Sabtu, 22 November 2014

Time - Dua

Dua 

Shin Junna telah berada di kantor tepat waktu, matanya mencari sosok wanita misterius yang kemarin dia temui padahal jam kerja sudah lewat dari tadi tetapi wanita itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Dengan sedikit ragu dia memberanikan diri untuk menanyakan tentang Sunny pada manager yang berada di ruangan. Dia mengetuk pintu ruangan, setelah dipersilahkan dia segera masuk dengan membawa dokumen. Dia meletakkan dokumen itu di meja, dia ragu apakah akan menanyakannya atau tidak. Dengan sedikit paksaan dari dalam dirinya dia memberanikan diri untuk bertanya.
“Permisi manager Go, bolehkah saya bertanya sesuatu?”
“Silahkan. Apa yang ingin kamu tangyakan?”
“Begini, saya melihat meja milik Sunny-ssi kosong apakah dia sakit?” tanya sedikit ragu.
Manager Go tertawa, Junna semakin bingung dengan tim ini membiarkan bawahannya seenaknya sendiri. Tanpa ada teguran dan pemecatan pada pegawainya.
“Dia adalah pegawai lepas, jadi wajar dia jam segini belum berangkat. Mungkin dia tidak akan berangkat.” Jelasnya pada Junna.
“Waeyo?” tanya Junna bingung.
“Dia masih kuliah, Presdir yang membiayainya bahkan dia bekerja di perusahaan ini atas perintah dari Presdir. Mungkin para pegawai yeoja di perusahaan ini sangat iri padanya, apa lagi dia mendapatkan gaji penuh seperti pegawai lain.”
“Jadi hal...jadi Presdir yang mempekerjakannya? Wah senang sekali dia?” katanya meremehkan.
“Ya! jangan meremehkannya, meski dia bukan orang asali tetapi dia sangat baik mengambil hati orang. Kau tahu saat semua orang kewalahan menghadapi kakek tua VIP dari luar Korea, dengan mudah dia menangani kakek tua itu. Sungguh dia sangat ahli untuk mengambil hati orang.”
“Benarkah seperti itu?”
Manager Go mengangguk, “Kalau begitu saya permisi, Pak.” Dia keluar ruangan dengan wajah yang masih terkejut. Sepertinya penilaiannya terhadap Park Sunny sebagai wanita misterius harus dihilangkan.
Semua pegawai kantor tengah makan siang di cafetaria kantor tak terkecuali Junna, dia tengah mengantri untuk mengambil makan siang. Dia mengambil seperlunya kemudian mencari meja yang kosong, namun tak ada satu pun meja yang kosong yang dapat ia tempati sendirian. Dia berjalan mencari bangku yang kosong, untung manager Go memanggilnya dan menyuruhnya bergabung dengan rekan satu timnya.
“Ya! Shin Junna.” Seru ketua tim.
Junna yang sedang mencari bangku yang kosong sambil membawa nampan berisi makan siangnya menoleh sumber suara, “Ne, manager Go.”
“Kemari dan bergabunglah.”
“Ne.” Serunya kemudian menghampirinya dan duduk di bangku yang masih kosong.
Mereka menyantap makan siang masing-masing, kadang –kadang  disertai dengan candaan yang dibuat oleh manager Go atau oleh Im Sokyung. Junna sekarang terlihat mulai akrab dengan tim barunya, bahkan sesekali dia membalas candaan yang dibuat oleh ketua tim mereka. Tiba-tiba handphone milik manager Go berdering, dia melihat siapa yang menelponnya. Dilayar tertulis Sunny Park, sebelum mengangkatnya dia menyuruh bawahannya untuk dia.
“Ssst, diam! Nona Park menelponku.” Serunya kemudian mengangkat panggilan.
“Ada apa, nona Park? Apa! Sekarang, bagaimana ini kami sedang makan siang. Nanti kusuruh salah satu anak buahku menjemputmu. Ne, jaga dirimu.”
Semua terlihat heran, kenapa tiba-tiba Sunny menelpon manager Go. Nona Im segera mengajukan pertanyaan dengan bertubi-tubi pada manager Go.
“Manager apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba dia menelpon? Apa dia sakit? Kecelakaan ketika datang ke mari?” tanya nona Im tanpa henti membuat semuanya bingung.
“Ya! anak ini brisik sekali. Nona Im, jemput dia!” Perinta manager Go pada nona Im.
Nona Im segera menolaknya, “Anni ... anni, mobil ku sedang di bengkel.” Katanya dengan cepat.
“Aissh, anak ini. bukankah tadi kau yang sangat hawatir.” Menyindir.
“Benar, tapi mobilku sedang di perbaiki.” Katanya membela diri.
Manager Go memandangi satu persatu bawahannya semuanya menggeleng, sekarang giliran Junna yang di tatap. Bukan hanya manager Go saja tapi semua rekan satu timnya menatapnya, menyuruhnya untuk menjemput Sunny. Dengan nafas berat dia mengiyakan.
“Baiklah,” katanya dengan lemas.
“Oh ya, Junna-ssi. Bila kau pulng nanti bawakan kami  es krim yang terkenal itu!” seru manager Go.
Junna mengira manager Go akan berkata tidak usah, ternyata dia menyuruhnya untuk membelikan mereka es krim. Memang mereka mengira Junna pelayan apa? Dengan langkah lesu Junna menghampiri mobilnya, padahal hari ini adalah hari terpanas di Korea. Suhu diruangan saja dapat mencapai 38ยบ C, apa lagi di luar yang tanpa AC.
Dia menyalakan AC mobilnya sedingin mungkin untuk menghilangkan rasa panas kemudian dia menyalakan mobil dan menjalankannya menuju Syungkyunkwan University. Dia dalam mobilnya dia membual tentang Sunny, ‘Kenapa harus Aku yang menjemputnya! Bukankah dia bisa tidak bolos saja dan pulang ke rumah kemudian bersantai. Bukannkan halmoni tetap menggajinya dengan penuh bila di hari ini bolos?!’
Kini dia telah memasuki di gerbang Syungkyunkwan University, semua orang menepi ketika mobilnya berjalan. Bukan karena takut akan ditabrak oleh pemilik kendaraan tetapi mereka terpukau dengan pemandangan di depannya, mobil sport keluaran terbaru dan terbatas dengan harga US$700.000. Semuanya mengitari mobil Junna, untuk melihat siapa pemilik mobil tersebut. Junna ke luar dari mobilnya dengan kaca mata hitamnya, para yeoja terpukau dengan ketampanan Junna yang mampu menarik perhatian mereka.
Saat Junna tengah menunggu di luar mobilnya sambil menyandarkan tubuhnya, beberapa yeoja memotret dan bergosip tentannya. Dia mendengar beberpa yeoja ingin menjadi kekasihnya, dia tersenyu simpul sambil memandangi sekelilingnya.
‘Kalian bukan tipe wanita yang ku inginkan...’ lagi-lagi dia tersenyum meremehkan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah SMS dari orang yang tak dikenal. Dia segera membukanya, dan langsung tahu siapa pemilik nomor tersebut.
From: 11-0232-99623
Junna-ssi, kenapa kau yang menjemputku!!!
To: 11-0232-99623
Ketua Go yang menyuruhku. Ya! kenapa kau yang marah, seharusnya aku yang marah. Lalu darimana kau mendapat nomerku?!
Junna menungu jawaban dari Sunny, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Dia memutuskan untuk menelponnya, dengan kesal dia menunggu tetapi belum diangkat. Setelah tersambung, dia segera memarahinya.
“Ya! dimana Kau?! Cepatlah kemari!” serunya dengan nada tinggi.
“Aku ada di atap. Aku...”
Junna segera memelankan suaranya ketika sadar, mereka memandanginya dengan heran, “Cepat turun, jangan membuatku menunggu.”
Tapi tidak ada jawaban, hanya bunyi tut beberapa kali kemudian terputus, “Aisst, yeoja ini!” gerutunya dengan kesal, kemudian memasukkan ponselnya kedalam saku celananya dan berjalan menembus kerumunan. Dia mencari anak tangga, setelah berkeliling mencarinya akhirnya dia menemukannya. Tanpa pikir panjang dia segera menaiki anak tangga dengan cepat, “Awas lihat saja nanti, akanku balas dia!” gerutunya.
Setelah menaiki puluhan anak tangga akhirnya dia sampai di temppat tertinggi bangunan itu. Dengan nafaas yang terengah-engah, dia mencari Sunny tetapi yeoja itu tidak segera ia temukan. Dia berteriak memanggilnya daengan kesal.
“Ya! Sunny-ssi. Dimana Kau!” serunya di balik puntu.
“Siapa kau?!” seru Sunny sedikit berteriak.
“Ini aku, Shin Junna.” Seru Junna mencari sumber suara, setelah lumayan lama akhirnya dia menemukan yeoja yang sedari tadi ia cari-cari. Yeoja itu tengah terduduk dengan kedua lututnya di depan sambil menenggelamkan wajahnya di dalam kedua tangannya yang terlipat. Dia mendekati yeoja itu perlahan, dia baru pertama kali melihatnya tanpa jilbab yang setiap hari dia kenakan. Dia merasakan sesuatu yang aneh dengan dirinya, padahal dia sering melihat yeoja menangis karena dirinya. Tetapi kenapa dia merasa sedih ketika melihat yeoja itu dengan keadaannya saat ini.
“Kau tidak apa-apa, Sunny-ssi?” tanyanya lirih, takut melukai hatinya. Tapi yeoja itu tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. “Ayo pergi!” katanya lagi.
“Tinggalkan aku sendiri!” seru Sunny tanpa memperlihatkan wajahnya.
Junna menjadi kesal, “Bukankah kau menyuruhku untuk menjemputmu?!”kata Junna dengan kesal.
“Aku tidak menyuruhmu menjemputku!” seru Sunny berjalan pergi dengan air mata yang berlinang tanpa memperdulikan Junna.
“Ya! kau merepotkan sekali!” seru Junna dengan kesal.
“Aku bisa pulang sendiri. Kenapa kau repot-repot untuk menjemputku!”
“Manager menyuruhku!” Seru Junna sambil berjalan membuntutinya dengan kesal. Dia melihat darah segar mengalir melewati leher jenjang yeoja itu. Dia buru-buru mempercepat langkahnya untuk mengimbangi langkah yeoja itu. Dia terkejut ketika melihat kening sebelah kiri yeoja itu terluka dan berdarah, dia menghentikan langkah yeoja itu dengan mencengkeram tangan kiri yoeja itu dan menariknya. Lantas yeoja itu terhenti dan menoleh ke padanya.
“Kalian semua sama saja! Tidak pernah menghargaiku, meski itu sangat kecil. Lepaskan tanganku!!” seru Sunny dengan membuang tangannya.
“Apa maksudmu?”
Sunny menatap tajam Junna kemudian memalingkan wajahnya dan beranjak pergi. Junna mencegahnya kemudian menatap matanya dengan tajam, tapi Sunny memalingkan wajahnya dan enggan untuk menatap mata namja yang ada di depannya. Junna mencoba mengrahkan wajah Sunny untuk menatapnya lagi, mereka bertatapn cukup lama. Sunny mengalihkan pandangannya dan berjalan ke tepi pembatas dan berdiri disana. Junna yang melihat itu merasa hawatir, takut yeoja itu akan terjun, dan mendekatinya kemudian berdiri di samping yeoja itu.
Junna menghembuskan nafas kasar, “Seperti inilah hidup itu, kadang tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Kita menginginkan A tetapi yang kita dapat B, kita hanya bisa berencana untuk hari esok.”
 Junna menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya, dia meliahat Sunny tengah menangis. Semakin lama air matanya semakin deras mengalir di pipinya, dia baru menyadari bagian dada perempuan itu sedikit terbuka karena pakaian yang dikenakan telah compang-camping, entah karena ulah siapa. Dia buru-buru melepas jasnya dan memakaikan pada tubuh Sunny. Dia memegang tangan Sunny, Sunny mencoba menghindar tapi Junna mencengkram tangannya dengan kuat.
“Diamlah, aku hanya ingin melihat lukamu. Bukan ingin memakanmu.” Katanya dengan suara lembut.
Sunny hanya diam ketika merasakan tangan Junna mencoba menyentuh keningnya, dia merisngis kesakitan ketika tangan Junna tengah menyentuh keningnya. Junna buru-buru menarik tangannya. “Memang benar apa yang telah kau katakan, Junna-ssi. Tapi kenapa ...kenapa orang-orang tak bisa menghargiku? Padahal aku sudah sebisa mungkin untuk berbuat baik pada mereka. Aku hanya ingin mereka menghargai aku sebagai seorang muslim.”
Tangis Sunny semakin menjadi membuat Junna bingung, Junna memcoba menenangkannya dengan memasukkannya ke dalam pelukannya. Junna baru pertama kali melihat Sunny menangis, padahal bila dilihat wanita ini sangat kuat dan ternyata didalam dia sebenarnya sangat lemah dan rapuh.
Junna menarik tangan Sunny pergi, Sunny terdiam. “Wae?” tanya Junna bingung.
“Aku ... aku malu.” Katanya pelan.
“Wae? Bukankah bajumu sudah tertutup dengan jasku.” Seru Junna meyakinkan.
“Iya, tapi...” Sunny terlihat ragu, kemudian dia melanjutkan kata-katanya. “Aku ...aku tak terbiasa tak memakai jilbabku, Junna-ssi.”
“Jilbab? Apa itu? Apa yang kau kenakan setiap hari di kepalamu?” Sunny mengangguk. “Ayolah, ini bukan di kutub. Ini korea dengan suhu yang panas saat musim panas. Sekali ini bukankah tidak masalah?” Junna memandang gadis itu yang tengah menunduk, dia mengangkat dagu gadi itu dan menghapus air mata yang membekas di kedua pipi dengan kedua telapak tangannya, kemudian menggandengnya pergi.
Sunny hanya diam saat Junna membanya menuju mobil, saat mereka sudah sampai di lobi Sunny berhenti dia ragu untuk melewati kerumunan itu. Junna meyakinkan Sunny, dengan merangkulnya dan mencoba melindungi tubuh yeoja yang ada di pelukannya saat ini. Mereka menembus kerumunan dengan posisi yang sama dan menutupi wajah yeoja yang ada di pelukannya dengan tangannya dan menyandarkan kepala yeoja itu ke dada bidangnya. Tubuh mereka bersentuhan hanya dibatasi oleh baju yang mereka kenakan. Sunny dapat mendengar detak jantung Junna dengan sangat jelas, matanya terpejam menghirup aroma maskulin namja itu yang membuat pikirannya tenang.
Junna membuka pintu mobil di sebelah pengemudi dan mendudukkan Sunny kemudian menutupnya kembali, sebelum dia memasuk. Alat indranya mendengar beberapa yeoja tengah membicarakannya, mereka menanyakan kebenaran apakah yeoja yang tadi adalah yeojacingunya. Kemudian beberapa diantara mereka menjelek-jelekan Sunny. Junna hanya dapat berdecak kesal mendengar rekan kerjanya sebagai bahan pembicaraan, kemudian dia segera masuk dan menyalakan mobilnya. Mereka segera menyingkir dari jalan ketika Junna menlakson dengan keras.
Tak ada pembicaraan di antara mereka, Junna hanya terfokus untuk menyetir sedangkan Sunny, dia hanya diam memandang lurus kedepan dan pikirannya terlihat kosong. Sesekali Junna memandangnya, dia khawatir dengan keadaan yeoja itu sekarang. Junna menghentikan mobilnya di sebuah besmen. Dia keluar dan membukakan pintu untuk Sunny.
“Ini dimana? Bukankah aku memintamu untuk menjemputku ke kantor?” kata Sunny sambil melihat-lihat sekelilingnya yang terlihat asing untuk dirinya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Sunny,  Junna segera menarik tanganwanta itu untuk mengikutinya. Sunny mencoba melepaskan cengkraman pada tangannya, dia juga memukul-mukul tangan Junna agar melepaskannya tetapi usahanya tidak berhasil. Junna tetap saja mencengkramnya dengan kuat, Junna dan Sunny masuk lift dengan tangan Junna yang masih memegang tangannya.
“Bisakah kau sedikit melonggarkan tanganmu atau melepaskannya?” Tanya Sunny memegangi tangannya yang kesakitan.
Junna segera melepasnya tanpa berkata-kata, sekarang pintu lift terbuka Junna segera keluar dan diikuti oleh Sunny. Junna terus berjalan dengan diikuti Sunny di belakang, Sunny terlihat mulai tidak nyaman dengan baju yang dia kenakan apalagi itu menimbulkan bau yang tidak enak. Dia menghela nafas frustasi, untung tidak ada seorang pun yang melihatnya kecuali Junna pasti dia akan sangat malu.
“Junna-ssi, sebenarnya kau membawaku kemana? Ini bukan hotel, bukan?” tanyanya saat Junna berdiri di depan pintu yang terdapat nomor 113.
Junna membuka pintu kemudian masuk, Sunny merasa ragu. Apakah dia akan masuk atau lebih baik pergi. Sunny berbalik hendak pergi, tapi Junna segera menariknya masuk dan mendudukkannya di atas sofa.
“Apa yang kau lakukan!” serunya saat Junna mendekatinya.
Junna tidak menjawab dan terus mendekat, Sunny ketakutan sedangkan Junna tersenyum. Senyumannya sulit untuk di artikan oleh Sunny yang saat ini otaknya telah buntu. Sunny mendorang tubuh Junna menjauh dan membuat Junna terjatuh di lantai.
“Ya! apa yang kau lakukan?!” seru Junna kesal kemudian bangkit.
“Aku hanya ingin melindungi diriku.” Seru Sunny sambil memegangi jas Junna yang ia pakai.
Junna tersenyum simpul, “Ya! Apa yang kau pikirkan sebenarnya. Dasar paboya!” Dia tak percaya dengan kepolosan Sunny, di zaman sekarang masih ada yeoja sepolos dirinya. Apalagi ini di Korea dan dia masih bisa menemukan gadis sepolos dirinya. “Bersihkan dirimu terlibeh dulu!” seru Junna kemudian.
“Tapi bajuku .....”
“Cepatlah, apa kau tidak meresa risih?! Atau kau ingin ku mandikan, hah?” Junna mengedipkan sebelah matanya mencoba menggoda wanita itu, “Ayo!” seru Junna dengan lembut.
Membuat wajah Sunny memerah karena malu, ia segera menutupi bagian pipinya.  Tanpa menjawab dia segera berjalan ke kamar mandi, kemudian mengunci rapat-rapat kamarmandi. Disandarkannya tubuhnya di balik pintu sambil memegangi dadanya karena jantungnya berdetak tak seperti biasanya. Sedangkan Junna, dia tersenyum lebar sambil menggeleng-geleng tak percaya di dunia ini masih ada wanita sepolos itu.
Sunny menggantungkan jas Junna di tempat gantungan baju, dia memandangi tubuhnya di depan cermin. Perlahan ia mengangkat tangannya untuk menyentuh keningnya yang berdarah, tiba-tiba air matanya mulai jatuh. Wajahnya sangat sedih dan marah, dia bersumpah akan membalas perbuatan mereka. Setelah setengah jam Sunny berada di kamar mandi, dia keluar dengan menggunakan baju handuk dan tengah mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk yang lain. Junna yang melihat itu terperangah, dia baru pertama kali melihat melihat gadis itu tanpa kerudung yang melekat di kepalanya. Junna segera sadar ketika Sunny memanggilnya.
“Junna-ssi..” serunya.
“Ne.” Serunya dengan nada gugup.
Sunny yang melihat ekspresi wajah Junna sedikit tersenyum, “Apakah ada pakaian yang bisa ku gunakan?”
Junna tak menjawab, dia berjalan ke ruang pakaian dan mencari sesuatu. “Ah ini dia!” serunya ketika menemukan sebuah bungkusan kado, dia membukanya untuk mengeceknya kalau itu yang dia cari-cari. Dia berjalan mendekati Sunny kemudian memberikannya.
“Ini apa?” tanya Sunny bingung.
“Itu adalah baju milik seseorang yang ku kenal, mulanya. Pakaelah, semoga saja pas di tubuhmu.” Katanya dengan wajah sendu.
Sunny membukanya, memang benar di dalamnya adalah pakaian wanita. Dia kemudian memandang Junna, ‘mungkin ini adalah baju untuk yeojachingunya’.
“Kau ingin berganti pakaian disini?” tanya Junna lagi-lagi, membuat wajah Sunny memerah.
Sunny segera masuk kedalam kamar mandi dan menutupnya, sedangkan Junna duduk di sofa menunggunya. Beberapa menit kemudian pintu terbuka, tapi Sunny tak kunjung keluar. Yeoja itu hanya mengeluarkan kepalanya sedangkan tubuhnya yang lain berada didalam.
“Apakah baju itu tidak muat di tubuhmu?” Tanya Junna khawatir.
“Anni, tapi ..”
“Keluarlah! Kita harus segera kembali ke kantor.” Seru Junna lagi.
Sunny perlahan keluar, dia terliahat tidak nyaman dengan baju yang dia gunakan. Itu karena bagian dadanya sedikit terekspos dan mempelihatkan badian dadanya yang selama ini ditutupiya dangan rapat, sedangkan roknya lumayan menutupi panjang sehingga menutupi pahanya yang putih. Dia terus saja memegangi bagian atasnya agar tak terlihat. Namun dia terlihat lebih frash dan cantik dengan gaun yang di dominasi warna  biru tuaitu.
Sedangkan Junna di benar-benar tersihir dengan pemandangan yang ada di depannya sekarang, benar-benar pemandangan yang membuat matanya tak bisa berkedip. Dia mendekati Sunny dan berjalan mengitanrinya untuk memastikan apakah yeoja yang ada di depannya benar-benar Park Sunny.
“Hah, kau terlihat sangat berbeda. Sunny-ssi.”
Sunny tak menjawab dia sibuk dengan tangannya yang ada di bagian atas dadanya. Junna mencoba menggoda gadis itu dengan memeluknya. Gadis itu meronta meminta dilepaskan, tapi Junna semakin mengencangkan pulukannya dan menikmati setiap aroma yang tercium dari gadis itu. Kemudian berbisik pada gadis itu, sehingga gadis itu tersipu tetapi juga merasa marah karena merasa dilecehkan.
“Hari ini kau sangat cantik dan juga ... seksi dengan pakaianmu itu.”
“Ya! lepaskan aku! Aku bukan wanita murahan seperti yang lainnya.” seru Sunny pergi meninggalkan Junna yang tengah tertawa. Junna meraih syal putih kemudian segera mengejarnya dan berjalan di sampingnya, dia masih saja tersenyum-senyum sendiri dan mengalungkan syal itu pada leher jenjang gadis itu. Gadis itu berhenti dan menatap mata Junna dengan lekat.
“Gunakan ini untuk menutupinya,” Junna terseyum, tetapi gadis itu tetap menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa diartikan. Junna menggandeng Sunny yang masih menandangnya menuju mobilnya. Junna melepaaskan tangan gadis itu saat sampai di parrkiran, gadis itu tanpa berbicara segera masuk di ikuti Junna. Mereka tanpa bica menuju kanto. Sesekali Junna melirik ke samping melihat gadis yang mulai menar hatinya. Dia bisa merasakan detak jantunya tak normal, berdetak terlalu kencang setiap kali berhadapan dengan gadis itu. Entah sejak kapan dia merasakan hal itu, dia sendirir tak tahu.
Kini mereka telah sampai di kantor dan sedang memarkirkan mobil. Sebelum turun, Junna tiba-tiba memdekati Sunny. Saat mata mereka bertemu, mereka tak sengaja bertatapan dan itu cukup lama. Sunny menunduk untuk menghindari kontak mata dengan Junna karena saat ini jantungnya benar-benar berdebar sangat kencang. Junna yang melihat itu segera mangalihkan pandangannya kemudian memberikan sebuah palster luka. Sunny menerimanya kemudian mencoba memakainya tetapi di kesulitan, Junna yang melihat itu menawarkan diri untuk memakaikannya. Lagi-lagi mata mereka bertemu kembali dan itu benar-benar membuat jantug Sunny berdebar, dia mebuka pintu dan berjalan meninggalkan Junna di dalam untuk menutupi kegugupannya. Sedangkan Junna, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan yeoja itu. Junna menyusul yeoja itu yang berjalan cepat.
“Ya! kenapa kau meninggalkan aku?” tanya Junna saat dia telah berjalan mengimbangi yeoja itu. Tapi yang ditanya hanya diam dan tetap berjalan. Mereka memasuki lobi perusahaan, saat mereka bertemu kepala keamanan yang kenal baik dengan baik dengan Sunny. Sunny hanya menganggukkan kepalanya tanpa menyapanya, sehingga membuat kepala keamanan menjadi heran. Kepala keamanan memandang Junna untuk mencari pertanyaan atas keingin tahuannya. Junna mengangkat bahunya menadakan dia tidak tahu, “Mungkin dia sedang datang bulan.” Katanya berbisik.
Sunny yang mendengar itu semakin kesal dan dia mencubit pinggan Junna dengan kesal. Junna berteriak kesakitan, dia mengelus-elus pinggangnya yang merasa nyeri. Dia segera mengejar Sunny yang telah berada jauh darinya. Semua rekan kerja tertuju pada sosok yeoja yang mengenakan gaun biru laut yang telah baru saja lewat. Mereka baru saja melihat sosok bidadari di kantor ini, kemudian yeoja itu duduk di meja kerja Sunny. Mereka bertanya-tanya apakah benar sosok yeoja itu adalah Park Sunny? Junna yang baru datang.
“Dia memang benar-benar Park Sunny, dia baru di putus oleh namjachingunya.” Junna berbisik pada rekannya, Sunny yang mendengar itu menatap tanjam kearahnya. Dia tersenyum kemenangan karena mambuat yeoja itu kesal. Ketua tim menghampiri Junna, dia menanyakan pesanannya. Junna menepuk dahinya, dia lupa dengan pesanan itu.
“Mianhe, ketua aku lupa dengan hal itu. Jangan marah ya? bagaimana kalau saya traktir makan malam saja?” tanya Junna menawari.
“Baiklah, setelah kita selesai lembur nanti. Tapi aku yang memilih tempatnya bagaimana?” tanya ketua, dan membuat rekan yang lain bersorak gembira.
Junna menghembuskan nafas berat, “ baiklah.”
***
Sekarang tim dari pengembangan pariwisata tengah berkumpul di sebuah restoran tak jauh dari perusahaan mereka. Mereka tengah menikmati makan malam gratis yang di buat oleh Junna. Dia sangat menyesal karena telah mangatakan akan mentraktir mereka sebagai gantinya. Mereka benar-benar memanfaatkan ini dengan memesan yang mereka inginkan, tiba-tiba matanya manangkap sesosok yeoja yang tengah bingung untuk memakan makanan yang ada di meja. Yeoja itu sangat memilih makanan bahkan dia hanya memakan sayur saja tanpa menyentuh sedikitpun daging. Apakah yeoja itu vegertarian?
Mereka telah selesai makan dan kini mereka tengah memesan soju, minuman tradisional yang biasa di minum oleh orang Korea. Bahkan mereka mangatakan bila tidak setetespun minum soju rasanya mereka ingin mati. Lagi-lagi Junna melihat yeoja itu tidak ikut meminum dan dia hanya memesan segelas air putih saja. Dia tidak bisa minum.
Setelah sesi makan malam berakhir, mereka buru-buru pamit pada Junna dan Sunny untuk pulang. Junna yang melihat itu hanya dapat memandang kesal mereka dan menutupinya dengan senyuman ramahnya. Setelah mereka tak terlihat, Junna segera membayar tagihannya. Dia tercengang dengan tagihan yang harus dia bayar, hari ini dia benar-benar di buat kesal oleh rekan kerjanya. Setelah semua selesai, Sunny dan Junna segera keluar. Sunny berpamitan untuk pulang.
“Junna-ssi, kalau begitu saya pulang dulu. terima kasih atas makan malamnya dan juga atas bantuanmu. Oh iya, maaf telah merepotkanmu.” Kata Sunny kemudia membungkuk, Junna hanya menganggukkan kepalanya. Sunny berjalan pergi, tapi dia berhenti dan berbalik tersenyum pada Junna.
“Bagaimana kau pulang?” tanya Junna tiba-tiba.
“Aku akan naik bus terakhir, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih.” Katanya kemudian berlalu pergi.

Junna terdiam, apa sebaiknya dia mengikutinya untuk memastikan kalau yeoja itu benar-benar selamat sampai tujuan? Diam-diam Junna mengikuti Sunny dari belakang, dia benar-benar menghawatirkan yeoja itu. Dia sedikit lega setelah melihat yeoja itu telah naik bus, Junna kemudian berjalan menuju mobilnya dan pulang.

Jumat, 14 November 2014

satu

Satu

Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya, seorang gadis terbangun ditengah malam yang dingin dan gelap. Terbangun dengan mimpi-mimpi buruk seperti biasanya. Mimpi yang sama yang membangunkannya disetiap ia tertidur, dengan nafas memburu dia belari menuju jendela. Dia membukanya lebar-lebar untuk mendapatkan oksigan, ia merasa kehabisan sesak nafaas. Mata indahnya menyusuri setiap objek yang ada di luar. Pohon-pohon di bawah sana yang hijau menjadi hitam karena keadaan yang masih gelap gurita dan keadaan kota Seoul yang belum memperlihatkan kantuknya. Benar-benar kota yang sibuk. Dia menyandarkan dagunya sambil memandangi keluar sampai subuh, matanya terus memandang sebuah cahaya kemerahan yang berada di ufuk timur. Benar, matahari terbit yang selalu dia rindukan setiap pagi menjelang. Serta tumbuhan hijau dan kicau burung yang selalu menyambut dirinya setiap pagi.
Dengan masih menggunakan piyamanya dia berjalan menuju kamar mandi, bukan untuk mandi atau membersihkan diri tetapi untuk berwudhu  kemudian sholat. Itu yang selalu dia lakukan setiap hari di waktu-waktu tertentu. Hal itu dia lakukan demi menunjukkan rasa cintanya pada Alloh, yang telah menciptakannya dan seluruh dunia ini.
“Assalamu’alaikum warohmatulloh..” katanya sambil menggelengkan kepalanya ke samping kiri tanda ia telah selesai.
Ditengadahkan kedua tangannya sambi diangkat di depan dada, dia ceritakan semua keluh kesahnya pada-Nya. Sambil menitihkan air mata dia terus meminta apa yang ada adalam pikirannya, meminta perlindungan, kebahagian untuk kedua orang tuanya.
Tok ... tok ... tok
Seorang wanita paruh baya tengah mengetuk pintu kamarnya, disudahinya doa yang ia panjatkan. Dia bergegas mengambil jilbabnya kemudian melihat siapa yang datang. Dibukanya pintu kamarnya dengan senyum ramah dibibir merahnya, dia persilahkan tamu itu masuk dan disuruhnya duduk.
“Sunny-sii, kau sudah memiliki uang untuk membayar sewa bulan ini?” tanya wanita paruh baya yang tengah duduk di sampingnya, tanpa basa basi.
“Ne, Ajumma. Sebentar saya ambil dulu.” katanya menuju meja belajarnya.
Dia menganbil sebuah amplop coklat di dalam ransel coklat yang biasa dia kenakan ketika pergi, dengan senyum yang masih terkembang dia menuju wanita paruh baya yang tengah duduk menantinya. Diserahkannya amplop yang berisi uang ratusan ribu won itu pada wanita paruh baya tersebut.
“Ajumma Shin, minhaeyo. Karena terlambat membayarnya..” katanya setelah menyerahkan amplop coklat.
“Ne, tidak apa-apa. Aku mengerti. Kalau begitu aku permisi”.
Wanita paruh baya yang dipanggil ajumma Shin berdiri dan pamit pergi, dia berjalan menuju pintu dengan diikuti oleh Sunny. Sunny menbungkuk ketika Ajumma Shin akan pergi dengan senyum yang masih terkembang dibibirnya. Di tutupnya kembali pintu setelah punggung Ajumma tidak terlihat.
Sejak tiga tahun lalu dia memang telah tinggal di tempat ini, karena biaya yang lebih mering dari yang lain dan terbebas dari anjing-anjing yang berkeliaran. Sehingga dia sangat beruntung untuk dapat menyewanya, apalagi ruangan ini yang berhadapan langsung dengan taman kota yang ada di bawah sana. Tempat tinggalnya berada di laintai dua, dengan ruangan yang cukup luas dia menyulapnya senyaman mungkin untuk di tempati.
Sudah sejak lama dia ingin pergi jauh dari rumahnya, itu dikarenakan oleh desakan ibunya yang menginginkan untuk segera menikah dengan laki-laki pilihan ibunya. Tapi dia menolaknya dan pergi dari rumah tanpa sepengetahuan orang, awalnya dia bingung harus pergi kemana. Dia hanya pergi dengan bermodalkan ijazah SMA, beberapa lembar uang ratusan ribu dan beberapa baju yang dia sengja bawa.
Entah bagaimana caranya sekarang dia berada di negeri dengan empat musim ini, dengan susah payah dia belajar dan menyesuaikan diri dengan penduduk setempat. Awal kedatangannya orang-orang memandangnya aneh. Bagaimana tidak dia berbeda, dia orang asing, dia berpenampilan tertutup dan itu aneh menurut orang asli negeri ini.
Tapi dia tidak goyah dengan pendiriannya, untuk terus mengenakan simbol kemuslimannya. Sebuah penutup kepala yang hanya memperlihatkan wajahnya. Meski orang memandangnya aneh, terkadang mereka mencemoohnya tapi dia tetap tersenyum menghadapi mereka tanpa emosi sedikitpun. Bila dia melihat orang kesusahan siapa pun mereka dia dengan senang hati akan membantunya, sehingga perlahan-lahan pandangan orang tentanya mulai berubah. Mereka tidak merasa asing atau takut padanya lagi, mereka cenderung menganggapnya seperti keluarga mereka sendiri.
Sunny telah siap dengan sepeda berwarna biru mudanya, siap mengayuhnya menuju universitas tempatnya menuntut ilmu. Di sepanjang perjalanan para tetangganya menyapa dengan senyum, dia pun membalasnya dengan senyuman ramah yang menenangkan hati setiap orang yang melihatnya.
Dengan waktu setengah jam dia akhirnya sampai di tempatnya menuntut ilmu, dia memarkirkan sepeda kesayangannya di tempat biasa. Dia sedikit berlari menuju kelas seni, takut bila songsaenim Han sudah masuk kelas. Karena dia tahu benar seperti apa songsaenimnya, ia sedikit lega ketika dia melihat songsaenim Han  tengah berjalan didepannya. Dia segera menghampirinya dan menyapanya.
“Annyonghaseyo, songsaenim Han.” Sapaku ketika berjalan disampingnya.
“Lagi-lagi kau terlambat!” katanya tanpa memandang lawan bicaranya.
“Ah, ne. Hehehe...” dia sedikit tertawa, “Songsaenim, aku pergi duluan ne?”
Dengan langkah cepat dan tanpa menunggu jawaban dari songsaenimnya dia pergi menuju kelas Seni, dia tahu sikapnya tidak sopan tapi apa kata teman-temannya ketika songsaenim lebih dulu tiba di kelas dari muridnya. Pasti mereka akan bergosip tenntangnya, dan terkadang mereka juga akan mengerjainya bila mereka tak suka padanya.
Songsaenim Han hanya geleng-geleng kepala melihat muridnya yang satu ini. Menurut para murid Sunny adalah murid emas songsaenim Han, apa pun yang dia lakukan pasti songsaenim Han akan membelanya. Itu memang benar, selagi dia masih melakukan hal benar songsaenim Han selalu ada di belakangnya untuk mendukung. Dia juaga mendapat nilai sempurna di setiap mata kuliah, sehingga dia menjadi kebanggaan para songsaenim di Sungkyungkwan University.
Meski selalu ramah pada siapa saja tetapi teman satu angkatannya tak menyukainya. Hal itu membuatnya sedikit sedih, bukan karena mereka membencinya melainkan dia takut tak bisa membuat mereka suka padanya. Dia segera duduk di meja paling depan yang biasa dia duduki, dan tempat itulah yang mereka persiapkan untuknya. Dengan sedikit peregangan otot karena telah mengayuh sepeda lumayan jauh, dia segera mengeluarkan sebuah buku catatan. Bukan buku catatan materi untuk hari ini melainkan, sebuah catatan untuk pekerjaannya. Dia memang selalu melakukan itu untuk sekedar mengisi waktu luangnya dan juga memperdalam ilmunya tentang pekerjaan yang dia geluti selama ini.
Songsaenim Han masuk kelas, setelah meletakkan tasnya di meja guru. Dia segera mengumumkan jika hari ini akan diadakan tes, dia memberi waktu pada muridnya untuk belajar terlebih dahulu. Para murid mengeluh kecuali Sunny yang dengan santainya dia membuka bulu pelajaran lain yang tidak ada kaitannya dengan seni. Itu memang kebiasaan songsaenimnya sejak dulu, tidak pernah menberi tahu pada muridny bila akan diadakan tes.
Setengah jam kelonggaran untuk mengulang pelajaran sebelumnya telah habis, songsaenim Han segera membagikan soal kepada muridnya. Sambil senang Sunny mengerjakan soal yang telah di sajikan, sedangkan yang lain dengan wajah muram mereka mengerjakannya. Mereka tak ada satupun yang berani bertanya apa lagi menanyakan jawaban pada yang lain, karena mereka tahu betapa menakutkannya songsaenim Han bila beliau marah, seluruh murid akan diberi nilai C kecuali Sunny. Seperti dua tahun yang lalu ketika salah seorang murid ketahuan mencontek, songsaenim Han langsung merobek lembar jawab murid tersebut kemudian memberikan nilai C pada semua anak kecuali Sunny karena dia telah selesai terlebih dahulu dari yang lain. Dari situlah mereka mulai tidak menyukai Sunny.
Setelah mengecek jawabannya beberapa kali, dia segera memasukan semua barang yang telah dikeluarkan ke dalam ransel coklatnya. Digendongnya ransel itu dan segera mengumpulkan lembar kerjanya kemudian tersenyum setelah menyerahkannya. Sedangkan yang lain terlihat sangat tidak senang kepadanya.
“Bagaimana? Mudah?” tanya songsaenim padanya.
“Anni, ini cukup memeras otakku...”
“Tapi kau dapat mengerjakannya bukan?”
Dia hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, “Songsaenim, saya pergi dulu.”
“Masih ada mata kuliah lain?”
Dia menggeleng, “Hari ini hanya Anda.”
“Kau akan kesana lagi?”
Dia mengangguk dengan yakin, kemudian pergi dengan senyum yang masih terkembang.
***
Sebuah mobil sport putih memasuki halaman perusahaan Global World, perusahaan terbesar di Korea Selatan. Sebuah perusahaan pemandu wisata bertaraf internasional, milik keluarga Shin. Sudah 50 tahun perusahaan ini dibangun, dengan kerja keras dan kegigihan  sehingga perusahaan ini dapat bertahan hingga sekarang.
Kini mobil sport putih telah berhenti di depan pintu masuk perusahaan, pintu mobil terbuka memperlihatkan seorang namja tampan berkulit putih seputih susu dengan kaca mata hitam bak pangeran dari negeri dongeng. Dia keluar dengan elegan, badannya yang jakun menambah kesan dia memang seorang pangeran. Dengan langkah besar dia memasuki lobi perusahaan. Namun niatnya harus terhenti ketika seorang petugas menghadangnya.
“Ya! kua pemilik kendaraan itu bukan?!”
“Ne, wae?”
“Cepat pindahkan mobilmu itu! Atau akan ku derek ke kantor polisi.”
“Ya! memangnya kau ini siapa?!”
“Aku kepala ke amanan di kantor ini. cepat pindahkan atau akan ku bawa ke kantor polisi! Dasar anak nakal!” seru penjaga.
Mau tidak mau namja itu segera memindahkan mobil kesayangannya yang seharga $700.000 dolar harus terpakir di kantor polisi dan pastinya akan di gembok. Dia mengutuk ajussi keamanan itu di dalam mobil sambil memparkirkan mobil kesayangannya. Setelah terparkir dengan benar dia segera masuk, tapi lagi-lagi di cegat oleh ajussi keamanan.
“Ya! pemuda siapa namamu?”
“Junna, Shin Junna.”
“Baiklah kau boleh masuk.” Seru ajussi keamanan.
Sekarang Sunny telah berada  di halaman salah satu gedung pencakar langit di kota Seoul tepatnya di peruahaan Global World, perusahaan tempatnya mencari uang untuk kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Dia memang telah bekerja di sini sejak awal kedatangannya, seperti reaksi orang Korea kebanyakan. Mereka merasa aneh melihatnya berpakaian tertutup dengan hanya memperlihatkan wajah dan telapak tangannya saja. Tapi mereka telah terbiasa karena sikapnya yang periang dan sangat sopan ke pada siapa saja yang dia temui. Dia memarkirkan sepedanya di samping mobil sport putih.
“Pagi ajussi,” sapanya pada satpam yang tengah berjaga di lobi.
“Pagi. Kau bolos, nona Park?” tanya ajussi satpam yang menghampirinya.
“Anniyo, hanya satu mata kuliah saja. Dari pada saya bosan lebih baik saya bekerja.” Jawabnya dengan tersenyum.
“Oh, tadi kau di panggil oleh Nyonya Presdir. Beliau menyuruhku untuk mengatakannya padamu saat kau datang.”
“Ada apa? Apakah aku berbuat kesalahan?” wajahnya berubah menjadi hawatir.
“Ajussi tidak tahu, mana mungkin kau berbuat kesalahan. Mungkin nyonya Presdir ingin berdiskusi denganmu. Cepat pergi, jangan membuatnya menunggu!”
Dia pamit pergi, dengan sedikit gugup dia mendatangi ruangan presdir yang berada di lantai 21. Dia sedikit berlari ketika melihat pintu lift akan tertutup, untung saja dia dapat mencegahnya dengan mengganjalkan kaki kanannya. Pintu lift terbuka kembali, dia melihat seorang namja dengan setelan rapih di dalam. Dengan malu dia masuk, dan namja itu menekan tombol 15.
“Annyong..” sapanya pada namja yang tengah memperhatikannya dari bawah sampai atas.
“An..nyong Agasshi..” dengan tergagap namja itu menjawab sapaannya.
Mereka hanya diam tanpa memandandang atau memperkenalkan diri. Sunny diam karena malu dengan tingkahnya barusan, dia merutuki dirinya yang tidak sopan. Sedangkan si namja, sedikit merasa tidak enak dan sedikit merasa takut berada satu lift dengannya. Sesekali namja itu meliriknya dengan ngeri sambil menjauh darinya.
‘Kenapa dengan namja ini, dia melihatku dengan aneh. Apa aku menakutinya? Memang semua orang menilai kepribadiannya dari caranya berpakaian, biarlah toh aku tidak berbuat dosa padanya. Alloh tahu itu.’ gerutu Sunny di dalam hatinya.
‘Tuhan, lindungi aku Tuhan. Tuhan kenapa aku harus satu lift dengan wanita aneh ini. Aku belum menikmati dunia ini, tolong lindungi aku tuhan.’ Pekiknya dalam hati.
Pintu lift terbuka di lantai 15, namja itu segera pergi tanpa berpamitan. Sedangkan Sunny melihatnya dengan tersenyum, dia menyadari namja itu pasti ketakutan melihatnya dengan pakaian seperti itu. Mungkin namja itu mengiranya pembunuh bayaran, atau penjahat. Ia segera memencet angka 20.
Pintu lift kembali terbuka, Sunny segera keluar dan berjalan menuju ruangan Presdir. Dia mulai gugup ketika yang di tuju telah terlihat, dia tersenyum untuk menghilangkan rasa gugupnya. Sekretaris Presdir menyapanya dan memperilahkannya masuk.
“Nona Sunny, anda telah di tunggu oleh Presdir. Silahkan masuk!” kata skretaris Presdir sambil membukakan pintu untuknya. Dianhanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.
“Presdir mencari saya?” tanyanya ketika telah berada di dalam.
“Ne, duduk nona Park.”
Dia kemudian duduk di sofa, “Apa ada masalah?”
“Anni, saya memanggilmu ke mari hanya ingin meminta bantuanmu.”
“Bantuaan?” Sunny terkejut bukan main.
“Ne, maukah kau mengawasi cucuku ini?”
“Cucu anda? Tapi saya tidak berbakat mengurus anak kecil, Presdir.”
Predir tertawa, “Anni, dia seumuran denganmu. Dia di tempatkan satu tim denganmu. Namanya Shin Junna, mungkin dia akan sedikit merepotkanmu. Saya berharap banyak padamu nona Park.”
Sunny terdiam, dia menimbang-nimbang permintaan Presdir Shin. “Hanya mengawasinya?”
Presdir mengangguk, “Kau boleh memperlakukannya seperti pegawai yang lain. Kau juga boleh memarahinya bila memang dia salah.”
“Ne..."
Dengan lesu Sunny berjalan menuju meja kerjanya, dia masih pikirkan permintaan Presdir yang menyuruhnya untuk membantunnya. Sebenarnya dia ingin menolaknya tapi apa daya dia banyak berhutang budi pada Presdir, dia tidak enak hati untuk menolaknya. Setidaknya dia dapat membalas hutang budinya dengan membantunya.
Tiga tahun lalu dia tak sengaja menolong seorang wanita tua yang hampir tertabrak truk di Jakarta. Wanita tua itu sangat berterima kasih padanya, dan wanita tua itu adalah Presdir Global Word. Wanita tua itu heran dengannya yang membawa bas besar.
“Namaku Shin EunJo. Nona siapa namamu?”
“Sunny.”
“Maaf, apa yang kau lakukan di malam-malam begini dan kenapa kau membawa tas besar?” tanya wanita tua itu.
“Saya pergi dari rumah, dan saya sedang mencari tempat tinggal.”
Nenek Shin mengajaknya untuk tinggal di rumahnya, awalnya dia tidak mau tetapi nenek Shin terus memaksanya, dan akhirnya dia bersedia tinggal di rumah nenek Shin. Karena tidak memiliki pekerjaan, dia bekerja pada nenek Shin selama tinggal di Indonesia. Selama itu pula nenek Shin mengajarinya berbahasa Korea, dengan waktu tiga bulan saja Sunny sudah fasih berbahasa Korea.
“Sunny-ya, apakah kau mau pergi bersamaku ke Korea?” tanya Nenek Shin saat mereka makan siang di sebuah restoran.
“Apa maksud nenek?” tanya Sunny bingung, dia segera meletakkan sendok dan gapunya untuk mendengarkan penjelasan yang keluar dari mulut orang yang telah membantunya selama ini.
“Kita akan tinggal di Korea, kau juga akan bekerja di perusahaan keluarga Kami. Kau juga bisa melanjutkan sekolah disana.”
“Tapi...”
“Ayolah Sunny-ya?” rintih nenek Shin sambil memohon.

“Hey!” seru seorang wanita sambil menepuk pundak Sunny dari belakang. Dia segera berbalik untuk melihat siapa orangnya.
“Kenapa melamun?” tanya wanita itu sambil berjalan disampingnya.
“Tidak. Sunbae Im, bagaimana proyek yang kita rencanakan temo hari?” tanya Sunny pada Im Sookyung. Seorang wanita dengan pakaian minim yang lumayan dekat dengannya, dia adalah sunbaenya. Meski dia kelihatannya sangat baik tapi sebenarnya dia adalah wanita pedendam dan sangat egois.
“Ah, entahlah manager belum membahasnya. Mungkin nanti saat rapat.”
Mereka pergi menuju ruang kerja, tetapi keadaannya sangat heboh karena anggota tim dan ketua tim tengah berkumpul di tengah entah apa yang sedang mereka lakukan. Tanpa mempedulikannya Sunny segera duduk di meja kerjanya sembari melihat-lihat dokumen yang belum selesai dia ketik. Sedangkan wanita yang bernama Im Sookyung sangat penasaran dengan apa yang terjadi, dia segera bergabung dengan kerumunan.
“Semuanya dengarkan aku!” seru ketua tim membuat semuanya diam.
“Hari ini, seorang namja akan bergabung dengan tim kita. Dia lulusan dari Amerika.” Seru ketua tim. Semua orang kecuali Sunny berteriak gembira. “Hey! Pemuda perkenalkan namamu!” seru ketua tim lagi.
Namja betubuh jangkun sedikit maju, “Annyonghaseo, jeoneun Shin Junna imnida . Je naineung 26 sarimnida. Saya lulusan dari Harvard University. Salam kenal.” Serunya kemudian membungkuk memberi hormat.
Semuanya lagi-lagi berteriak kagum dengan namja bernama Shin Junna, sedangkan Sunny enggan untuk melihat namja itu.  Para yeoja tengah antri untuk dapat berkenalan dengan kariawan baru itu, setelah semua selesai berkenalan Shin Junna segera menuju mejanya yang telah menumpuk beberapa berkas.
Matanya menangkap seorang wanita dengan pakaian tertutup tengah mengerjakan tugas denga  serius, dia menjadi penasaran dengan sosok wanita misterius itu. Dia baru menyadari sosok wanita misterius itu yang tadi selift dengannya, dia segera duduk dan sedikit menutupi wajahnya takut-takut wanita itu menatapnya.
“Hey, nona Im. Siapa wanita aneh itu?” tanya Junna berbisik pada wanita di sebelah meja kerjanya.
“Oh, dia Park Sunny. Dia telah bekerja di sini selama tiga tahun, dia wanita yang sangat baik. Tapi hati-hati padanya, dia suka menjilat. Kau tahu Presdir yang mempekerjakannya di perusahaan ini.” Jelas Sookyung pada Junna.
“Ya! Sunny-ssi, anggota baru kita ingin berkenalan denganmu!” seru Sookyung sambil berteriak.
Semuanya menoleh termasuk Sunny, Junna yang merasa malu karena ulah Im Sookyung segera berdiri dan memperkenalkan namanya.
“Shin Junna imnida.” Katanya kemudian membungkuk. ‘Dasar wanita sound sistem, berisik sekali!!’ maki Junna pada Sookyung di dalah hatinya.
Tampa berdiri Sunny memperkenalkan namanya, “Park Sunny imnida.” Kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Junna membalas senyumannya.
***
16:00 KST
Sunny segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ransel coklatnya, setelah dirasa tidak ada yang tertinggal dia berpamitan dengan seluruh pegawi untuk pulang.
“Manager, saya pulang dulu ne?” serunya sambil menggendong tas ranselnya, setelah mendapatkan izin dia segera pergi.
Junna yang melihat itu merasa aneh, ‘kenapa semua pegawai memperlakukan wanita mistis itu istimewa? Seistimewa apa wanita itu sebenarnya?’
“Ya, nona Im. Kenapa dia pulang cepat?” tanya Junna pada Im Sokyung yang tengah mengtik.
Sokyung yang tengah mengetik menoleh, menghembuskan nafas kesal. “Ya! bisakah kau tidak menggangguku. Tanyakan saja padanya.” Serunya kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya.
Junna merasa kesal dengan sikap rekannya itu dalam hati dia menggerutu, ‘waanita ini telah memperlihatkan taringnya sebelum mengincar mangsanya dengan benar. Kenapa halmoni memperkerjakan wanita aneh itu yang pulang sebelum waktunya?!’ batinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.