Junna sopan, meski dia adalah cucu dari pemilik perusahaan ini dia harus
bersikap sopan pada siapa saja. Karena orang-orang tak tahu jati dirinya yang
sebenarnya.
“Ah, Anda dari tim pariwisata?”
tanya sekretaris Dan memastikan, Junna mengangguk membenarkan. “Anda telah
ditunggu oleh presdir. Silahkan masuk.” Kata sekretaris Dan membukakan pintu
untuk Junna, setelah pemuda itu telah masuk pintu segera ditutup.
Junna berjalan mendekati nenek yang duduk di sofa, dia menjatuhkan tubuhnya kasar ke sofa. Dia baru
menyadari bagaimana susahnya mencari uang, meski selama ini dia selalu diberi
uang saku setiap bulannya melebihi gajinya. Dihenbuskannya nafas kasar kemudian
membenarkan posisi duduknya.
“Halmoni, memanggilku? Tak
biasanya.” Kata Junna singkat.
“Ya! bocah nakal ini!” kata nenek
Shin dan memukul kepala Junna cukup keras membuatnya meringis kesakitan. “Lihat
ini!” seru nenek Shin melempar sebuah amplop coklat besar ke atas meja. Junna
segera mengambil dan melihat isinya. “Untuk apa uang sebanyak itu kau tarik
dari rekeningmu, tuan Shin. Bukan masalah besar kau memakainya, tapi untuk apa.
Apakah uang yang selama ini halmoni berikan untukmu kurang? Sehingga kau
menarik uang yang seharusnya untuk masa tuamu kelak!” kata nenek Shin
menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sebenarnya dia tak perlu marah-marah pada cucuk
kesayangannya ini, dia hanya terlalu khawatir dengan tingkah cucunya yang
membuatnya semakin pusing. Tidak di korea tidak di New York, cucunya selalu
membuatnya pusing.
“Mianhae halmoni, sebenarnya aku
tidak ingin menggunakannya. Tapi...” belum sempat Junna menyelesaikan
penjelasannya, neneknya sudah memotongnya.
“Tapi apa! Kau menggunakannya untuk
pergi ke klub dan tidur bersama wanita malam. Bukan?” kata nenek yang sudah
tidak dapat membendung amarahnya. “Kau tak bisa meninggalkan kebiasaan lamamu
di New York, begitu!” nenek memijat keningnya yang sakit karena cucuk
satu-satunya ini.
“Bukan begitu halmoni, aku sudah
berusaha berubah demi halmoni dan juga..” dia berhenti berbicara, bukan saatnya
dia mengatakan perasaannya pada neneknya tentang gadis itu. “Uang itu akan ku
ganti dengan.... gajiku sampai lunas dan juga aku rela tidak mendapat jatah
uang saku dari nenek lagi.”
“Baiklah kalau itu keinginanmu, aku
setuju. Dan segera pulang. Kuberi waktu tiga hari untuk kau berkemas.” Ancam
nenek Shin.
Junna yang mendengar itu kaget,
kenapa dia harus pulang dan meninggalkan apartemennya. “Anni, aku tidak akan
pulang. Aku lebih nyaman di apartemen dari pada di rumah.”
“Wae? Bagaimana dengan uang sewa
yang akan kau bayarkan. Junna-ya?” tanya nenek memojokkannya.
Junna yang mendengarkan itu agak
bingung, bukankah dia bisa membayar dengan gajinya selama bekerja? “Gajiku!” kata Junna tegas.
“Kau sudah lupa, gajimu itu untuk
membayar hutangmu itu. Lalu bagaimana kau akan makan, tempat tinggal saja kau
tidak pinya. Kau mau menggelandang di jalan?” kata nenek meremehkan.
Junna diam, sedangkan nenek
memandangnya tajam untuk mendapat jawaban. Junna menggenggam kuat gelang yang
melingkar di tangannya, “Baiklah akan ku turuti perintah halmoni, tapi bisakah
aku menggunakan kartu kredit untuk beberapa kali saja. Kumohon!” kata Junna
memandang neneknya memelas.
“Kau bisa memakainya sampai kapan
pun. Tapi akan ku tarik kartu itu bilau kau menggunakannya semena-mena lagi!”
ancam nenek Shin.
***
“Yeboseyo?” kata Sunny setelah menggeser
di ponsel touch skrinnya.
“Shin Junna.” Jawab orang yang ada
di seberang telepon.
“Oh, ne. Ada apa Junna-ssi?” tanya
Sunny merasa aneh karena tidak biasanya Junna menelponnya. “Apa ada suatu
masalah di kantor?”
“Anni. Ya! bukankah ku suruh untuk
memanggilku Oppa? Dasar gadis jelek ini.” kata Junna sedikit meninggikan
suaranya seolah marah.
“Mianhae, Junna-ssi. Maaf Junna
oppa. Ada apa menelphonku?” tanya Sunny sedikit tersenyum. “Ah, ne.
2443423, jangan membongkar apapun selain
yang di perlukan. Arraso?”
“Ne, arraso. Kau sedah makan?”
Tut...tut...tut
“Astohfirulloh, kenapa bisa lobet
begini. Pati oppa akan memarahiku setelah dia sampai.” Kata Sunny menunjuk
nunjuk ponsel yang mati kemudian meletakkan di meja dengan kasar tanpa
mencoba untuk mencarger. Dia berbaring sambil memandangi sekelilingnya. Dia
merasa sangat bosan seharian di dalam ruangan apa lagi tak ada yang dapat untuk
diajak bicara lengkap sudah penderitaannya. Dia bangkit dan membawa tempat infusnya, mencoba untuk menyelinap keluar. Dia mengintip di balik pintu untuk mengecek agar tidak ada suster yang
memergoki setelah dirasa aman ia segera keluar dan mencoba bersembunyi bila
ada suster atau dokter yang lewat.
Taman rumah sakit, itu adalah
tujuannya saat ini. Dia segera duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon
besar. Sebenarnya apa yang menariknya untuk berkunjung di tempat ini? Langit,
benar. Itu tujuannya, untuk melihat langit biru secara langsung dan menghirup
udara segar. Saat ia merasa rindu pada kampung halamannya, ia selalu
menyempatkan untuk berkunjung ke taman manapun yang ia temui ketika dia merasa
ridu.
***
“Astaga! Kenapa dengan gadis ini.
Belum selesai aku bicara, dia sudah mematika sambungan secara sepihak.
Benar-benar gadis aneh plus misterius.” Seru Junna saat telah berada di depan
flat milik Sunny. Setelah memasukkan paswordnya, dia segera membukanya dan
masuk. Kesan pertama ketiha dia mulai memasuki ruangan yang hanya ada satu
ranjang , ruang tamu dan dapur menjadi satu adalah rapi. Meski menurutnya
sempit tapi terkesan rapih dan nyaman. Dia berjalan ke lemari pakaian dan
menganbil beberapa pakaian kemudian dimasukkan ke dalam tas yang ada di dalam
lemari. Tapi matanya menangkap sebuah benda yang menurutnya menarik. Dia
mengambil sebuah foto yang terbingkai dengan dindah di meja samping tempat
tidur.
Senyuman tak pernah lepas dari
bibirnya, Junna memandangnya sangat intens mengira-ira apakah benar itu adalah
foto kecil gadis yang saat ini memenuhi hatinya. Foto itu terlihat ada dua
orang anak, yang satu anak perempuan yang kira-kira baru berusia beberapa bulan
sedang dicium oleh seorang anak laki-laki yang kira-kira sudah berusia 5 sampai
7 tahun. Dan fotolain yang membuatnya semakin mengenbangkan senyumannya adalah
ketika si gadis kecil yang telah tumbuh kembali dicium dipipinya oleh remaja
laki-laki dengan keadaan sigadi kecil berada di persawahan dan dengan keadaan
sangat kotor.
Setelah puas melihat-lihat seluruh
isi flat milik Sunny, Junna segera pergi tak lupa dia mengunci kembali flat
gadis itu. Saat telah selesai, tiba-tiba seorang ajumma datang dan membuatnya
kaget. Ia pun menyapanya dengan sopan, tapi ajumma itu terlihat sangat tidak
senang dengannya dan terlihat mencurigainya seperti pencuri.
“Annyonghaseo ajumma.” Sapa Junna
memberikan kesan pertama yang sopan pada wanita paruh baya memandangnya dengan
tajam.
“Annyong. Kenapa kau bisa masuk
kedalam flat milik nona Park?”
“Saya mengambilkan beberapa bajunya
karena dia sekarang dirawat dirumah sakit.”
“Benarkah itu? Kau bukan pencuri
yang sedang berpura-pura, bukan?” tanya ajumma menampakkan wajah seramnya,
membuat Junna sedikit takut.
“Anni, saya temannya. Bukan pencuri,
sungguh. Manamungkin ada pencuri setampan ini, ajumma.” Kata Junna berpose
cute. Ajumma itu mengangguk-angguk membenarkan.
“Baiklah saya percaya, kalau begitu
kau adalah kekasih dari nona Park. Bukan begitu??” tanya ajumma, membuat Junna
kaaget sekaligus senang.
“Hubungan kami belum sedekat itu,
saya hanya sedang mencoba mendekatinya. Oh iya, perkenalkan nama saya Shin
Junna.” Kata Junna menduk hormat.
“Saya Ah Jikyung. Tadi kau bilang
nona Park dirawat dirumah sakita. Apakah keadaanya parah?”
“Anni, dia terkena usus buntu dan
telah dioperasi.”
“Oh,begitu. Kalau begitu tolong jaga
nona Park baik-baik, dia tidak memiliki keluarga di Korea.” Kata ajumma sedih.
“Kalau begitu saya permisi dulu, saya harus mengecek yang lain.” Kata ajumma Ah
pamit.
Junna menunduk hormat, kemudian dia
juga pergi menuju rumah sakit dimana Sunny sedang dirawat dengan mobilnya.
Setelah sampai, ia membawa tas yang ada di samping kursi pengemudi. Saat dia
akan masuk, dia melihat seorng gadis tengah duduk di kursi taman dengan pakaian
rumah sakit. Dia segera menghampirinya dan benar saja gadis itu adalah Sunny.
Apa yang sedang dia lakukan disini?
“Hay!”
Suara itu mengagetkan Sunny yang
tengah duduk sambil memandang ke atas. Ia segera menoleh dan didapatinya
seorang laki-laki tengah berdiri di sampingnya sengan jas hitam yang membuatnya
terlihat penasaran. Ditengadahkan kepalanya menatap wajah laki-laki yang
familiar, dia adalah Shin Junna dengan membawa sebuah tas yang lumayan besar
sambil berdecak pinggang.
“Annyong...” sapa Sunny
menganggukkan kepalanya, menyadari laki-laki yang tengah menatapnya kesal
karena hal tadi. Junna segera duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di
bahu Sunny. Saat Sunny ingin menggeser tubuhnya Junna menahannya agar Sunny
tetap diam.
“Tetaplah seperti ini untuk beberapa
saat lagi....” pinta Junna lembut, Sunny hanya diam tanpa bergerak dari
duduknya. Junna yang mengetahui perkataannya didengar tersenyu kemudian
memejamkan matanya. Entah kenapa dia sangat nyaman saat berada di dekat
dengannya. Kemudian segera mengangkat kepalanya dan duduk dengan benar. “Ah,
kenapa kau sangat tegang segang sekali?”
“Apa?” tanya Sunny tersadar dari
lamunannya. “Mianhae, apa yang tadi Oppa bicarakan?”
“Ah, kau ini!” ucap Junna beralih
mengacak rambut Sunny dengan sayang. Sunny segera merapihkan rambutnya yang
acak-acakan karena ulah Junna. “Kenapa kau sudah berada di luar, hah?” tanya
Junna memandang wajah Sunny yang juga tengah menatapnya.
Sunny segera memandang ke arah yang
lain ketika mata keduanya bertemu. “Ah, itu karena ....” belum sempat Sunny
menjelaskan tiba-tiba seorang sester menghampiri mereka.
“Rupanya kau di sini nona Park.”
Kata suster itu membuat Junna dan Sunny menoleh. “Kami mencarimu sedari tadi.
Ini sudah waktunya untuk pengecekan dan juga anda harus melakukan terapi.”
“Ne.” Jawab Sunny, dia perlahan
bangkit dengan hati-hati dengan dibantu Junna dan suster. Dia dipapah oleh
suster dengan hati-hati menuju ruang terapi kanker, sedangkan Junna mengikuti
dibelakannya dengan membawa tas milik gadis itu dan sebuket bunga mawar putih.
Sebenarnya Junna ingin menemani gadis itu, tapi suster melarangnya karena
tempat itu harus seteril. Junna pun menuruti perkataan suster, kemudian dia
pamit pergi menuju kamar Sunny. Dia menaruh bunga itu ke dalam fas dan
tersenyum memandanginya.
Setelah satu jam pemeriksaan akhirnya Sunny selesai
melakukan terapi dan surter membantunya menuju kamar perawatan, awalnya gadis
itu sangat senang karena akan bertemu dengan Junna lagi. Tapi sesampainya di
kamar dia tak menemukan sosok yang dia cari-cari hanya ada ruang kosong.
Setelah suster membantunya berbaring, suster berpamitan pergi. Dia merasa
kecewa, sebelumnya dia sangat senang karena ada seseorang yang menghawatirkan
keadaannya, tapi ternyata tidak.