Dua
“KAU GILA!”
Juna tidak merasa kesal sama sekali, “Manis...” gumamnya sambil
menjilat bibirnya sensual. “Aku tidak sabar ‘melakukannya’ denganmu lagi nona Dan.”
“Selain penampilanmu yang buruk, ternyata hatimu sangat busuk!
Pantas tidak ada seorang wanita yang mau denganmu.” Serunya marah.
“Diamlah kau tidak tahu apa-apa tentangku! Jangan samakan aku
dengan pria brengsek diluar sana!” Juna mencengkram lengan Dani menariknya ke
kereta bayi. Tanpa melepas cengkramannya, dia membopong bayinya dengan tangan
kanannya. Membuat bayi itu menangis kencang.
“Lepaskan aku! Lepas!”
Dani buru-buru merebut bayi itu dan menggendongnya, sisi keibuannya ke luar, saat melihat seorang bayi di gendong dengan tidak layak.
“Setidaknya perlakukan anakmu dengan baik, meski anda marah. Tidak seharusnya
bayi ini mendapat imbas atas kemarahan anda!” Dia menimang-nimang bayi dalam dekapannya dengan penuh sayang.
Juna diam, melihat seorang wanita asing menyayangi anaknya dengan
tulus membuat hatinya menghangat. Sejak pertama kali melihat wanita ini
menenangkan tangis anaknya, ia yakin bahwa wanita ini adalah calan istri yang baik.
“Apa pun yang akan terjadi, kau harus menjadi milikku.” Batinnya.
Dia menjauh wanita dan bayinya, dia mengambil ponsel kemudian
menaruhnya di telinga. “Cari tahu semua tentang wanita yang bernama Khodijah
Ramadani. Jangan sampai ada sedikitpun yang terlewat. Dan sebelum malam tiba,
harus sudah di meja kerjaku.”
Dia mengantongi ponselnya ke saku jas dalam. Dia menghampiri
mereka, menarik lengan Dani untuk pulang.
***
Dani berdiri di depan sebuah pintu kayu dengan banyak ukiran unik.
Saat sebuah tangan menariknya, dengan tegas dia menyentakkan tangan tersebut
dan memandang tajam si pemilik. Ada kemarahan yang terlihat dari mimik mukanya.
Bukannya takut mendapat tatapan horor seperti itu, Juna malah
tersenyum sinis. Ia membuka pintu rumahnya lebar. Rumah bergaya minimalis
modern dengan halaman yang sangat luas, terlihat sepi.
“Mulai saat ini, kau akan tinggal dirumah ini.” Ucapnya melangkah
masuk. “Kita akan berbagi kamar dan juga ranjang.”
Dani yang sedari tadi mengekor berhenti. “Tidak! Aku belum tentu
menyetujui usulanmu untuk menikah. Bagaimana bisa kau seenak jidatmu menyuruhku
tinggal. Dan sekarang kau menyuruhku tidur bersama. Kau gila!”
“Diamlah! Kau akan membangunkan Baby Jo. Jika kau terus berteriak
seperti itu!” Juna mengambil bayi yang dipanggil baby Jo ke dalam gendongannya.
Ia membawanya ke lantai dua, memasuki kamar dengan pintu putih. Ia meletakkan
Baby Jo ke boks tidur lalu menyelimutinya.
Dari belakang Dani hanya mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah
kata pun. Dia terdiam, saat melihat keuletan Juna menidurkan anaknya. Entah
kenapa jantungnya berdebar 3 kali lebih cepat dari biasanya. “Jarang seorang
pria merawat anak kecil sendiri, seperti ini. Ku kira sikapnya sangat
menyebalkan, di balik semua itu ternyata dia memiliki sisi lembut yang orang
lain tidak bisa melihatnya.” Gumamnya.
“Bawa aku ke pabrik!”
“Untuk apa? Mencari suami yang alim, seperti yang kamu impikan?”
“Memang mencari suami semudah berganti celana dalam. Kalau semudah
itu pasti dulu aku sudah mendapatkannya. Aku harus bekerja. Aku tidak mau
kehilangan pekerjaan, lagi pula mencari kerja sangat sulit.” Ucapnya panjang
lebar.
“Sudah ku katakan, kau akan menjadi istriku. Jadi tidak usah
bekerja.”
“Tapi aku belum menyetujuinya. Bagaimana bisa kau memaksakanku!”
“Harus dengan cara apa agar kamu mau? Kekerasan? Atau berhubungan
sebelum nikah?” Juna berjalan mendekati Dani.
Alaram dalam kepala Dani berbunyi, merasa ada sebuah bahaya yang
mengancam. Dani berjalan mundur, ia terhenti karena tubuh bagia belakangnya
membentur sesuatu. Dia menoleh, sebuah tembuk berada tepat di selakang
tubuhnya. “Ya Allah. Lindungi hamba.” Batinnya berteriak panik.
“Apa yang akan Anda lakukan?!” serunya panik.
“Memang apa yang akan aku lakukan di dalam sini?” kata Juna
menunjuk kapala Dani. Dani diam, tak berani berargumen.
“Kenapa diam? Kau ingin menerimanya dengan baik-baik atau
dengan...” Juna mengelus pipi Dani perlahan, membuat tubuh Dani tegang.
“Baik... baik, aku akan menerimanya. Tapi aku meminta beberapa
syarat padamu.”
“Sebutkan!”
“Pertama, anda harus mengikuti keyakinanku. Kedua, tidak ada
hubungan suami istri, sampai benar-benar ada cintai diantara kita. Ketiga,
tidak ada orang ketiga dalam hubungan kita. Atau lebih tepatnya aku menuntut
kesetiaan. Dan terakhir, saya diperbolehkan untuk bekerja.”
“Syarat pertama aku setuju.” Dani tercengang. “Memangnya kamu
menganggapku apa? Meski margaku Shin, yang lebih menonjol ke Korea. Tapi harus
kamu ingat, ibuku adalah anak dari seorang keyai. Syarat terakhir aku setuju,
asal tidak menelantarkan keluarga. Tapi syarat kedua dan ketiga aku menolak.”
“Kenapa?”
“Kau menginginkan kesetiaan, bukan?” tanya Juna dengan berbisik
sambil meniup telinga bagian bawah Dani. Sehingga merasa menegang. “Bagaimana
aku bisa setia, jika kebutuhanku sebagai seorang pria tidak ku dapatkan dari
istriku? Jadi dua dan tiga hapus.”
“Baiklah.” Jawabnya lesu.
“Kalau begitu pernikahan akan dimajukan satu bulan. Lusa kita akan
menemui keluargamu. Aku dan juga keluargaku akan melamarmu secara resmi.”
“Ba-bagaimana bisa? Anda mengatakan 2 bulan lagi?”
“Itu karena kamu telah menyetujuinya, sayang.”
***
Dani duduk di ruang tamu, ruangan ini memang terlihat sangat
nyaman. Tapi tidak untuknya. Ia merasa was-was, setiap kali ia sadar dia berada
di tempat asing yang sangat memukau.
“Apa saya memang harus tinggal di sini, pak?” tanyanya memandang
pria yang ada di hadapannya.
“Iya.” Jawabnya singkat, padat dan irit. “Dan panggil aku Juna.”
“Lalu bagaimana dengan baju dan lainnya. Tidak mungkin aku harus
memakai baju ini selamanya, pak Juna!” akalannya, dia tidak mau harus tinggal
seatap dengan seorang pria yang bukan muhrimnya.
“Itu bukan masalah, aku bisa membelikanmu, semua yang kamu
butuhkan.”
“Tidak! Aku ingin punyaku, dan juga ponselku!”
“Baiklah, sebelum isya yang kau inginkan akan ada di sini.”
“Apa tidak ada seorang ART satupun yang bekerja?” tanya Dani penasaran.
“Meraka hanya akan datang pagi untuk membersihkan rumah dan siang
pulang.”
“Lalu pengurus Jo?”
“Tidak ada, aku yang mengurusnya.”
“Astaga! Kau gila. Bagaimana jika dia lapar di malam hari? Dari
sikapmu padaku, aku yakin pak Juna tidak mendengarnya dari kamar anda!”
Juna tertawa, “Dasar kuno! Disana ada alat penghubung ke kamarku,
agar aku mendengar tangisannya, bodoh!”
Dani hanya tersenyum canggung, menyadari ke-katro-annya. Dia
merutuki kebodohannya. Memang bigutulah kenyataannya, dia kurang bergaul dengan
orang yang di sekitarnya. Hanya orang yang sudah dikenallah yang dekat. Dia
juga kurang menyatu dengan orang baru.
“Ngomong-ngomong aku harus istirahat dimana? Aku sangat lelah.”
“Kau bisa istirahat di kamarku.”
“Tidak! Aku bisa tidur dengan Jo, di kamarnya!” tolaknya.
“Terserah kamu saja, disana tidak ada ranjang. Hanya ada sofa
sempit yang akan membuatmu sakit saat bangun.”
***
Sebelum magrib, Dani turun dengan menggendong Jo. Dia meletakkan Jo
di kursi khusus yang memang sudah dipersiapkan di ruang makan. Ia hendak
menyiapkan makan malam, tak mungkin dia merepotkan pemilik rumah. Dia membuka
kulkas, ia sedikit terkejut. Hanya ada buah, minuman ringan, susuk pria, telur
dan beberapa pitza beku yang hampir busuk.
Dani segera membuang pitza itu ke tong sampat. Dia menggerutu, apa
tidak ada yang memasakkannya dirumah? Dia beralih membuka lemari. Mendapati
peralatan makan yang sangat lengkap, sereal, susu bubuk untuk pria dan balita,
serta makanan ringan.
“Apa hidupnya seperti ini?”
“Apa?!”
Dani terloncat kaget. Dia mengelus dadanya dan berbalik menatap
tajam Juna.”Kau mengagetkanku!”
“Maaf.” Ucapnya. “Sedang apa kau disini?”
“Masak makan malam, tapi hanya ada buah, telur dan roti.” Dani
cemberut, “Bagaimana kalau senwit saja, aku tidak tahu harus mengolahnya.”
“Terserah kamu, sayang. Apapun yang kamu masak akan ku makan,
sekalipun itu jamu brotowali.” Juna tertawa terbahak.
***
Rumah mewah bergaya mediterania, yang luasnya dua kali atau bahkan
tiga kali dari lapangan sepak bola berstandar internasional. Rumah dengan cat
putih tulang itu, sangat mencolok di antara rumah rumah yang ada di sekitarnya.
Rumah paling luas, paling mewah, dan yang tak kalah ketinggalan adalah
terindah. Disetiap 100 meter terdapat penjaga, dengan tubuh besar bak seorang
tukang jagal.
Dani mengenakan kaos hitam polos panjang dan rok batik panjang
berwarna kuning. Rambutnya dikucir kuda, dan sedikit polesan make up. Sedangkan
Juna, dia mengenakan kemeja kedodoran serta kacamata yang tak pernah dilepaskan
saat keluar rumah.
Dani berjalan di sebelah pria jangkun berkaca mata tebal. Dia
mengeratkan pegangannya pada lengan pria itu. Tangan satunya menggendong bayi.
Pria itu menoleh dan tersenyum, untuk menenangkannya.
Mereka berjalan menuju ruang tamu. Disana telah duduk sepasang
suami istri yang tengah menunggu keatangan mereka. Sang istri dengan balutan
gamisnya terlihat sangat cantik. Sedangkan sang suami dengan balutan kemejanya
terlihat elegan. Beberapa kesamaan antara Juna dengan sang wanita, senyum
mereka benar-benar memabukkan jiwa. Dan satu yang dapat dilihat dari ayah dan
anak itu adalah mata mereka benar-benar sipit.
“Assalamu’alaikum, mah, pah?” sapa Juna sambil mencium kedua
punggung orang tuanya secara bergantian.
“Assalamu’alaikum, tante, om?” sapa Dani sambil tersenyum dan
mengangguk dengan menggendong Jo.
“Wa’alaikumsalam warohmatulloh.” Jawab orang tua Juna ramah. “Mas,
siapa gadis cantik ini?” tanya ibu Juna. “Wah Jo, sudah akrab ya sama tante
cantik?” tanya ibu Juna pada Jo sambil menoel pipi cubi Jo.
“Kenalkan mah, dia Khodijah Ramadani. Calon istri Al.” Juna
merangkul pundak Dani untuk mengikis jarak antara mereka. Mereka duduk saling
berdekatan, dan Jo di pangku Dani.
“Beneran mas? Bagus itu, mamah dan papah setuju. Benerkan pah?”
tanya ibu Juna pada ayah Juna.
“Iya. Kalo memang kalian cocok, ya papah ga bisa komentar apa-apa.”
Seorang pelayan datang dengan membawa sebuah nampan, yang
diatasnya terdapat dua buah cangkir berisi teh. Setelah meletakkan cangkir pada
Juna dan Dani, pelayan itu permisi.
“Kenalin tante Syifa Nur Janah, mamahnya Al.” Ucap Nur menyalami
tangan Dani. “Dan itu papah Juna, Shin Jun oh. Alias
Muahammad Ibram Shin.” Ayah Juna hanya mengangguk, kembali membaca korannya.
“Kapan kalian akan nikah?” tanya Nur.
“Secepatnya mah. Tapi dua hari lagi aku ingin melamarnya.” Ucap
Juna tegas.
“Rumah kamu dimana sayang?” Nur beralih menatap Dani.
“Rumah saya di Kebumen tan.” Dani menepuk-nepuk pelan Jo yang
sedikit rewel.
“Kamu sudah pernah ke sana mas?” kini Nur beralih menatap anaknya,
Juna menggeleng sebagai jawabannya. “Kamu kenal Khadijah, dimana
mas?”
“Di pabrik mah.”
“Dia cinta sama kamu? Dengan penampilan kamu kayak
gini?” tanya Nur penuh selidik. “Kamu ga maksa dia kan?”
“Nda ko mah. Kalo masalah cinta, kami dalam proses.”
“Kamu ga hamilin dia kan?” ucapan Nur terdengar
sedikit emosi.
“Tidak tan. Pak Juna melamar saya di pabrik, saat
saya tidak sengaja dipergoki sedang menggendong Jo yang sedang menangis.
Awalnya saya ragu, terus dia yakinin saya, dan akhirnya saya mau. Saya juga merasa
cocok, jadi kami putusin menjalin hubungan yang serius.” Dani segera menyela
ucapan Nur, takut ada salah paham.
“Pernikahan bukan hal main-main loh. Kalau bisa dalam
hidup sekali aja.”
“Aku yakin Khodijah jodohku. Meski kami belum saling
cinta tapi kami akan menghadirkan cinta di rumah tangga kami mah, pah.”
“Menurut kami, cinta itu penting dalam rumah tangga.
Tapi kalau menikah berdasarkan cinta, mungkin rumah tangga tidak akan seumur
hidup. Cinta itu bisa habis, tapi kalau niat karena Alloh. Insya allah, Allah
akan menjaga pernikahan kami.” Ucap, Dani mengungkapkan argumen-nya.
“Papah setuju dengan pernikahan kalian. Minggu pagi
kita terbang ke Jogja baru ke rumahmu, Khodijah.” Ibram angkat bicara. “Mas,
papah tunggu di ruang kerja.” Dia meninggalkan ruang tamu, disusul oleh Juna.
Setelah kepergian ayah dan anak itu, Nur menghampiri
Dani dan duduk di sebelahnya. Dia tersenyum ramah, memegang tangan Dani dengan
pandangan haru.
“Khodijah terimah kasih, kamu mau menikah dengan
anak tante.”
“Iya tan, Khodijah berharap mas Jun bisa menjadi
imam yang terbaik.”
“Insya allah, Di. Mulai sekarang Di panggil tante
mamah ya. Kaya Al manggil mamah.”
“Iya Tan, eh iya mah.”
***
Juna duduk di tengah ruang kerja ayahnya. Dia seperi terdakwa
pengedar narkoba yang menunggu keputusan sidang yang akan mendapatkan hukuman
mati. Kalau sudah di panggil ke ruang kerja seperti ini. Maka ada kesalahan
besar yang dilakukan oleh sang terdakwa.
“Apa kau serius dengan keputusanmu?” tanya Ibram tegas. Dia duduk
di kursi kebesarannya seperti seorang hakim.
“Iya pah. Al sangat yakin malah. Bukankah mamah dan papah yang
terus mendesak untuk cepat-cepat menikah?” tegas Juna. “Pah, aku mencari istri
yang mau menerimaku apa adanya. Papah juga tadi mendengar jawabannya. Dia ingin
menikah karena ingin melakukan sunah Rosul. Kami yakin yang mempertemukan dan
memisahkan kami hanya Allah, Tuhan yang maha kuasa.”
“Lalu apa dia menerimanya karena hartamu?”
“Tidak...” Juna bingung sendiri dengan jawabannya. Dia bahkan belum
tahu seperti apa wanita yang akan dinikahinya. “Al yakin dia jodoh yang Allah
utus untuk ku.”
“Baik, jika itu sudah bulat. Papah hanya bisa berpesan, pertahankan
rumah tanggamu apa pun yang terjadi.” Ibram berjalan menghampiri Juna dan
menepuk-nepuk bahu Juna sambil tersenyum. Kemudian dia keluar.
Juna menghempuskan nafas kasar. Beban-beban yang ada di pundaknya
seolah lenyap seketika. “Syukurlah, mereka bisa mengerti.” Gumanya.
***
“Mah, mana Jo dan Di? Aku tidak melihatnya dari tadi?” tanya Juna
yang berpapaan ibunya di ruang tengah.
“Mereka tidur di kamarmu. Tadi setelah di tinggal kamu, Jo nangis
kejet. Setelah dikasih susu oleh Di, baru dia diem dan tidur. Melihat Di terus
menggendong Jo jadi mamah suruh mereka tidur di kamarmu.” Jelas ibunya,
kemudian pergi menuju kamarnya.
Setelah ditinggal ibunya tidur, Juna segera menuju kamar lamanya.
Benar saja di sana terdapat seorang wanita yang tidur menyamping memeluk Jo.
Juna menghampiri mereka, duduk di tepi ranjang. Memandang dua malaikat yang
tengah tertidur dengan wajah polos. Ia menyelipkan rambut Di ke belakang
telinganya kemudian menaruh guling di samping Jo agar tidak jatuh.
Dia pergi ke kamar mandi, cuci muka, gosok gigi, dan mengambil air
wudhu. Dia melaksanakan sholat isya’, kemudian beranjak ke tempat tidur di
sebelah Dani. Membaringkan tubuhnya dan menyelipkan tangannya ke pinggang Dani.
Tak lama dia tertidur dengan keadaan memeluk Dani.