Shin Junna telah berada di kantor
tepat waktu, matanya mencari sosok wanita misterius yang kemarin dia temui
padahal jam kerja sudah lewat dari tadi tetapi wanita itu belum juga
menampakkan batang hidungnya. Dengan sedikit ragu dia memberanikan diri untuk
menanyakan tentang Sunny pada manager yang berada di ruangan. Dia mengetuk
pintu ruangan, setelah dipersilahkan dia segera masuk dengan membawa dokumen.
Dia meletakkan dokumen itu di meja, dia ragu apakah akan menanyakannya atau
tidak. Dengan sedikit paksaan dari dalam dirinya dia memberanikan diri untuk bertanya.
“Permisi manager Go, bolehkah saya
bertanya sesuatu?”
“Silahkan. Apa yang ingin kamu tangyakan?”
“Begini, saya melihat meja milik
Sunny-ssi kosong apakah dia sakit?” tanya sedikit ragu.
Manager Go tertawa, Junna semakin
bingung dengan tim ini membiarkan bawahannya seenaknya sendiri. Tanpa ada teguran
dan pemecatan pada pegawainya.
“Dia adalah pegawai lepas, jadi
wajar dia jam segini belum berangkat. Mungkin dia tidak akan berangkat.”
Jelasnya pada Junna.
“Waeyo?” tanya Junna bingung.
“Dia masih kuliah, Presdir yang
membiayainya bahkan dia bekerja di perusahaan ini atas perintah dari Presdir.
Mungkin para pegawai yeoja di perusahaan ini sangat iri padanya, apa lagi dia
mendapatkan gaji penuh seperti pegawai lain.”
“Jadi hal...jadi Presdir yang
mempekerjakannya? Wah senang sekali dia?” katanya meremehkan.
“Ya! jangan meremehkannya, meski dia
bukan orang asali tetapi dia sangat baik mengambil hati orang. Kau tahu saat
semua orang kewalahan menghadapi kakek tua VIP dari luar Korea, dengan mudah
dia menangani kakek tua itu. Sungguh dia sangat ahli untuk mengambil hati
orang.”
“Benarkah seperti itu?”
Manager Go mengangguk, “Kalau begitu
saya permisi, Pak.” Dia keluar ruangan dengan wajah yang masih terkejut.
Sepertinya penilaiannya terhadap Park Sunny sebagai wanita misterius harus
dihilangkan.
Semua pegawai kantor tengah makan
siang di cafetaria kantor tak terkecuali Junna, dia tengah mengantri untuk
mengambil makan siang. Dia mengambil seperlunya kemudian mencari meja yang
kosong, namun tak ada satu pun meja yang kosong yang dapat ia tempati
sendirian. Dia berjalan mencari bangku yang kosong, untung manager Go
memanggilnya dan menyuruhnya bergabung dengan rekan satu timnya.
“Ya! Shin Junna.” Seru ketua tim.
Junna yang sedang mencari bangku
yang kosong sambil membawa nampan berisi makan siangnya menoleh sumber suara,
“Ne, manager Go.”
“Kemari dan bergabunglah.”
“Ne.” Serunya kemudian
menghampirinya dan duduk di bangku yang masih kosong.
Mereka menyantap makan siang
masing-masing, kadang –kadang disertai
dengan candaan yang dibuat oleh manager Go atau oleh Im Sokyung. Junna sekarang
terlihat mulai akrab dengan tim barunya, bahkan sesekali dia membalas candaan
yang dibuat oleh ketua tim mereka. Tiba-tiba handphone milik manager Go
berdering, dia melihat siapa yang menelponnya. Dilayar tertulis Sunny Park,
sebelum mengangkatnya dia menyuruh bawahannya untuk dia.
“Ssst, diam! Nona Park menelponku.”
Serunya kemudian mengangkat panggilan.
“Ada apa, nona Park? Apa! Sekarang,
bagaimana ini kami sedang makan siang. Nanti kusuruh salah satu anak buahku
menjemputmu. Ne, jaga dirimu.”
Semua terlihat heran, kenapa tiba-tiba
Sunny menelpon manager Go. Nona Im segera mengajukan pertanyaan dengan
bertubi-tubi pada manager Go.
“Manager apa yang terjadi? Kenapa
tiba-tiba dia menelpon? Apa dia sakit? Kecelakaan ketika datang ke mari?” tanya
nona Im tanpa henti membuat semuanya bingung.
“Ya! anak ini brisik sekali. Nona
Im, jemput dia!” Perinta manager Go pada nona Im.
Nona Im segera menolaknya, “Anni ...
anni, mobil ku sedang di bengkel.” Katanya dengan cepat.
“Aissh, anak ini. bukankah tadi kau
yang sangat hawatir.” Menyindir.
“Benar, tapi mobilku sedang di
perbaiki.” Katanya membela diri.
Manager Go memandangi satu persatu
bawahannya semuanya menggeleng, sekarang giliran Junna yang di tatap. Bukan
hanya manager Go saja tapi semua rekan satu timnya menatapnya, menyuruhnya
untuk menjemput Sunny. Dengan nafas berat dia mengiyakan.
“Baiklah,” katanya dengan lemas.
“Oh ya, Junna-ssi. Bila kau pulng
nanti bawakan kami es krim yang terkenal
itu!” seru manager Go.
Junna mengira manager Go akan
berkata tidak usah, ternyata dia menyuruhnya untuk membelikan mereka es krim.
Memang mereka mengira Junna pelayan apa? Dengan langkah lesu Junna menghampiri
mobilnya, padahal hari ini adalah hari terpanas di Korea. Suhu diruangan saja
dapat mencapai 38ยบ C, apa lagi di luar yang tanpa AC.
Dia menyalakan AC mobilnya sedingin
mungkin untuk menghilangkan rasa panas kemudian dia menyalakan mobil dan
menjalankannya menuju Syungkyunkwan University. Dia dalam mobilnya dia membual
tentang Sunny, ‘Kenapa harus Aku yang menjemputnya! Bukankah dia bisa tidak
bolos saja dan pulang ke rumah kemudian bersantai. Bukannkan halmoni tetap
menggajinya dengan penuh bila di hari ini bolos?!’
Kini dia telah memasuki di gerbang
Syungkyunkwan University, semua orang menepi ketika mobilnya berjalan. Bukan
karena takut akan ditabrak oleh pemilik kendaraan tetapi mereka terpukau dengan
pemandangan di depannya, mobil sport keluaran terbaru dan terbatas dengan harga
US$700.000. Semuanya mengitari mobil Junna, untuk melihat siapa pemilik mobil
tersebut. Junna ke luar dari mobilnya dengan kaca mata hitamnya, para yeoja
terpukau dengan ketampanan Junna yang mampu menarik perhatian mereka.
Saat Junna tengah menunggu di luar
mobilnya sambil menyandarkan tubuhnya, beberapa yeoja memotret dan bergosip
tentannya. Dia mendengar beberpa yeoja ingin menjadi kekasihnya, dia tersenyu
simpul sambil memandangi sekelilingnya.
‘Kalian bukan tipe wanita yang ku
inginkan...’ lagi-lagi dia tersenyum meremehkan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah
SMS dari orang yang tak dikenal. Dia segera membukanya, dan langsung tahu siapa
pemilik nomor tersebut.
From: 11-0232-99623
Junna-ssi, kenapa kau yang
menjemputku!!!
To: 11-0232-99623
Ketua Go yang menyuruhku. Ya! kenapa
kau yang marah, seharusnya aku yang marah. Lalu darimana kau mendapat nomerku?!
Junna menungu jawaban dari Sunny,
tapi tak kunjung mendapat jawaban. Dia memutuskan untuk menelponnya, dengan
kesal dia menunggu tetapi belum diangkat. Setelah tersambung, dia segera
memarahinya.
“Ya! dimana Kau?! Cepatlah kemari!”
serunya dengan nada tinggi.
“Aku ada di atap. Aku...”
Junna segera memelankan suaranya
ketika sadar, mereka memandanginya dengan heran, “Cepat turun, jangan membuatku
menunggu.”
Tapi tidak ada jawaban, hanya bunyi
tut beberapa kali kemudian terputus, “Aisst, yeoja ini!” gerutunya dengan
kesal, kemudian memasukkan ponselnya kedalam saku celananya dan berjalan
menembus kerumunan. Dia mencari anak tangga, setelah berkeliling mencarinya
akhirnya dia menemukannya. Tanpa pikir panjang dia segera menaiki anak tangga
dengan cepat, “Awas lihat saja nanti, akanku balas dia!” gerutunya.
Setelah menaiki puluhan anak tangga
akhirnya dia sampai di temppat tertinggi bangunan itu. Dengan nafaas yang
terengah-engah, dia mencari Sunny tetapi yeoja itu tidak segera ia temukan. Dia
berteriak memanggilnya daengan kesal.
“Ya! Sunny-ssi. Dimana Kau!” serunya
di balik puntu.
“Siapa kau?!” seru Sunny sedikit
berteriak.
“Ini aku, Shin Junna.” Seru Junna
mencari sumber suara, setelah lumayan lama akhirnya dia menemukan yeoja yang
sedari tadi ia cari-cari. Yeoja itu tengah terduduk dengan kedua lututnya di
depan sambil menenggelamkan wajahnya di dalam kedua tangannya yang terlipat.
Dia mendekati yeoja itu perlahan, dia baru pertama kali melihatnya tanpa jilbab
yang setiap hari dia kenakan. Dia merasakan sesuatu yang aneh dengan dirinya,
padahal dia sering melihat yeoja menangis karena dirinya. Tetapi kenapa dia
merasa sedih ketika melihat yeoja itu dengan keadaannya saat ini.
“Kau tidak apa-apa, Sunny-ssi?”
tanyanya lirih, takut melukai hatinya. Tapi yeoja itu tidak mengeluarkan
sepatah katapun dari mulutnya. “Ayo pergi!” katanya lagi.
“Tinggalkan aku sendiri!” seru Sunny
tanpa memperlihatkan wajahnya.
Junna menjadi kesal, “Bukankah kau
menyuruhku untuk menjemputmu?!”kata Junna dengan kesal.
“Aku tidak menyuruhmu menjemputku!”
seru Sunny berjalan pergi dengan air mata yang berlinang tanpa memperdulikan
Junna.
“Ya! kau merepotkan sekali!” seru
Junna dengan kesal.
“Aku bisa pulang sendiri. Kenapa kau
repot-repot untuk menjemputku!”
“Manager menyuruhku!” Seru Junna
sambil berjalan membuntutinya dengan kesal. Dia melihat darah segar mengalir
melewati leher jenjang yeoja itu. Dia buru-buru mempercepat langkahnya untuk
mengimbangi langkah yeoja itu. Dia terkejut ketika melihat kening sebelah kiri
yeoja itu terluka dan berdarah, dia menghentikan langkah yeoja itu dengan
mencengkeram tangan kiri yoeja itu dan menariknya. Lantas yeoja itu terhenti
dan menoleh ke padanya.
“Kalian semua sama saja! Tidak
pernah menghargaiku, meski itu sangat kecil. Lepaskan tanganku!!” seru Sunny
dengan membuang tangannya.
“Apa maksudmu?”
Sunny menatap tajam Junna kemudian
memalingkan wajahnya dan beranjak pergi. Junna mencegahnya kemudian menatap
matanya dengan tajam, tapi Sunny memalingkan wajahnya dan enggan untuk menatap
mata namja yang ada di depannya. Junna mencoba mengrahkan wajah Sunny untuk
menatapnya lagi, mereka bertatapn cukup lama. Sunny mengalihkan pandangannya
dan berjalan ke tepi pembatas dan berdiri disana. Junna yang melihat itu merasa
hawatir, takut yeoja itu akan terjun, dan mendekatinya kemudian berdiri di
samping yeoja itu.
Junna menghembuskan nafas kasar,
“Seperti inilah hidup itu, kadang tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan.
Kita menginginkan A tetapi yang kita dapat B, kita hanya bisa berencana untuk
hari esok.”
Junna menoleh ke arah wanita yang ada di
sampingnya, dia meliahat Sunny tengah menangis. Semakin lama air matanya
semakin deras mengalir di pipinya, dia baru menyadari bagian dada perempuan itu
sedikit terbuka karena pakaian yang dikenakan telah compang-camping, entah
karena ulah siapa. Dia buru-buru melepas jasnya dan memakaikan pada tubuh Sunny.
Dia memegang tangan Sunny, Sunny mencoba menghindar tapi Junna mencengkram tangannya
dengan kuat.
“Diamlah, aku hanya ingin melihat
lukamu. Bukan ingin memakanmu.” Katanya dengan suara lembut.
Sunny hanya diam ketika merasakan
tangan Junna mencoba menyentuh keningnya, dia merisngis kesakitan ketika tangan
Junna tengah menyentuh keningnya. Junna buru-buru menarik tangannya. “Memang
benar apa yang telah kau katakan, Junna-ssi. Tapi kenapa ...kenapa orang-orang
tak bisa menghargiku? Padahal aku sudah sebisa mungkin untuk berbuat baik pada
mereka. Aku hanya ingin mereka menghargai aku sebagai seorang muslim.”
Tangis Sunny semakin menjadi membuat
Junna bingung, Junna memcoba menenangkannya dengan memasukkannya ke dalam
pelukannya. Junna baru pertama kali melihat Sunny menangis, padahal bila dilihat
wanita ini sangat kuat dan ternyata didalam dia sebenarnya sangat lemah dan
rapuh.
Junna menarik tangan Sunny pergi,
Sunny terdiam. “Wae?” tanya Junna bingung.
“Aku ... aku malu.” Katanya pelan.
“Wae? Bukankah bajumu sudah tertutup
dengan jasku.” Seru Junna meyakinkan.
“Iya, tapi...” Sunny terlihat ragu,
kemudian dia melanjutkan kata-katanya. “Aku ...aku tak terbiasa tak memakai
jilbabku, Junna-ssi.”
“Jilbab? Apa itu? Apa yang kau
kenakan setiap hari di kepalamu?” Sunny mengangguk. “Ayolah, ini bukan di
kutub. Ini korea dengan suhu yang panas saat musim panas. Sekali ini bukankah
tidak masalah?” Junna memandang gadis itu yang tengah menunduk, dia mengangkat
dagu gadi itu dan menghapus air mata yang membekas di kedua pipi dengan kedua
telapak tangannya, kemudian menggandengnya pergi.
Sunny hanya diam saat Junna membanya
menuju mobil, saat mereka sudah sampai di lobi Sunny berhenti dia ragu untuk
melewati kerumunan itu. Junna meyakinkan Sunny, dengan merangkulnya dan mencoba
melindungi tubuh yeoja yang ada di pelukannya saat ini. Mereka menembus kerumunan
dengan posisi yang sama dan menutupi wajah yeoja yang ada di pelukannya dengan
tangannya dan menyandarkan kepala yeoja itu ke dada bidangnya. Tubuh mereka
bersentuhan hanya dibatasi oleh baju yang mereka kenakan. Sunny dapat mendengar
detak jantung Junna dengan sangat jelas, matanya terpejam menghirup aroma
maskulin namja itu yang membuat pikirannya tenang.
Junna membuka pintu mobil di sebelah
pengemudi dan mendudukkan Sunny kemudian menutupnya kembali, sebelum dia
memasuk. Alat indranya mendengar beberapa yeoja tengah membicarakannya, mereka
menanyakan kebenaran apakah yeoja yang tadi adalah yeojacingunya. Kemudian
beberapa diantara mereka menjelek-jelekan Sunny. Junna hanya dapat berdecak
kesal mendengar rekan kerjanya sebagai bahan pembicaraan, kemudian dia segera
masuk dan menyalakan mobilnya. Mereka segera menyingkir dari jalan ketika Junna
menlakson dengan keras.
Tak ada pembicaraan di antara
mereka, Junna hanya terfokus untuk menyetir sedangkan Sunny, dia hanya diam memandang
lurus kedepan dan pikirannya terlihat kosong. Sesekali Junna memandangnya, dia
khawatir dengan keadaan yeoja itu sekarang. Junna menghentikan mobilnya di sebuah
besmen. Dia keluar dan membukakan pintu untuk Sunny.
“Ini dimana? Bukankah aku memintamu
untuk menjemputku ke kantor?” kata Sunny sambil melihat-lihat sekelilingnya
yang terlihat asing untuk dirinya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari
Sunny, Junna segera menarik tanganwanta
itu untuk mengikutinya. Sunny mencoba melepaskan cengkraman pada tangannya, dia
juga memukul-mukul tangan Junna agar melepaskannya tetapi usahanya tidak
berhasil. Junna tetap saja mencengkramnya dengan kuat, Junna dan Sunny masuk
lift dengan tangan Junna yang masih memegang tangannya.
“Bisakah kau sedikit melonggarkan
tanganmu atau melepaskannya?” Tanya Sunny memegangi tangannya yang kesakitan.
Junna segera melepasnya tanpa
berkata-kata, sekarang pintu lift terbuka Junna segera keluar dan diikuti oleh
Sunny. Junna terus berjalan dengan diikuti Sunny di belakang, Sunny terlihat
mulai tidak nyaman dengan baju yang dia kenakan apalagi itu menimbulkan bau
yang tidak enak. Dia menghela nafas frustasi, untung tidak ada seorang pun yang
melihatnya kecuali Junna pasti dia akan sangat malu.
“Junna-ssi, sebenarnya kau membawaku
kemana? Ini bukan hotel, bukan?” tanyanya saat Junna berdiri di depan pintu
yang terdapat nomor 113.
Junna membuka pintu kemudian masuk,
Sunny merasa ragu. Apakah dia akan masuk atau lebih baik pergi. Sunny berbalik
hendak pergi, tapi Junna segera menariknya masuk dan mendudukkannya di atas
sofa.
“Apa yang kau lakukan!” serunya saat
Junna mendekatinya.
Junna tidak menjawab dan terus
mendekat, Sunny ketakutan sedangkan Junna tersenyum. Senyumannya sulit untuk di
artikan oleh Sunny yang saat ini otaknya telah buntu. Sunny mendorang tubuh
Junna menjauh dan membuat Junna terjatuh di lantai.
“Ya! apa yang kau lakukan?!” seru
Junna kesal kemudian bangkit.
“Aku hanya ingin melindungi diriku.”
Seru Sunny sambil memegangi jas Junna yang ia pakai.
Junna tersenyum simpul, “Ya! Apa
yang kau pikirkan sebenarnya. Dasar paboya!” Dia tak percaya dengan kepolosan
Sunny, di zaman sekarang masih ada yeoja sepolos dirinya. Apalagi ini di Korea
dan dia masih bisa menemukan gadis sepolos dirinya. “Bersihkan dirimu terlibeh
dulu!” seru Junna kemudian.
“Tapi bajuku .....”
“Cepatlah, apa kau tidak meresa
risih?! Atau kau ingin ku mandikan, hah?” Junna mengedipkan sebelah matanya
mencoba menggoda wanita itu, “Ayo!” seru Junna dengan lembut.
Membuat wajah Sunny memerah karena
malu, ia segera menutupi bagian pipinya.
Tanpa menjawab dia segera berjalan ke kamar mandi, kemudian mengunci
rapat-rapat kamarmandi. Disandarkannya tubuhnya di balik pintu sambil memegangi
dadanya karena jantungnya berdetak tak seperti biasanya. Sedangkan Junna, dia
tersenyum lebar sambil menggeleng-geleng tak percaya di dunia ini masih ada
wanita sepolos itu.
Sunny menggantungkan jas Junna di
tempat gantungan baju, dia memandangi tubuhnya di depan cermin. Perlahan ia
mengangkat tangannya untuk menyentuh keningnya yang berdarah, tiba-tiba air
matanya mulai jatuh. Wajahnya sangat sedih dan marah, dia bersumpah akan
membalas perbuatan mereka. Setelah setengah jam Sunny berada di kamar mandi,
dia keluar dengan menggunakan baju handuk dan tengah mengeringkan rambut
panjangnya dengan handuk yang lain. Junna yang melihat itu terperangah, dia
baru pertama kali melihat melihat gadis itu tanpa kerudung yang melekat di
kepalanya. Junna segera sadar ketika Sunny memanggilnya.
“Junna-ssi..” serunya.
“Ne.” Serunya dengan nada gugup.
Sunny yang melihat ekspresi wajah
Junna sedikit tersenyum, “Apakah ada pakaian yang bisa ku gunakan?”
Junna tak menjawab, dia berjalan ke ruang
pakaian dan mencari sesuatu. “Ah ini dia!” serunya ketika menemukan sebuah
bungkusan kado, dia membukanya untuk mengeceknya kalau itu yang dia cari-cari.
Dia berjalan mendekati Sunny kemudian memberikannya.
“Ini apa?” tanya Sunny bingung.
“Itu adalah baju milik seseorang
yang ku kenal, mulanya. Pakaelah, semoga saja pas di tubuhmu.” Katanya dengan
wajah sendu.
Sunny membukanya, memang benar di
dalamnya adalah pakaian wanita. Dia kemudian memandang Junna, ‘mungkin ini
adalah baju untuk yeojachingunya’.
“Kau ingin berganti pakaian disini?”
tanya Junna lagi-lagi, membuat wajah Sunny memerah.
Sunny segera masuk kedalam kamar
mandi dan menutupnya, sedangkan Junna duduk di sofa menunggunya. Beberapa menit
kemudian pintu terbuka, tapi Sunny tak kunjung keluar. Yeoja itu hanya
mengeluarkan kepalanya sedangkan tubuhnya yang lain berada didalam.
“Apakah baju itu tidak muat di
tubuhmu?” Tanya Junna khawatir.
“Anni, tapi ..”
“Keluarlah! Kita harus segera
kembali ke kantor.” Seru Junna lagi.
Sunny perlahan keluar, dia terliahat
tidak nyaman dengan baju yang dia gunakan. Itu karena bagian dadanya sedikit
terekspos dan mempelihatkan badian dadanya yang selama ini ditutupiya dangan
rapat, sedangkan roknya lumayan menutupi panjang sehingga menutupi pahanya yang
putih. Dia terus saja memegangi bagian atasnya agar tak terlihat. Namun dia
terlihat lebih frash dan cantik dengan gaun yang di dominasi warna biru tuaitu.
Sedangkan Junna di benar-benar
tersihir dengan pemandangan yang ada di depannya sekarang, benar-benar
pemandangan yang membuat matanya tak bisa berkedip. Dia mendekati Sunny dan
berjalan mengitanrinya untuk memastikan apakah yeoja yang ada di depannya
benar-benar Park Sunny.
“Hah, kau terlihat sangat berbeda.
Sunny-ssi.”
Sunny tak menjawab dia sibuk dengan
tangannya yang ada di bagian atas dadanya. Junna mencoba menggoda gadis itu
dengan memeluknya. Gadis itu meronta meminta dilepaskan, tapi Junna semakin
mengencangkan pulukannya dan menikmati setiap aroma yang tercium dari gadis
itu. Kemudian berbisik pada gadis itu, sehingga gadis itu tersipu tetapi juga
merasa marah karena merasa dilecehkan.
“Hari ini kau sangat cantik dan juga
... seksi dengan pakaianmu itu.”
“Ya! lepaskan aku! Aku bukan wanita
murahan seperti yang lainnya.” seru Sunny pergi meninggalkan Junna yang tengah
tertawa. Junna meraih syal putih kemudian segera mengejarnya dan berjalan di
sampingnya, dia masih saja tersenyum-senyum sendiri dan mengalungkan syal itu
pada leher jenjang gadis itu. Gadis itu berhenti dan menatap mata Junna dengan
lekat.
“Gunakan ini untuk menutupinya,”
Junna terseyum, tetapi gadis itu tetap menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa
diartikan. Junna menggandeng Sunny yang masih menandangnya menuju mobilnya.
Junna melepaaskan tangan gadis itu saat sampai di parrkiran, gadis itu tanpa
berbicara segera masuk di ikuti Junna. Mereka tanpa bica menuju kanto. Sesekali
Junna melirik ke samping melihat gadis yang mulai menar hatinya. Dia bisa
merasakan detak jantunya tak normal, berdetak terlalu kencang setiap kali
berhadapan dengan gadis itu. Entah sejak kapan dia merasakan hal itu, dia
sendirir tak tahu.
Kini mereka telah sampai di kantor
dan sedang memarkirkan mobil. Sebelum turun, Junna tiba-tiba memdekati Sunny.
Saat mata mereka bertemu, mereka tak sengaja bertatapan dan itu cukup lama.
Sunny menunduk untuk menghindari kontak mata dengan Junna karena saat ini
jantungnya benar-benar berdebar sangat kencang. Junna yang melihat itu segera
mangalihkan pandangannya kemudian memberikan sebuah palster luka. Sunny
menerimanya kemudian mencoba memakainya tetapi di kesulitan, Junna yang melihat
itu menawarkan diri untuk memakaikannya. Lagi-lagi mata mereka bertemu kembali
dan itu benar-benar membuat jantug Sunny berdebar, dia mebuka pintu dan
berjalan meninggalkan Junna di dalam untuk menutupi kegugupannya. Sedangkan
Junna, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan yeoja itu. Junna
menyusul yeoja itu yang berjalan cepat.
“Ya! kenapa kau meninggalkan aku?”
tanya Junna saat dia telah berjalan mengimbangi yeoja itu. Tapi yang ditanya
hanya diam dan tetap berjalan. Mereka memasuki lobi perusahaan, saat mereka
bertemu kepala keamanan yang kenal baik dengan baik dengan Sunny. Sunny hanya
menganggukkan kepalanya tanpa menyapanya, sehingga membuat kepala keamanan
menjadi heran. Kepala keamanan memandang Junna untuk mencari pertanyaan atas
keingin tahuannya. Junna mengangkat bahunya menadakan dia tidak tahu, “Mungkin
dia sedang datang bulan.” Katanya berbisik.
Sunny yang mendengar itu semakin
kesal dan dia mencubit pinggan Junna dengan kesal. Junna berteriak kesakitan,
dia mengelus-elus pinggangnya yang merasa nyeri. Dia segera mengejar Sunny yang
telah berada jauh darinya. Semua rekan kerja tertuju pada sosok yeoja yang mengenakan
gaun biru laut yang telah baru saja lewat. Mereka baru saja melihat sosok
bidadari di kantor ini, kemudian yeoja itu duduk di meja kerja Sunny. Mereka
bertanya-tanya apakah benar sosok yeoja itu adalah Park Sunny? Junna yang baru
datang.
“Dia memang benar-benar Park Sunny,
dia baru di putus oleh namjachingunya.” Junna berbisik pada rekannya, Sunny
yang mendengar itu menatap tanjam kearahnya. Dia tersenyum kemenangan karena
mambuat yeoja itu kesal. Ketua tim menghampiri Junna, dia menanyakan pesanannya.
Junna menepuk dahinya, dia lupa dengan pesanan itu.
“Mianhe, ketua aku lupa dengan hal
itu. Jangan marah ya? bagaimana kalau saya traktir makan malam saja?” tanya
Junna menawari.
“Baiklah, setelah kita selesai
lembur nanti. Tapi aku yang memilih tempatnya bagaimana?” tanya ketua, dan
membuat rekan yang lain bersorak gembira.
Junna menghembuskan nafas berat, “
baiklah.”
***
Sekarang tim dari pengembangan
pariwisata tengah berkumpul di sebuah restoran tak jauh dari perusahaan mereka.
Mereka tengah menikmati makan malam gratis yang di buat oleh Junna. Dia sangat
menyesal karena telah mangatakan akan mentraktir mereka sebagai gantinya.
Mereka benar-benar memanfaatkan ini dengan memesan yang mereka inginkan,
tiba-tiba matanya manangkap sesosok yeoja yang tengah bingung untuk memakan
makanan yang ada di meja. Yeoja itu sangat memilih makanan bahkan dia hanya
memakan sayur saja tanpa menyentuh sedikitpun daging. Apakah yeoja itu
vegertarian?
Mereka telah selesai makan dan kini
mereka tengah memesan soju, minuman tradisional yang biasa di minum oleh orang
Korea. Bahkan mereka mangatakan bila tidak setetespun minum soju rasanya mereka
ingin mati. Lagi-lagi Junna melihat yeoja itu tidak ikut meminum dan dia hanya
memesan segelas air putih saja. Dia tidak bisa minum.
Setelah sesi makan malam berakhir,
mereka buru-buru pamit pada Junna dan Sunny untuk pulang. Junna yang melihat
itu hanya dapat memandang kesal mereka dan menutupinya dengan senyuman
ramahnya. Setelah mereka tak terlihat, Junna segera membayar tagihannya. Dia
tercengang dengan tagihan yang harus dia bayar, hari ini dia benar-benar di
buat kesal oleh rekan kerjanya. Setelah semua selesai, Sunny dan Junna segera
keluar. Sunny berpamitan untuk pulang.
“Junna-ssi, kalau begitu saya pulang
dulu. terima kasih atas makan malamnya dan juga atas bantuanmu. Oh iya, maaf
telah merepotkanmu.” Kata Sunny kemudia membungkuk, Junna hanya menganggukkan
kepalanya. Sunny berjalan pergi, tapi dia berhenti dan berbalik tersenyum pada
Junna.
“Bagaimana kau pulang?” tanya Junna
tiba-tiba.
“Aku akan naik bus terakhir, sekali
lagi aku mengucapkan terima kasih.” Katanya kemudian berlalu pergi.
Junna terdiam, apa sebaiknya dia
mengikutinya untuk memastikan kalau yeoja itu benar-benar selamat sampai
tujuan? Diam-diam Junna mengikuti Sunny dari belakang, dia benar-benar
menghawatirkan yeoja itu. Dia sedikit lega setelah melihat yeoja itu telah naik
bus, Junna kemudian berjalan menuju mobilnya dan pulang.