Satu
Pagi ini seperti pagi-pagi
sebelumnya, seorang gadis terbangun ditengah malam yang dingin dan gelap.
Terbangun dengan mimpi-mimpi buruk seperti biasanya. Mimpi yang sama yang
membangunkannya disetiap ia tertidur, dengan nafas memburu dia belari menuju
jendela. Dia membukanya lebar-lebar untuk mendapatkan oksigan, ia merasa
kehabisan sesak nafaas. Mata indahnya menyusuri setiap objek yang ada di luar.
Pohon-pohon di bawah sana yang hijau menjadi hitam karena keadaan yang masih
gelap gurita dan keadaan kota Seoul yang belum memperlihatkan kantuknya.
Benar-benar kota yang sibuk. Dia menyandarkan dagunya sambil memandangi keluar
sampai subuh, matanya terus memandang sebuah cahaya kemerahan yang berada di
ufuk timur. Benar, matahari terbit yang selalu dia rindukan setiap pagi
menjelang. Serta tumbuhan hijau dan kicau burung yang selalu menyambut dirinya
setiap pagi.
Dengan masih menggunakan piyamanya
dia berjalan menuju kamar mandi, bukan untuk mandi atau membersihkan diri
tetapi untuk berwudhu kemudian sholat.
Itu yang selalu dia lakukan setiap hari di waktu-waktu tertentu. Hal itu dia
lakukan demi menunjukkan rasa cintanya pada Alloh, yang telah menciptakannya
dan seluruh dunia ini.
“Assalamu’alaikum warohmatulloh..”
katanya sambil menggelengkan kepalanya ke samping kiri tanda ia telah selesai.
Ditengadahkan kedua tangannya sambi
diangkat di depan dada, dia ceritakan semua keluh kesahnya pada-Nya. Sambil
menitihkan air mata dia terus meminta apa yang ada adalam pikirannya, meminta
perlindungan, kebahagian untuk kedua orang tuanya.
Tok ... tok ... tok
Seorang wanita paruh baya tengah
mengetuk pintu kamarnya, disudahinya doa yang ia panjatkan. Dia bergegas
mengambil jilbabnya kemudian melihat siapa yang datang. Dibukanya pintu
kamarnya dengan senyum ramah dibibir merahnya, dia persilahkan tamu itu masuk
dan disuruhnya duduk.
“Sunny-sii, kau sudah memiliki uang
untuk membayar sewa bulan ini?” tanya wanita paruh baya yang tengah duduk di
sampingnya, tanpa basa basi.
“Ne, Ajumma. Sebentar saya ambil
dulu.” katanya menuju meja belajarnya.
Dia menganbil sebuah amplop coklat
di dalam ransel coklat yang biasa dia kenakan ketika pergi, dengan senyum yang
masih terkembang dia menuju wanita paruh baya yang tengah duduk menantinya.
Diserahkannya amplop yang berisi uang ratusan ribu won itu pada wanita paruh
baya tersebut.
“Ajumma Shin, minhaeyo. Karena
terlambat membayarnya..” katanya setelah menyerahkan amplop coklat.
“Ne, tidak apa-apa. Aku mengerti. Kalau
begitu aku permisi”.
Wanita paruh baya yang dipanggil
ajumma Shin berdiri dan pamit pergi, dia berjalan menuju pintu dengan diikuti
oleh Sunny. Sunny menbungkuk ketika Ajumma Shin akan pergi dengan senyum yang
masih terkembang dibibirnya. Di tutupnya kembali pintu setelah punggung Ajumma
tidak terlihat.
Sejak tiga tahun lalu dia memang
telah tinggal di tempat ini, karena biaya yang lebih mering dari yang lain dan
terbebas dari anjing-anjing yang berkeliaran. Sehingga dia sangat beruntung
untuk dapat menyewanya, apalagi ruangan ini yang berhadapan langsung dengan
taman kota yang ada di bawah sana. Tempat tinggalnya berada di laintai dua,
dengan ruangan yang cukup luas dia menyulapnya senyaman mungkin untuk di
tempati.
Sudah sejak lama dia ingin pergi
jauh dari rumahnya, itu dikarenakan oleh desakan ibunya yang menginginkan untuk
segera menikah dengan laki-laki pilihan ibunya. Tapi dia menolaknya dan pergi
dari rumah tanpa sepengetahuan orang, awalnya dia bingung harus pergi kemana.
Dia hanya pergi dengan bermodalkan ijazah SMA, beberapa lembar uang ratusan ribu
dan beberapa baju yang dia sengja bawa.
Entah bagaimana caranya sekarang dia
berada di negeri dengan empat musim ini, dengan susah payah dia belajar dan
menyesuaikan diri dengan penduduk setempat. Awal kedatangannya orang-orang
memandangnya aneh. Bagaimana tidak dia berbeda, dia orang asing, dia
berpenampilan tertutup dan itu aneh menurut orang asli negeri ini.
Tapi dia tidak goyah dengan
pendiriannya, untuk terus mengenakan simbol kemuslimannya. Sebuah penutup
kepala yang hanya memperlihatkan wajahnya. Meski orang memandangnya aneh,
terkadang mereka mencemoohnya tapi dia tetap tersenyum menghadapi mereka tanpa
emosi sedikitpun. Bila dia melihat orang kesusahan siapa pun mereka dia dengan
senang hati akan membantunya, sehingga perlahan-lahan pandangan orang tentanya
mulai berubah. Mereka tidak merasa asing atau takut padanya lagi, mereka
cenderung menganggapnya seperti keluarga mereka sendiri.
Sunny telah siap dengan sepeda
berwarna biru mudanya, siap mengayuhnya menuju universitas tempatnya menuntut
ilmu. Di sepanjang perjalanan para tetangganya menyapa dengan senyum, dia pun
membalasnya dengan senyuman ramah yang menenangkan hati setiap orang yang
melihatnya.
Dengan waktu setengah jam dia
akhirnya sampai di tempatnya menuntut ilmu, dia memarkirkan sepeda
kesayangannya di tempat biasa. Dia sedikit berlari menuju kelas seni, takut
bila songsaenim Han sudah masuk kelas. Karena dia tahu benar seperti apa
songsaenimnya, ia sedikit lega ketika dia melihat songsaenim Han tengah berjalan didepannya. Dia segera
menghampirinya dan menyapanya.
“Annyonghaseyo, songsaenim Han.”
Sapaku ketika berjalan disampingnya.
“Lagi-lagi kau terlambat!” katanya
tanpa memandang lawan bicaranya.
“Ah, ne. Hehehe...” dia sedikit
tertawa, “Songsaenim, aku pergi duluan ne?”
Dengan langkah cepat dan tanpa
menunggu jawaban dari songsaenimnya dia pergi menuju kelas Seni, dia tahu
sikapnya tidak sopan tapi apa kata teman-temannya ketika songsaenim lebih dulu
tiba di kelas dari muridnya. Pasti mereka akan bergosip tenntangnya, dan
terkadang mereka juga akan mengerjainya bila mereka tak suka padanya.
Songsaenim Han hanya geleng-geleng
kepala melihat muridnya yang satu ini. Menurut para murid Sunny adalah murid
emas songsaenim Han, apa pun yang dia lakukan pasti songsaenim Han akan
membelanya. Itu memang benar, selagi dia masih melakukan hal benar songsaenim
Han selalu ada di belakangnya untuk mendukung. Dia juaga mendapat nilai
sempurna di setiap mata kuliah, sehingga dia menjadi kebanggaan para songsaenim
di Sungkyungkwan University.
Meski selalu ramah pada siapa saja
tetapi teman satu angkatannya tak menyukainya. Hal itu membuatnya sedikit
sedih, bukan karena mereka membencinya melainkan dia takut tak bisa membuat
mereka suka padanya. Dia segera duduk di meja paling depan yang biasa dia
duduki, dan tempat itulah yang mereka persiapkan untuknya. Dengan sedikit
peregangan otot karena telah mengayuh sepeda lumayan jauh, dia segera mengeluarkan
sebuah buku catatan. Bukan buku catatan materi untuk hari ini melainkan, sebuah
catatan untuk pekerjaannya. Dia memang selalu melakukan itu untuk sekedar
mengisi waktu luangnya dan juga memperdalam ilmunya tentang pekerjaan yang dia
geluti selama ini.
Songsaenim Han masuk kelas, setelah
meletakkan tasnya di meja guru. Dia segera mengumumkan jika hari ini akan
diadakan tes, dia memberi waktu pada muridnya untuk belajar terlebih dahulu.
Para murid mengeluh kecuali Sunny yang dengan santainya dia membuka bulu
pelajaran lain yang tidak ada kaitannya dengan seni. Itu memang kebiasaan
songsaenimnya sejak dulu, tidak pernah menberi tahu pada muridny bila akan
diadakan tes.
Setengah jam kelonggaran untuk
mengulang pelajaran sebelumnya telah habis, songsaenim Han segera membagikan
soal kepada muridnya. Sambil senang Sunny mengerjakan soal yang telah di
sajikan, sedangkan yang lain dengan wajah muram mereka mengerjakannya. Mereka
tak ada satupun yang berani bertanya apa lagi menanyakan jawaban pada yang
lain, karena mereka tahu betapa menakutkannya songsaenim Han bila beliau marah,
seluruh murid akan diberi nilai C kecuali Sunny. Seperti dua tahun yang lalu
ketika salah seorang murid ketahuan mencontek, songsaenim Han langsung merobek
lembar jawab murid tersebut kemudian memberikan nilai C pada semua anak kecuali
Sunny karena dia telah selesai terlebih dahulu dari yang lain. Dari situlah
mereka mulai tidak menyukai Sunny.
Setelah mengecek jawabannya beberapa
kali, dia segera memasukan semua barang yang telah dikeluarkan ke dalam ransel
coklatnya. Digendongnya ransel itu dan segera mengumpulkan lembar kerjanya
kemudian tersenyum setelah menyerahkannya. Sedangkan yang lain terlihat sangat
tidak senang kepadanya.
“Bagaimana? Mudah?” tanya songsaenim
padanya.
“Anni, ini cukup memeras otakku...”
“Tapi kau dapat mengerjakannya
bukan?”
Dia hanya mengangguk pelan sambil
tersenyum, “Songsaenim, saya pergi dulu.”
“Masih ada mata kuliah lain?”
Dia menggeleng, “Hari ini hanya
Anda.”
“Kau akan kesana lagi?”
Dia mengangguk dengan yakin,
kemudian pergi dengan senyum yang masih terkembang.
***
Sebuah mobil sport putih memasuki
halaman perusahaan Global World, perusahaan terbesar di Korea Selatan. Sebuah
perusahaan pemandu wisata bertaraf internasional, milik keluarga Shin. Sudah 50
tahun perusahaan ini dibangun, dengan kerja keras dan kegigihan sehingga perusahaan ini dapat bertahan hingga
sekarang.
Kini mobil sport putih telah
berhenti di depan pintu masuk perusahaan, pintu mobil terbuka memperlihatkan
seorang namja tampan berkulit putih seputih susu dengan kaca mata hitam bak pangeran
dari negeri dongeng. Dia keluar dengan elegan, badannya yang jakun menambah
kesan dia memang seorang pangeran. Dengan langkah besar dia memasuki lobi
perusahaan. Namun niatnya harus terhenti ketika seorang petugas menghadangnya.
“Ya! kua pemilik kendaraan itu
bukan?!”
“Ne, wae?”
“Cepat pindahkan mobilmu itu! Atau
akan ku derek ke kantor polisi.”
“Ya! memangnya kau ini siapa?!”
“Aku kepala ke amanan di kantor ini.
cepat pindahkan atau akan ku bawa ke kantor polisi! Dasar anak nakal!” seru
penjaga.
Mau tidak mau namja itu segera
memindahkan mobil kesayangannya yang seharga $700.000 dolar harus terpakir di
kantor polisi dan pastinya akan di gembok. Dia mengutuk ajussi keamanan itu di
dalam mobil sambil memparkirkan mobil kesayangannya. Setelah terparkir dengan
benar dia segera masuk, tapi lagi-lagi di cegat oleh ajussi keamanan.
“Ya! pemuda siapa namamu?”
“Junna, Shin Junna.”
“Baiklah kau boleh masuk.” Seru
ajussi keamanan.
Sekarang Sunny telah berada di halaman salah satu gedung pencakar langit
di kota Seoul tepatnya di peruahaan Global World, perusahaan tempatnya mencari
uang untuk kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Dia memang telah bekerja di sini
sejak awal kedatangannya, seperti reaksi orang Korea kebanyakan. Mereka merasa
aneh melihatnya berpakaian tertutup dengan hanya memperlihatkan wajah dan
telapak tangannya saja. Tapi mereka telah terbiasa karena sikapnya yang periang
dan sangat sopan ke pada siapa saja yang dia temui. Dia memarkirkan sepedanya
di samping mobil sport putih.
“Pagi ajussi,” sapanya pada satpam
yang tengah berjaga di lobi.
“Pagi. Kau bolos, nona Park?” tanya ajussi
satpam yang menghampirinya.
“Anniyo, hanya satu mata kuliah
saja. Dari pada saya bosan lebih baik saya bekerja.” Jawabnya dengan tersenyum.
“Oh, tadi kau di panggil oleh Nyonya
Presdir. Beliau menyuruhku untuk mengatakannya padamu saat kau datang.”
“Ada apa? Apakah aku berbuat
kesalahan?” wajahnya berubah menjadi hawatir.
“Ajussi tidak tahu, mana mungkin kau
berbuat kesalahan. Mungkin nyonya Presdir ingin berdiskusi denganmu. Cepat
pergi, jangan membuatnya menunggu!”
Dia pamit pergi, dengan sedikit
gugup dia mendatangi ruangan presdir yang berada di lantai 21. Dia sedikit
berlari ketika melihat pintu lift akan tertutup, untung saja dia dapat
mencegahnya dengan mengganjalkan kaki kanannya. Pintu lift terbuka kembali, dia
melihat seorang namja dengan setelan rapih di dalam. Dengan malu dia masuk, dan
namja itu menekan tombol 15.
“Annyong..” sapanya pada namja yang
tengah memperhatikannya dari bawah sampai atas.
“An..nyong Agasshi..” dengan
tergagap namja itu menjawab sapaannya.
Mereka hanya diam tanpa memandandang
atau memperkenalkan diri. Sunny diam karena malu dengan tingkahnya barusan, dia
merutuki dirinya yang tidak sopan. Sedangkan si namja, sedikit merasa tidak
enak dan sedikit merasa takut berada satu lift dengannya. Sesekali namja itu
meliriknya dengan ngeri sambil menjauh darinya.
‘Kenapa dengan namja ini, dia
melihatku dengan aneh. Apa aku menakutinya? Memang semua orang menilai
kepribadiannya dari caranya berpakaian, biarlah toh aku tidak berbuat dosa
padanya. Alloh tahu itu.’ gerutu Sunny di dalam hatinya.
‘Tuhan, lindungi aku Tuhan. Tuhan
kenapa aku harus satu lift dengan wanita aneh ini. Aku belum menikmati dunia
ini, tolong lindungi aku tuhan.’ Pekiknya dalam hati.
Pintu lift terbuka di lantai 15,
namja itu segera pergi tanpa berpamitan. Sedangkan Sunny melihatnya dengan
tersenyum, dia menyadari namja itu pasti ketakutan melihatnya dengan pakaian
seperti itu. Mungkin namja itu mengiranya pembunuh bayaran, atau penjahat. Ia
segera memencet angka 20.
Pintu lift kembali terbuka, Sunny
segera keluar dan berjalan menuju ruangan Presdir. Dia mulai gugup ketika yang
di tuju telah terlihat, dia tersenyum untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Sekretaris Presdir menyapanya dan memperilahkannya masuk.
“Nona Sunny, anda telah di tunggu
oleh Presdir. Silahkan masuk!” kata skretaris Presdir sambil membukakan pintu
untuknya. Dianhanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.
“Presdir mencari saya?” tanyanya
ketika telah berada di dalam.
“Ne, duduk nona Park.”
Dia kemudian duduk di sofa, “Apa ada
masalah?”
“Anni, saya memanggilmu ke mari
hanya ingin meminta bantuanmu.”
“Bantuaan?” Sunny terkejut bukan
main.
“Ne, maukah kau mengawasi cucuku
ini?”
“Cucu anda? Tapi saya tidak berbakat
mengurus anak kecil, Presdir.”
Predir tertawa, “Anni, dia seumuran
denganmu. Dia di tempatkan satu tim denganmu. Namanya Shin Junna, mungkin dia
akan sedikit merepotkanmu. Saya berharap banyak padamu nona Park.”
Sunny terdiam, dia menimbang-nimbang
permintaan Presdir Shin. “Hanya mengawasinya?”
Presdir mengangguk, “Kau boleh
memperlakukannya seperti pegawai yang lain. Kau juga boleh memarahinya bila
memang dia salah.”
“Ne..."
Dengan lesu Sunny berjalan menuju
meja kerjanya, dia masih pikirkan permintaan Presdir yang menyuruhnya untuk
membantunnya. Sebenarnya dia ingin menolaknya tapi apa daya dia banyak
berhutang budi pada Presdir, dia tidak enak hati untuk menolaknya. Setidaknya
dia dapat membalas hutang budinya dengan membantunya.
Tiga tahun lalu dia tak sengaja
menolong seorang wanita tua yang hampir tertabrak truk di Jakarta. Wanita tua
itu sangat berterima kasih padanya, dan wanita tua itu adalah Presdir Global
Word. Wanita tua itu heran dengannya yang membawa bas besar.
“Namaku Shin EunJo. Nona siapa
namamu?”
“Sunny.”
“Maaf, apa yang kau lakukan di
malam-malam begini dan kenapa kau membawa tas besar?” tanya wanita tua itu.
“Saya pergi dari rumah, dan saya
sedang mencari tempat tinggal.”
Nenek Shin mengajaknya untuk tinggal
di rumahnya, awalnya dia tidak mau tetapi nenek Shin terus memaksanya, dan
akhirnya dia bersedia tinggal di rumah nenek Shin. Karena tidak memiliki
pekerjaan, dia bekerja pada nenek Shin selama tinggal di Indonesia. Selama itu
pula nenek Shin mengajarinya berbahasa Korea, dengan waktu tiga bulan saja
Sunny sudah fasih berbahasa Korea.
“Sunny-ya, apakah kau mau pergi
bersamaku ke Korea?” tanya Nenek Shin saat mereka makan siang di sebuah
restoran.
“Apa maksud nenek?” tanya Sunny
bingung, dia segera meletakkan sendok dan gapunya untuk mendengarkan penjelasan
yang keluar dari mulut orang yang telah membantunya selama ini.
“Kita akan tinggal di Korea, kau
juga akan bekerja di perusahaan keluarga Kami. Kau juga bisa melanjutkan
sekolah disana.”
“Tapi...”
“Ayolah Sunny-ya?” rintih nenek Shin
sambil memohon.
“Hey!” seru seorang wanita sambil
menepuk pundak Sunny dari belakang. Dia segera berbalik untuk melihat siapa
orangnya.
“Kenapa melamun?” tanya wanita itu sambil
berjalan disampingnya.
“Tidak. Sunbae Im, bagaimana proyek
yang kita rencanakan temo hari?” tanya Sunny pada Im Sookyung. Seorang wanita
dengan pakaian minim yang lumayan dekat dengannya, dia adalah sunbaenya. Meski
dia kelihatannya sangat baik tapi sebenarnya dia adalah wanita pedendam dan
sangat egois.
“Ah, entahlah manager belum
membahasnya. Mungkin nanti saat rapat.”
Mereka pergi menuju ruang kerja,
tetapi keadaannya sangat heboh karena anggota tim dan ketua tim tengah
berkumpul di tengah entah apa yang sedang mereka lakukan. Tanpa mempedulikannya
Sunny segera duduk di meja kerjanya sembari melihat-lihat dokumen yang belum
selesai dia ketik. Sedangkan wanita yang bernama Im Sookyung sangat penasaran
dengan apa yang terjadi, dia segera bergabung dengan kerumunan.
“Semuanya dengarkan aku!” seru ketua
tim membuat semuanya diam.
“Hari ini, seorang namja akan
bergabung dengan tim kita. Dia lulusan dari Amerika.” Seru ketua tim. Semua
orang kecuali Sunny berteriak gembira. “Hey! Pemuda perkenalkan namamu!” seru
ketua tim lagi.
Namja betubuh jangkun sedikit maju,
“Annyonghaseo, jeoneun Shin Junna imnida . Je naineung 26 sarimnida. Saya
lulusan dari Harvard University. Salam kenal.” Serunya kemudian membungkuk
memberi hormat.
Semuanya lagi-lagi berteriak kagum
dengan namja bernama Shin Junna, sedangkan Sunny enggan untuk melihat namja
itu. Para yeoja tengah antri untuk dapat
berkenalan dengan kariawan baru itu, setelah semua selesai berkenalan Shin
Junna segera menuju mejanya yang telah menumpuk beberapa berkas.
Matanya menangkap seorang wanita
dengan pakaian tertutup tengah mengerjakan tugas denga serius, dia menjadi penasaran dengan sosok
wanita misterius itu. Dia baru menyadari sosok wanita misterius itu yang tadi
selift dengannya, dia segera duduk dan sedikit menutupi wajahnya takut-takut
wanita itu menatapnya.
“Hey, nona Im. Siapa wanita aneh
itu?” tanya Junna berbisik pada wanita di sebelah meja kerjanya.
“Oh, dia Park Sunny. Dia telah
bekerja di sini selama tiga tahun, dia wanita yang sangat baik. Tapi hati-hati
padanya, dia suka menjilat. Kau tahu Presdir yang mempekerjakannya di
perusahaan ini.” Jelas Sookyung pada Junna.
“Ya! Sunny-ssi, anggota baru kita
ingin berkenalan denganmu!” seru Sookyung sambil berteriak.
Semuanya menoleh termasuk Sunny, Junna
yang merasa malu karena ulah Im Sookyung segera berdiri dan memperkenalkan
namanya.
“Shin Junna imnida.” Katanya
kemudian membungkuk. ‘Dasar wanita sound sistem, berisik sekali!!’ maki Junna
pada Sookyung di dalah hatinya.
Tampa berdiri Sunny memperkenalkan
namanya, “Park Sunny imnida.” Kemudian menganggukkan kepalanya sambil
tersenyum. Junna membalas senyumannya.
***
16:00 KST
Sunny segera memasukkan
barang-barangnya ke dalam tas ransel coklatnya, setelah dirasa tidak ada yang
tertinggal dia berpamitan dengan seluruh pegawi untuk pulang.
“Manager, saya pulang dulu ne?”
serunya sambil menggendong tas ranselnya, setelah mendapatkan izin dia segera
pergi.
Junna yang melihat itu merasa aneh,
‘kenapa semua pegawai memperlakukan wanita mistis itu istimewa? Seistimewa apa
wanita itu sebenarnya?’
“Ya, nona Im. Kenapa dia pulang
cepat?” tanya Junna pada Im Sokyung yang tengah mengtik.
Sokyung yang tengah mengetik
menoleh, menghembuskan nafas kesal. “Ya! bisakah kau tidak menggangguku.
Tanyakan saja padanya.” Serunya kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya.
Junna merasa kesal dengan sikap
rekannya itu dalam hati dia menggerutu, ‘waanita ini telah memperlihatkan
taringnya sebelum mengincar mangsanya dengan benar. Kenapa halmoni
memperkerjakan wanita aneh itu yang pulang sebelum waktunya?!’ batinya sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar