Jumat, 14 November 2014

satu

Satu

Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya, seorang gadis terbangun ditengah malam yang dingin dan gelap. Terbangun dengan mimpi-mimpi buruk seperti biasanya. Mimpi yang sama yang membangunkannya disetiap ia tertidur, dengan nafas memburu dia belari menuju jendela. Dia membukanya lebar-lebar untuk mendapatkan oksigan, ia merasa kehabisan sesak nafaas. Mata indahnya menyusuri setiap objek yang ada di luar. Pohon-pohon di bawah sana yang hijau menjadi hitam karena keadaan yang masih gelap gurita dan keadaan kota Seoul yang belum memperlihatkan kantuknya. Benar-benar kota yang sibuk. Dia menyandarkan dagunya sambil memandangi keluar sampai subuh, matanya terus memandang sebuah cahaya kemerahan yang berada di ufuk timur. Benar, matahari terbit yang selalu dia rindukan setiap pagi menjelang. Serta tumbuhan hijau dan kicau burung yang selalu menyambut dirinya setiap pagi.
Dengan masih menggunakan piyamanya dia berjalan menuju kamar mandi, bukan untuk mandi atau membersihkan diri tetapi untuk berwudhu  kemudian sholat. Itu yang selalu dia lakukan setiap hari di waktu-waktu tertentu. Hal itu dia lakukan demi menunjukkan rasa cintanya pada Alloh, yang telah menciptakannya dan seluruh dunia ini.
“Assalamu’alaikum warohmatulloh..” katanya sambil menggelengkan kepalanya ke samping kiri tanda ia telah selesai.
Ditengadahkan kedua tangannya sambi diangkat di depan dada, dia ceritakan semua keluh kesahnya pada-Nya. Sambil menitihkan air mata dia terus meminta apa yang ada adalam pikirannya, meminta perlindungan, kebahagian untuk kedua orang tuanya.
Tok ... tok ... tok
Seorang wanita paruh baya tengah mengetuk pintu kamarnya, disudahinya doa yang ia panjatkan. Dia bergegas mengambil jilbabnya kemudian melihat siapa yang datang. Dibukanya pintu kamarnya dengan senyum ramah dibibir merahnya, dia persilahkan tamu itu masuk dan disuruhnya duduk.
“Sunny-sii, kau sudah memiliki uang untuk membayar sewa bulan ini?” tanya wanita paruh baya yang tengah duduk di sampingnya, tanpa basa basi.
“Ne, Ajumma. Sebentar saya ambil dulu.” katanya menuju meja belajarnya.
Dia menganbil sebuah amplop coklat di dalam ransel coklat yang biasa dia kenakan ketika pergi, dengan senyum yang masih terkembang dia menuju wanita paruh baya yang tengah duduk menantinya. Diserahkannya amplop yang berisi uang ratusan ribu won itu pada wanita paruh baya tersebut.
“Ajumma Shin, minhaeyo. Karena terlambat membayarnya..” katanya setelah menyerahkan amplop coklat.
“Ne, tidak apa-apa. Aku mengerti. Kalau begitu aku permisi”.
Wanita paruh baya yang dipanggil ajumma Shin berdiri dan pamit pergi, dia berjalan menuju pintu dengan diikuti oleh Sunny. Sunny menbungkuk ketika Ajumma Shin akan pergi dengan senyum yang masih terkembang dibibirnya. Di tutupnya kembali pintu setelah punggung Ajumma tidak terlihat.
Sejak tiga tahun lalu dia memang telah tinggal di tempat ini, karena biaya yang lebih mering dari yang lain dan terbebas dari anjing-anjing yang berkeliaran. Sehingga dia sangat beruntung untuk dapat menyewanya, apalagi ruangan ini yang berhadapan langsung dengan taman kota yang ada di bawah sana. Tempat tinggalnya berada di laintai dua, dengan ruangan yang cukup luas dia menyulapnya senyaman mungkin untuk di tempati.
Sudah sejak lama dia ingin pergi jauh dari rumahnya, itu dikarenakan oleh desakan ibunya yang menginginkan untuk segera menikah dengan laki-laki pilihan ibunya. Tapi dia menolaknya dan pergi dari rumah tanpa sepengetahuan orang, awalnya dia bingung harus pergi kemana. Dia hanya pergi dengan bermodalkan ijazah SMA, beberapa lembar uang ratusan ribu dan beberapa baju yang dia sengja bawa.
Entah bagaimana caranya sekarang dia berada di negeri dengan empat musim ini, dengan susah payah dia belajar dan menyesuaikan diri dengan penduduk setempat. Awal kedatangannya orang-orang memandangnya aneh. Bagaimana tidak dia berbeda, dia orang asing, dia berpenampilan tertutup dan itu aneh menurut orang asli negeri ini.
Tapi dia tidak goyah dengan pendiriannya, untuk terus mengenakan simbol kemuslimannya. Sebuah penutup kepala yang hanya memperlihatkan wajahnya. Meski orang memandangnya aneh, terkadang mereka mencemoohnya tapi dia tetap tersenyum menghadapi mereka tanpa emosi sedikitpun. Bila dia melihat orang kesusahan siapa pun mereka dia dengan senang hati akan membantunya, sehingga perlahan-lahan pandangan orang tentanya mulai berubah. Mereka tidak merasa asing atau takut padanya lagi, mereka cenderung menganggapnya seperti keluarga mereka sendiri.
Sunny telah siap dengan sepeda berwarna biru mudanya, siap mengayuhnya menuju universitas tempatnya menuntut ilmu. Di sepanjang perjalanan para tetangganya menyapa dengan senyum, dia pun membalasnya dengan senyuman ramah yang menenangkan hati setiap orang yang melihatnya.
Dengan waktu setengah jam dia akhirnya sampai di tempatnya menuntut ilmu, dia memarkirkan sepeda kesayangannya di tempat biasa. Dia sedikit berlari menuju kelas seni, takut bila songsaenim Han sudah masuk kelas. Karena dia tahu benar seperti apa songsaenimnya, ia sedikit lega ketika dia melihat songsaenim Han  tengah berjalan didepannya. Dia segera menghampirinya dan menyapanya.
“Annyonghaseyo, songsaenim Han.” Sapaku ketika berjalan disampingnya.
“Lagi-lagi kau terlambat!” katanya tanpa memandang lawan bicaranya.
“Ah, ne. Hehehe...” dia sedikit tertawa, “Songsaenim, aku pergi duluan ne?”
Dengan langkah cepat dan tanpa menunggu jawaban dari songsaenimnya dia pergi menuju kelas Seni, dia tahu sikapnya tidak sopan tapi apa kata teman-temannya ketika songsaenim lebih dulu tiba di kelas dari muridnya. Pasti mereka akan bergosip tenntangnya, dan terkadang mereka juga akan mengerjainya bila mereka tak suka padanya.
Songsaenim Han hanya geleng-geleng kepala melihat muridnya yang satu ini. Menurut para murid Sunny adalah murid emas songsaenim Han, apa pun yang dia lakukan pasti songsaenim Han akan membelanya. Itu memang benar, selagi dia masih melakukan hal benar songsaenim Han selalu ada di belakangnya untuk mendukung. Dia juaga mendapat nilai sempurna di setiap mata kuliah, sehingga dia menjadi kebanggaan para songsaenim di Sungkyungkwan University.
Meski selalu ramah pada siapa saja tetapi teman satu angkatannya tak menyukainya. Hal itu membuatnya sedikit sedih, bukan karena mereka membencinya melainkan dia takut tak bisa membuat mereka suka padanya. Dia segera duduk di meja paling depan yang biasa dia duduki, dan tempat itulah yang mereka persiapkan untuknya. Dengan sedikit peregangan otot karena telah mengayuh sepeda lumayan jauh, dia segera mengeluarkan sebuah buku catatan. Bukan buku catatan materi untuk hari ini melainkan, sebuah catatan untuk pekerjaannya. Dia memang selalu melakukan itu untuk sekedar mengisi waktu luangnya dan juga memperdalam ilmunya tentang pekerjaan yang dia geluti selama ini.
Songsaenim Han masuk kelas, setelah meletakkan tasnya di meja guru. Dia segera mengumumkan jika hari ini akan diadakan tes, dia memberi waktu pada muridnya untuk belajar terlebih dahulu. Para murid mengeluh kecuali Sunny yang dengan santainya dia membuka bulu pelajaran lain yang tidak ada kaitannya dengan seni. Itu memang kebiasaan songsaenimnya sejak dulu, tidak pernah menberi tahu pada muridny bila akan diadakan tes.
Setengah jam kelonggaran untuk mengulang pelajaran sebelumnya telah habis, songsaenim Han segera membagikan soal kepada muridnya. Sambil senang Sunny mengerjakan soal yang telah di sajikan, sedangkan yang lain dengan wajah muram mereka mengerjakannya. Mereka tak ada satupun yang berani bertanya apa lagi menanyakan jawaban pada yang lain, karena mereka tahu betapa menakutkannya songsaenim Han bila beliau marah, seluruh murid akan diberi nilai C kecuali Sunny. Seperti dua tahun yang lalu ketika salah seorang murid ketahuan mencontek, songsaenim Han langsung merobek lembar jawab murid tersebut kemudian memberikan nilai C pada semua anak kecuali Sunny karena dia telah selesai terlebih dahulu dari yang lain. Dari situlah mereka mulai tidak menyukai Sunny.
Setelah mengecek jawabannya beberapa kali, dia segera memasukan semua barang yang telah dikeluarkan ke dalam ransel coklatnya. Digendongnya ransel itu dan segera mengumpulkan lembar kerjanya kemudian tersenyum setelah menyerahkannya. Sedangkan yang lain terlihat sangat tidak senang kepadanya.
“Bagaimana? Mudah?” tanya songsaenim padanya.
“Anni, ini cukup memeras otakku...”
“Tapi kau dapat mengerjakannya bukan?”
Dia hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, “Songsaenim, saya pergi dulu.”
“Masih ada mata kuliah lain?”
Dia menggeleng, “Hari ini hanya Anda.”
“Kau akan kesana lagi?”
Dia mengangguk dengan yakin, kemudian pergi dengan senyum yang masih terkembang.
***
Sebuah mobil sport putih memasuki halaman perusahaan Global World, perusahaan terbesar di Korea Selatan. Sebuah perusahaan pemandu wisata bertaraf internasional, milik keluarga Shin. Sudah 50 tahun perusahaan ini dibangun, dengan kerja keras dan kegigihan  sehingga perusahaan ini dapat bertahan hingga sekarang.
Kini mobil sport putih telah berhenti di depan pintu masuk perusahaan, pintu mobil terbuka memperlihatkan seorang namja tampan berkulit putih seputih susu dengan kaca mata hitam bak pangeran dari negeri dongeng. Dia keluar dengan elegan, badannya yang jakun menambah kesan dia memang seorang pangeran. Dengan langkah besar dia memasuki lobi perusahaan. Namun niatnya harus terhenti ketika seorang petugas menghadangnya.
“Ya! kua pemilik kendaraan itu bukan?!”
“Ne, wae?”
“Cepat pindahkan mobilmu itu! Atau akan ku derek ke kantor polisi.”
“Ya! memangnya kau ini siapa?!”
“Aku kepala ke amanan di kantor ini. cepat pindahkan atau akan ku bawa ke kantor polisi! Dasar anak nakal!” seru penjaga.
Mau tidak mau namja itu segera memindahkan mobil kesayangannya yang seharga $700.000 dolar harus terpakir di kantor polisi dan pastinya akan di gembok. Dia mengutuk ajussi keamanan itu di dalam mobil sambil memparkirkan mobil kesayangannya. Setelah terparkir dengan benar dia segera masuk, tapi lagi-lagi di cegat oleh ajussi keamanan.
“Ya! pemuda siapa namamu?”
“Junna, Shin Junna.”
“Baiklah kau boleh masuk.” Seru ajussi keamanan.
Sekarang Sunny telah berada  di halaman salah satu gedung pencakar langit di kota Seoul tepatnya di peruahaan Global World, perusahaan tempatnya mencari uang untuk kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Dia memang telah bekerja di sini sejak awal kedatangannya, seperti reaksi orang Korea kebanyakan. Mereka merasa aneh melihatnya berpakaian tertutup dengan hanya memperlihatkan wajah dan telapak tangannya saja. Tapi mereka telah terbiasa karena sikapnya yang periang dan sangat sopan ke pada siapa saja yang dia temui. Dia memarkirkan sepedanya di samping mobil sport putih.
“Pagi ajussi,” sapanya pada satpam yang tengah berjaga di lobi.
“Pagi. Kau bolos, nona Park?” tanya ajussi satpam yang menghampirinya.
“Anniyo, hanya satu mata kuliah saja. Dari pada saya bosan lebih baik saya bekerja.” Jawabnya dengan tersenyum.
“Oh, tadi kau di panggil oleh Nyonya Presdir. Beliau menyuruhku untuk mengatakannya padamu saat kau datang.”
“Ada apa? Apakah aku berbuat kesalahan?” wajahnya berubah menjadi hawatir.
“Ajussi tidak tahu, mana mungkin kau berbuat kesalahan. Mungkin nyonya Presdir ingin berdiskusi denganmu. Cepat pergi, jangan membuatnya menunggu!”
Dia pamit pergi, dengan sedikit gugup dia mendatangi ruangan presdir yang berada di lantai 21. Dia sedikit berlari ketika melihat pintu lift akan tertutup, untung saja dia dapat mencegahnya dengan mengganjalkan kaki kanannya. Pintu lift terbuka kembali, dia melihat seorang namja dengan setelan rapih di dalam. Dengan malu dia masuk, dan namja itu menekan tombol 15.
“Annyong..” sapanya pada namja yang tengah memperhatikannya dari bawah sampai atas.
“An..nyong Agasshi..” dengan tergagap namja itu menjawab sapaannya.
Mereka hanya diam tanpa memandandang atau memperkenalkan diri. Sunny diam karena malu dengan tingkahnya barusan, dia merutuki dirinya yang tidak sopan. Sedangkan si namja, sedikit merasa tidak enak dan sedikit merasa takut berada satu lift dengannya. Sesekali namja itu meliriknya dengan ngeri sambil menjauh darinya.
‘Kenapa dengan namja ini, dia melihatku dengan aneh. Apa aku menakutinya? Memang semua orang menilai kepribadiannya dari caranya berpakaian, biarlah toh aku tidak berbuat dosa padanya. Alloh tahu itu.’ gerutu Sunny di dalam hatinya.
‘Tuhan, lindungi aku Tuhan. Tuhan kenapa aku harus satu lift dengan wanita aneh ini. Aku belum menikmati dunia ini, tolong lindungi aku tuhan.’ Pekiknya dalam hati.
Pintu lift terbuka di lantai 15, namja itu segera pergi tanpa berpamitan. Sedangkan Sunny melihatnya dengan tersenyum, dia menyadari namja itu pasti ketakutan melihatnya dengan pakaian seperti itu. Mungkin namja itu mengiranya pembunuh bayaran, atau penjahat. Ia segera memencet angka 20.
Pintu lift kembali terbuka, Sunny segera keluar dan berjalan menuju ruangan Presdir. Dia mulai gugup ketika yang di tuju telah terlihat, dia tersenyum untuk menghilangkan rasa gugupnya. Sekretaris Presdir menyapanya dan memperilahkannya masuk.
“Nona Sunny, anda telah di tunggu oleh Presdir. Silahkan masuk!” kata skretaris Presdir sambil membukakan pintu untuknya. Dianhanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.
“Presdir mencari saya?” tanyanya ketika telah berada di dalam.
“Ne, duduk nona Park.”
Dia kemudian duduk di sofa, “Apa ada masalah?”
“Anni, saya memanggilmu ke mari hanya ingin meminta bantuanmu.”
“Bantuaan?” Sunny terkejut bukan main.
“Ne, maukah kau mengawasi cucuku ini?”
“Cucu anda? Tapi saya tidak berbakat mengurus anak kecil, Presdir.”
Predir tertawa, “Anni, dia seumuran denganmu. Dia di tempatkan satu tim denganmu. Namanya Shin Junna, mungkin dia akan sedikit merepotkanmu. Saya berharap banyak padamu nona Park.”
Sunny terdiam, dia menimbang-nimbang permintaan Presdir Shin. “Hanya mengawasinya?”
Presdir mengangguk, “Kau boleh memperlakukannya seperti pegawai yang lain. Kau juga boleh memarahinya bila memang dia salah.”
“Ne..."
Dengan lesu Sunny berjalan menuju meja kerjanya, dia masih pikirkan permintaan Presdir yang menyuruhnya untuk membantunnya. Sebenarnya dia ingin menolaknya tapi apa daya dia banyak berhutang budi pada Presdir, dia tidak enak hati untuk menolaknya. Setidaknya dia dapat membalas hutang budinya dengan membantunya.
Tiga tahun lalu dia tak sengaja menolong seorang wanita tua yang hampir tertabrak truk di Jakarta. Wanita tua itu sangat berterima kasih padanya, dan wanita tua itu adalah Presdir Global Word. Wanita tua itu heran dengannya yang membawa bas besar.
“Namaku Shin EunJo. Nona siapa namamu?”
“Sunny.”
“Maaf, apa yang kau lakukan di malam-malam begini dan kenapa kau membawa tas besar?” tanya wanita tua itu.
“Saya pergi dari rumah, dan saya sedang mencari tempat tinggal.”
Nenek Shin mengajaknya untuk tinggal di rumahnya, awalnya dia tidak mau tetapi nenek Shin terus memaksanya, dan akhirnya dia bersedia tinggal di rumah nenek Shin. Karena tidak memiliki pekerjaan, dia bekerja pada nenek Shin selama tinggal di Indonesia. Selama itu pula nenek Shin mengajarinya berbahasa Korea, dengan waktu tiga bulan saja Sunny sudah fasih berbahasa Korea.
“Sunny-ya, apakah kau mau pergi bersamaku ke Korea?” tanya Nenek Shin saat mereka makan siang di sebuah restoran.
“Apa maksud nenek?” tanya Sunny bingung, dia segera meletakkan sendok dan gapunya untuk mendengarkan penjelasan yang keluar dari mulut orang yang telah membantunya selama ini.
“Kita akan tinggal di Korea, kau juga akan bekerja di perusahaan keluarga Kami. Kau juga bisa melanjutkan sekolah disana.”
“Tapi...”
“Ayolah Sunny-ya?” rintih nenek Shin sambil memohon.

“Hey!” seru seorang wanita sambil menepuk pundak Sunny dari belakang. Dia segera berbalik untuk melihat siapa orangnya.
“Kenapa melamun?” tanya wanita itu sambil berjalan disampingnya.
“Tidak. Sunbae Im, bagaimana proyek yang kita rencanakan temo hari?” tanya Sunny pada Im Sookyung. Seorang wanita dengan pakaian minim yang lumayan dekat dengannya, dia adalah sunbaenya. Meski dia kelihatannya sangat baik tapi sebenarnya dia adalah wanita pedendam dan sangat egois.
“Ah, entahlah manager belum membahasnya. Mungkin nanti saat rapat.”
Mereka pergi menuju ruang kerja, tetapi keadaannya sangat heboh karena anggota tim dan ketua tim tengah berkumpul di tengah entah apa yang sedang mereka lakukan. Tanpa mempedulikannya Sunny segera duduk di meja kerjanya sembari melihat-lihat dokumen yang belum selesai dia ketik. Sedangkan wanita yang bernama Im Sookyung sangat penasaran dengan apa yang terjadi, dia segera bergabung dengan kerumunan.
“Semuanya dengarkan aku!” seru ketua tim membuat semuanya diam.
“Hari ini, seorang namja akan bergabung dengan tim kita. Dia lulusan dari Amerika.” Seru ketua tim. Semua orang kecuali Sunny berteriak gembira. “Hey! Pemuda perkenalkan namamu!” seru ketua tim lagi.
Namja betubuh jangkun sedikit maju, “Annyonghaseo, jeoneun Shin Junna imnida . Je naineung 26 sarimnida. Saya lulusan dari Harvard University. Salam kenal.” Serunya kemudian membungkuk memberi hormat.
Semuanya lagi-lagi berteriak kagum dengan namja bernama Shin Junna, sedangkan Sunny enggan untuk melihat namja itu.  Para yeoja tengah antri untuk dapat berkenalan dengan kariawan baru itu, setelah semua selesai berkenalan Shin Junna segera menuju mejanya yang telah menumpuk beberapa berkas.
Matanya menangkap seorang wanita dengan pakaian tertutup tengah mengerjakan tugas denga  serius, dia menjadi penasaran dengan sosok wanita misterius itu. Dia baru menyadari sosok wanita misterius itu yang tadi selift dengannya, dia segera duduk dan sedikit menutupi wajahnya takut-takut wanita itu menatapnya.
“Hey, nona Im. Siapa wanita aneh itu?” tanya Junna berbisik pada wanita di sebelah meja kerjanya.
“Oh, dia Park Sunny. Dia telah bekerja di sini selama tiga tahun, dia wanita yang sangat baik. Tapi hati-hati padanya, dia suka menjilat. Kau tahu Presdir yang mempekerjakannya di perusahaan ini.” Jelas Sookyung pada Junna.
“Ya! Sunny-ssi, anggota baru kita ingin berkenalan denganmu!” seru Sookyung sambil berteriak.
Semuanya menoleh termasuk Sunny, Junna yang merasa malu karena ulah Im Sookyung segera berdiri dan memperkenalkan namanya.
“Shin Junna imnida.” Katanya kemudian membungkuk. ‘Dasar wanita sound sistem, berisik sekali!!’ maki Junna pada Sookyung di dalah hatinya.
Tampa berdiri Sunny memperkenalkan namanya, “Park Sunny imnida.” Kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Junna membalas senyumannya.
***
16:00 KST
Sunny segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ransel coklatnya, setelah dirasa tidak ada yang tertinggal dia berpamitan dengan seluruh pegawi untuk pulang.
“Manager, saya pulang dulu ne?” serunya sambil menggendong tas ranselnya, setelah mendapatkan izin dia segera pergi.
Junna yang melihat itu merasa aneh, ‘kenapa semua pegawai memperlakukan wanita mistis itu istimewa? Seistimewa apa wanita itu sebenarnya?’
“Ya, nona Im. Kenapa dia pulang cepat?” tanya Junna pada Im Sokyung yang tengah mengtik.
Sokyung yang tengah mengetik menoleh, menghembuskan nafas kesal. “Ya! bisakah kau tidak menggangguku. Tanyakan saja padanya.” Serunya kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya.
Junna merasa kesal dengan sikap rekannya itu dalam hati dia menggerutu, ‘waanita ini telah memperlihatkan taringnya sebelum mengincar mangsanya dengan benar. Kenapa halmoni memperkerjakan wanita aneh itu yang pulang sebelum waktunya?!’ batinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar