Rabu, 11 Maret 2015

Time - Empat

Empat

“Jangan mendekat! Pergi..... pergi! Ku mohon jangan mendekat!” seru seorang gadis dalam tidurnya. Dia terus meronta dan mengigau agar jangan mendekat dan menyuruh pergi. Wajahnya menjadi pucat pasi, padahal sebelumnya wajahnya berseri meski dia baru beberapa jam telah melewati operasi usus buntunya.
Seorang laki-laki yang tengah tidur di sampingnya dalam posisi duduk terbangun karena mendengar suara berisik. Dia terkejut mendapati gadis yang sedang dijaganya mengigau dan meronta-ronta. Junna mencoba membangunkan gadis itu dari mimpi.
“Sunny-ya! sunny-ya!” seru Junna panik sambil mengguncang tubuh gadis itu agar bangun. Gadis itu terbangun kaget, wajahnya benar-benar pucat wajahnya memburu dan wajahnya dipenuhi keringat padahal AC menyala cukup dingin. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya kemudian.
Sunny belum menjawab pertanyaan Junna, dia masih mengatur nafasnya dan menenangkan diri. Kemudian dia tersenyum sambil mengangguk, tanda dia baik-baik saja. Junna membantu gadis itu untuk duduk. “Gumawo... Junna-ssi.”
Junna duduk di kursi samping ranjang gadis itu, “Ne. Hati-hati, jahitanmu belum kering.”
“Ah, nde. Apa dokter memberi tahumu tentang ...” pertanyaan Sunny terputus saat seorang perawat datang untuk mengecek keadaannya. Mereka hanya diam saat perawat itu tengah mengecek Sunny. Setelah perawat itu selesai alangkah terkejutnya Sunny saat mendengar perkataan dari sang perawat.
“Nona Park, keadaan Anda telah membaik. Kemungkinan satu atau dua hari lagi Anda boleh pulang.” Kata perawat setelah menstabilkan cairan infus. “Beruntung sekali Anda nona, Anda memiliki kekasih yang menjaga anda dan perhatian. Apalagi dia sangat tampan.” bisik perawat itu.
Sunny yang mendengar itu memerah, ‘tunggu kenapa pipiku terasa panas’. Kemudian dia melirik Junna yang tengah memperhatikan dirinya, “Anni, dia rekan kerjaku. Kami hanya teman satu kantor dan ..”
“Kami baru saja menjalinnya beberapa waktu yang lalu.” Kata Junna yang tahu maksud dari perkataan sang perawat. Sunny yang melihat itu melotot tak percaya dengan apa yang dikatakan Junna.
Sang perawat tersenyum, kemudian pamit. “Ah bagus kalau begitu, jaga yeoja chingumu baik-baik, tuan.” Kata sang perawat itu saat berjalan melewati Junna, Junna mengangguk mengerti.
Junna kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Sunny setelah perawat itu keluar. Gadis itu masih menatapnya dengan tak percaya, dia menghembuskan nafas kasar kemudian berjalan mendekat. “Kau sangat lucu dan juga manis saat kau marah?” Junna mengacak rambut gadis itu lembut.
Sunny hanya menghela nafas kesal, kemudian tersenyum pada Junna dan merapikan rambutnya yang acak-acakan karena ulah Junna. “Ah, terserah kau saja Junna-ssi. Tapi aku tetap berterimakasih padamu karena kau telah menjaga ku semalaman.”
“Tentu saja.” Kata Junna semangat, “Dimana tempat tinggalmu? Aku akan membawa keperluanmu kemari.” Sunny menatap Junna tajam, “Aku hanya ingin membawa perlengkapanmu saja, tidak bermaksud apa-apa.” Kata Junna melanjutkan.
“Oh, baiklah. Setalah pulang kantor, aku akan segera ke sini dan membawakanya.” Kata Junna setelah Sunny memberitahu tempatnya tinggal. “Kalau begitu aku permisi dulu. Jaga dirimu saat aku tidak ada.” Kata Junna bangkit kemudian mengacak gemas rambut gadis itu.
“Ya! jangan pegang kepalaku! Ini rumah sakit, mana mungkin aku tidak baik-baik saja. Disini banyak perawat yang sigap untuk mengecek keadaanku.” Kata Sunny merapihkan rambutnya, dia baru menyadari bahwa dia tak lagi mengenakan kerudung. ‘Ini adalah terakhir kali aku tak mengenakannya,’ batinnya.
“Oh dan satu lagi, bisakah kau memanggilku Oppa. Itu terdengar lebih baik dari pada Junna-ssi.” Wajah Junna tepat berada di depan wajah gadis itu yang sedang melamun. Gadis itu terkesiap sambil memegang dadanya saat matanya tepat menatap mata Junna yang berada tepat di depan wajahnya. Entah sejak kapan Junna berada di depan gadis itu.
“Astohfirulloh...” seru Sunny terloncat sambil memegang dadanya karena terkejut. “Ya! kenapa kau tiba-tiba menatapku seperti itu, Junna-ssi.”
“Mian, bukankah kau kusuruh memanggilku Oppa. Aku kan lebih tua darimu tiga tahun.” Kata Junna menjauhkan wajahnya. “Kau ingin makan sesuatu? Kalau iya, nanti akan ku bawakan. Tapi tunggu sampai kau buang angin, anak manis!” Junna mencubit hidung gadis itu dengan gemas.
“Appo, kau jahat sekali Junna-ssi. Upss mianhe Oppa. Kau jahat sekali!!” kata Sunny memegang hidungnya, takut akan dicubit lagi.
“Nah itu kan lebih baik. Kalau begitu aku pergi dulu Sunny.” Junna mencium kening gadis itu kemudian pergi. Sunny sangat terkejut atas perlakuan Junna padanya, ia seketika membeku dan merasakan debaran jantungnya yang tak menentu. Sedangkan Junna, dia tersenyum bahagia. Seolah dia baru mendapatkan lotre yang selama ini dia inginkan. Meski orang yang di sekelilingnya memandangnya aneh karena tersenyum-senyum sendiri dia tak peduli. Karena hari ini hatinya benar-benar sangat bahagia.

Sebelum Junna masuk kantor dia terlebih dulu pulang ke apartemen mewahnya, untuk mandi dan berganti pakaian. Meski rasa lelah menjalar tubuhnya, dia tetap masuk kerja. Bisa dibayangkan dia baru saja tidur dua jam yang lalu, dan ia terbangun karena orang yang di jaganya terbangun tepat pukul enam. Dan dia juga harus masuk, bagaimana dia akan menjalankan perusahaan keluarganya suatu saat nanti bila dia malas dan egois.
Saat Junna telah sampai di kantor, ketua tim menyuruhnya untuk bertemu presdir yang tak lain adalah nenek kandungnya sendiri. Dia segera meletakkan tas kerjanya dan berjalan ke ruangan neneknya. Setelah berada di depan ruangan, ia berkonfirmasi pada sekretaris nenek.
“Sekretaris Dan, apakah presdir ada?” tanya Junna sopan, meski dia adalah cucu dari pemilik perusahaan ini dia harus bersikap sopan pada siapa saja. Karena orang-orang tak tahu jati dirinya yang sebenarnya.
“Ah, Anda dari tim pariwisata?” tanya sekretaris Dan memastikan, Junna mengangguk membenarkan. “Anda telah ditunggu oleh presdir. Silahkan masuk.” Kata sekretaris Dan membukakan pintu untuk Junna, setelah pemuda itu telah masuk pintu segera ditutup.
Junna berjalan mendekati nenek yang duduk di sofa, dia menjatuhkan tubuhnya kasar ke sofa. Dia baru menyadari bagaimana susahnya mencari uang, meski selama ini dia selalu diberi uang saku setiap bulannya melebihi gajinya. Dihenbuskannya nafas kasar kemudian membenarkan posisi duduknya.
“Halmoni, memanggilku? Tak biasanya.” Kata Junna singkat.
“Ya! bocah nakal ini!” kata nenek Shin dan memukul kepala Junna cukup keras membuatnya meringis kesakitan. “Lihat ini!” seru nenek Shin melempar sebuah amplop coklat besar ke atas meja. Junna segera mengambil dan melihat isinya. “Untuk apa uang sebanyak itu kau tarik dari rekeningmu, tuan Shin. Bukan masalah besar kau memakainya, tapi untuk apa. Apakah uang yang selama ini halmoni berikan untukmu kurang? Sehingga kau menarik uang yang seharusnya untuk masa tuamu kelak!” kata nenek Shin menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sebenarnya dia tak perlu marah-marah pada cucuk kesayangannya ini, dia hanya terlalu khawatir dengan tingkah cucunya yang membuatnya semakin pusing. Tidak di korea tidak di New York, cucunya selalu membuatnya pusing.
“Mianhae halmoni, sebenarnya aku tidak ingin menggunakannya. Tapi...” belum sempat Junna menyelesaikan penjelasannya, neneknya sudah memotongnya.
“Tapi apa! Kau menggunakannya untuk pergi ke klub dan tidur bersama wanita malam. Bukan?” kata nenek yang sudah tidak dapat membendung amarahnya. “Kau tak bisa meninggalkan kebiasaan lamamu di New York, begitu!” nenek memijat keningnya yang sakit karena cucuk satu-satunya ini.
“Bukan begitu halmoni, aku sudah berusaha berubah demi halmoni dan juga..” dia berhenti berbicara, bukan saatnya dia mengatakan perasaannya pada neneknya tentang gadis itu. “Uang itu akan ku ganti dengan.... gajiku sampai lunas dan juga aku rela tidak mendapat jatah uang saku dari nenek lagi.”
“Baiklah kalau itu keinginanmu, aku setuju. Dan segera pulang. Kuberi waktu tiga hari untuk kau berkemas.” Ancam nenek Shin.
Junna yang mendengar itu kaget, kenapa dia harus pulang dan meninggalkan apartemennya. “Anni, aku tidak akan pulang. Aku lebih nyaman di apartemen dari pada di rumah.”
“Wae? Bagaimana dengan uang sewa yang akan kau bayarkan. Junna-ya?” tanya nenek memojokkannya.
Junna yang mendengarkan itu agak bingung, bukankah dia bisa membayar dengan gajinya selama bekerja?  “Gajiku!” kata Junna tegas.
“Kau sudah lupa, gajimu itu untuk membayar hutangmu itu. Lalu bagaimana kau akan makan, tempat tinggal saja kau tidak pinya. Kau mau menggelandang di jalan?” kata nenek meremehkan.
Junna diam, sedangkan nenek memandangnya tajam untuk mendapat jawaban. Junna menggenggam kuat gelang yang melingkar di tangannya, “Baiklah akan ku turuti perintah halmoni, tapi bisakah aku menggunakan kartu kredit untuk beberapa kali saja. Kumohon!” kata Junna memandang neneknya memelas.
“Kau bisa memakainya sampai kapan pun. Tapi akan ku tarik kartu itu bilau kau menggunakannya semena-mena lagi!” ancam nenek Shin.
***
“Yeboseyo?” kata Sunny setelah menggeser di ponsel touch skrinnya.
“Shin Junna.” Jawab orang yang ada di seberang telepon.
“Oh, ne. Ada apa Junna-ssi?” tanya Sunny merasa aneh karena tidak biasanya Junna menelponnya. “Apa ada suatu masalah di kantor?”
“Anni. Ya! bukankah ku suruh untuk memanggilku Oppa? Dasar gadis jelek ini.” kata Junna sedikit meninggikan suaranya seolah marah.
“Mianhae, Junna-ssi. Maaf Junna oppa. Ada apa menelphonku?” tanya Sunny sedikit tersenyum. “Ah, ne. 2443423,  jangan membongkar apapun selain yang di perlukan. Arraso?”
“Ne, arraso. Kau sedah makan?”
Tut...tut...tut
“Astohfirulloh, kenapa bisa lobet begini. Pati oppa akan memarahiku setelah dia sampai.” Kata Sunny menunjuk nunjuk ponsel yang mati kemudian meletakkan di meja dengan kasar tanpa mencoba untuk mencarger. Dia berbaring sambil memandangi sekelilingnya. Dia merasa sangat bosan seharian di dalam ruangan apa lagi tak ada yang dapat untuk diajak bicara lengkap sudah penderitaannya. Dia bangkit dan membawa  tempat infusnya, mencoba untuk menyelinap keluar. Dia mengintip di balik pintu untuk mengecek agar tidak ada suster yang memergoki setelah dirasa aman ia segera keluar dan mencoba bersembunyi bila ada suster atau dokter yang lewat.
Taman rumah sakit, itu adalah tujuannya saat ini. Dia segera duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon besar. Sebenarnya apa yang menariknya untuk berkunjung di tempat ini? Langit, benar. Itu tujuannya, untuk melihat langit biru secara langsung dan menghirup udara segar. Saat ia merasa rindu pada kampung halamannya, ia selalu menyempatkan untuk berkunjung ke taman manapun yang ia temui ketika dia merasa ridu.
***
“Astaga! Kenapa dengan gadis ini. Belum selesai aku bicara, dia sudah mematika sambungan secara sepihak. Benar-benar gadis aneh plus misterius.” Seru Junna saat telah berada di depan flat milik Sunny. Setelah memasukkan paswordnya, dia segera membukanya dan masuk. Kesan pertama ketiha dia mulai memasuki ruangan yang hanya ada satu ranjang , ruang tamu dan dapur menjadi satu adalah rapi. Meski menurutnya sempit tapi terkesan rapih dan nyaman. Dia berjalan ke lemari pakaian dan menganbil beberapa pakaian kemudian dimasukkan ke dalam tas yang ada di dalam lemari. Tapi matanya menangkap sebuah benda yang menurutnya menarik. Dia mengambil sebuah foto yang terbingkai dengan dindah di meja samping tempat tidur.
Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya, Junna memandangnya sangat intens mengira-ira apakah benar itu adalah foto kecil gadis yang saat ini memenuhi hatinya. Foto itu terlihat ada dua orang anak, yang satu anak perempuan yang kira-kira baru berusia beberapa bulan sedang dicium oleh seorang anak laki-laki yang kira-kira sudah berusia 5 sampai 7 tahun. Dan fotolain yang membuatnya semakin mengenbangkan senyumannya adalah ketika si gadis kecil yang telah tumbuh kembali dicium dipipinya oleh remaja laki-laki dengan keadaan sigadi kecil berada di persawahan dan dengan keadaan sangat kotor.
Setelah puas melihat-lihat seluruh isi flat milik Sunny, Junna segera pergi tak lupa dia mengunci kembali flat gadis itu. Saat telah selesai, tiba-tiba seorang ajumma datang dan membuatnya kaget. Ia pun menyapanya dengan sopan, tapi ajumma itu terlihat sangat tidak senang dengannya dan terlihat mencurigainya seperti pencuri.
“Annyonghaseo ajumma.” Sapa Junna memberikan kesan pertama yang sopan pada wanita paruh baya memandangnya dengan tajam.
“Annyong. Kenapa kau bisa masuk kedalam flat milik nona Park?”
“Saya mengambilkan beberapa bajunya karena dia sekarang dirawat dirumah sakit.”
“Benarkah itu? Kau bukan pencuri yang sedang berpura-pura, bukan?” tanya ajumma menampakkan wajah seramnya, membuat Junna sedikit takut.
“Anni, saya temannya. Bukan pencuri, sungguh. Manamungkin ada pencuri setampan ini, ajumma.” Kata Junna berpose cute. Ajumma itu mengangguk-angguk membenarkan.
“Baiklah saya percaya, kalau begitu kau adalah kekasih dari nona Park. Bukan begitu??” tanya ajumma, membuat Junna kaaget sekaligus senang.
“Hubungan kami belum sedekat itu, saya hanya sedang mencoba mendekatinya. Oh iya, perkenalkan nama saya Shin Junna.” Kata Junna menduk hormat.
“Saya Ah Jikyung. Tadi kau bilang nona Park dirawat dirumah sakita. Apakah keadaanya parah?”
“Anni, dia terkena usus buntu dan telah dioperasi.”
“Oh,begitu. Kalau begitu tolong jaga nona Park baik-baik, dia tidak memiliki keluarga di Korea.” Kata ajumma sedih. “Kalau begitu saya permisi dulu, saya harus mengecek yang lain.” Kata ajumma Ah pamit.
Junna menunduk hormat, kemudian dia juga pergi menuju rumah sakit dimana Sunny sedang dirawat dengan mobilnya. Setelah sampai, ia membawa tas yang ada di samping kursi pengemudi. Saat dia akan masuk, dia melihat seorng gadis tengah duduk di kursi taman dengan pakaian rumah sakit. Dia segera menghampirinya dan benar saja gadis itu adalah Sunny. Apa yang sedang dia lakukan disini?
“Hay!”
Suara itu mengagetkan Sunny yang tengah duduk sambil memandang ke atas. Ia segera menoleh dan didapatinya seorang laki-laki tengah berdiri di sampingnya sengan jas hitam yang membuatnya terlihat penasaran. Ditengadahkan kepalanya menatap wajah laki-laki yang familiar, dia adalah Shin Junna dengan membawa sebuah tas yang lumayan besar sambil berdecak pinggang.
“Annyong...” sapa Sunny menganggukkan kepalanya, menyadari laki-laki yang tengah menatapnya kesal karena hal tadi. Junna segera duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu Sunny. Saat Sunny ingin menggeser tubuhnya Junna menahannya agar Sunny tetap diam.
“Tetaplah seperti ini untuk beberapa saat lagi....” pinta Junna lembut, Sunny hanya diam tanpa bergerak dari duduknya. Junna yang mengetahui perkataannya didengar tersenyu kemudian memejamkan matanya. Entah kenapa dia sangat nyaman saat berada di dekat dengannya. Kemudian segera mengangkat kepalanya dan duduk dengan benar. “Ah, kenapa kau sangat tegang segang sekali?”
“Apa?” tanya Sunny tersadar dari lamunannya. “Mianhae, apa yang tadi Oppa bicarakan?”
“Ah, kau ini!” ucap Junna beralih mengacak rambut Sunny dengan sayang. Sunny segera merapihkan rambutnya yang acak-acakan karena ulah Junna. “Kenapa kau sudah berada di luar, hah?” tanya Junna memandang wajah Sunny yang juga tengah menatapnya.
Sunny segera memandang ke arah yang lain ketika mata keduanya bertemu. “Ah, itu karena ....” belum sempat Sunny menjelaskan tiba-tiba seorang sester menghampiri mereka.
“Rupanya kau di sini nona Park.” Kata suster itu membuat Junna dan Sunny menoleh. “Kami mencarimu sedari tadi. Ini sudah waktunya untuk pengecekan dan juga anda harus melakukan terapi.”
“Ne.” Jawab Sunny, dia perlahan bangkit dengan hati-hati dengan dibantu Junna dan suster. Dia dipapah oleh suster dengan hati-hati menuju ruang terapi kanker, sedangkan Junna mengikuti dibelakannya dengan membawa tas milik gadis itu dan sebuket bunga mawar putih. Sebenarnya Junna ingin menemani gadis itu, tapi suster melarangnya karena tempat itu harus seteril. Junna pun menuruti perkataan suster, kemudian dia pamit pergi menuju kamar Sunny. Dia menaruh bunga itu ke dalam fas dan tersenyum memandanginya.
Setelah satu jam pemeriksaan akhirnya Sunny selesai melakukan terapi dan surter membantunya menuju kamar perawatan, awalnya gadis itu sangat senang karena akan bertemu dengan Junna lagi. Tapi sesampainya di kamar dia tak menemukan sosok yang dia cari-cari hanya ada ruang kosong. Setelah suster membantunya berbaring, suster berpamitan pergi. Dia merasa kecewa, sebelumnya dia sangat senang karena ada seseorang yang menghawatirkan keadaannya, tapi ternyata tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar