Selasa, 05 Mei 2015

31 Old Woman - Satu



“Haah...” Dani menghela nafasnya lelah. Ia berjalan menysuri lorong pabrik yang sepi menuju toilet. Saat ini adalah jam kerja, sehingga semua karyawan berada di ruangan masing-masing, kecuali OB atau OG yang tugasnya membersihkan semua isi pabrik.
Dia memijit tengkuknya yang terasa kaku, serta tangannya yang seperti mau copot. Pekerjaannya cukup berat sebenarnya. Tapi bukan dia saja pekerja wanita yang ada di pabrik ini. Ada sekitar 1000 pekerja wanita yang menggantungkan hidupnya disini.
Dia cukup beruntung karena dia tidak susah-susah lagi mencari kerja, karena ia telah menjadi karyawan tetap di sana. Setelah dua tahun bekerja di sana, serta berbagai ujian yang ia lakukan, akhirnya ia diakui sebagai karyawan.
“Oeee....oeee..oee.”
“Apakah itu suara bayi?” gumamnya, “Tapi, mana mungkin. Perusahaan melarang anak kecil masuk.” Ia berhenti, memastikan ia tidak salah dengar.
“Oee...oee..oe..”
Kali ini suara itu terdengar lebih kencang. “Tidak salah lagi, itu memang suara bayi.” Ia berjalan, mencari sumber suara. Menyusuri lorong demi lorong. Bahkan hingga ia lupa tujuan awalnya.
Ia membuka sebuah ruangan, ada sebuah kereta dorong bayi di dekat meja kerja. Tanpa berfikir panjang, dia menggendong bayi yang sedang menangis tersebut. Dia timang-timang bayi tersebut, hingga berhenti menangis.
“Hallo, sweety. Namamu siapa swety?” ucapnya mengajak bicara, seorang anak berusia 5 bulan. Tapi bayi itu malah tertawa sambil menggapai-gapai wajah Dani. Ia terus menggoda bayi tersebut dengan mendekat-dekatkan wajahnya, sehingga bayi tersebut tertawa.
“Bakpao, kamu seneng ya? Mana ayah dan ibu mu, hem?” ucapnya, ia menyelipkan jari telunjuknya pada tangan mungil dan lembut itu.
Di ambang pintu, seorang pria dengan penampilan jadul. Rambut dibelah dengan banyak minyak rambut. Kaca mata besar serta baju yang norak. Dia memperhatikan Dani yang tengah menenangkan anaknya. Ia tersenyum, baru kali ini ia melihat anaknya tertawa dengan orang lain. Bahkan keluarganya saja tidak ada yang mampu membuat anaknya tertawa.
“Pao, kenapa kau sangat manis sekali?” Dani menempelkan hidungnya pada bayi itu, kemudian mencium pipi.
Pria yang ada di ambang pintu, mengepalkan tangannya serta air mukanya berubah marah. Dia segera menghampiri wanita itu dan mencekal lengan kanannya.
Dani terkesiap mendapati seorang pria mencekal tangannya. “Maaf pak. Saya hanya ingin menenangkan pao. Itu saja.” Ucapnya takut-takut.
“Kau sebut apa anakku tadi? PAO?!!”
Dani menunduk, memejamkan matanya sekilas sambil mengernyit. “Tamat riwayatmu, Dan.” Gumamnya.
“Maaf Pak, saya telah lancang.” Ucapnya takut-takut.
“Khodijah Ramadani.” gumam pria itu. Ia menyeret Dani keluar ruangan. “Dibagian mana kamu bekerja?” ucapnya sambil terus menyeret gadis itu.
“Me-mesin Pak.” Ucapnya takut, sebenarnya ia kewalahan mengikuti pria itu karena ia menggendong anak berumur 5 bulan. Ia harus berhati-hati agar tidak terjelembab jatuh. Pria itu mencekal lengannya dengan kuat dan langkah pria itu yang pancang dan cepat.
“Sam, suruh semua karyawan ke aula. Jangan sisakan semuanya.” Ucapnya pada seseorang yang ada di seberang.
“Pak, kenapa kita ke aula?” Tapi pria itu tidak menjawab dan terus menyeret Dani.
Keadaan aula telah dipenuhi dengan dengan para karyawan. Ke tiga orang itu melewati kerumunan tanpa halangan berarti. Hanya perasaan Dani yang mendadak tidak enak, karena mendapat tatapan mencemooh dari rekan-rekan kerjanya. Ia juga mendapat firasat buruk tentang hal ini.
Mereka tiba di podium. Dani mencoba melepaskan tangannya. Ia sangat malu sekarang, dipandangi seluruh karyawan dengan pandangan menilai dan juga mencemooh. Dia juga malu setiap kali harus berdiri di depan umum seperti sekarang.
“Perhatian-perhatian.” Seru pria itu menggunakan pengeras suara, tapi para karyawan tengah menggosipkan mereka.
“Direktur baru kita kampungan sekali, katanya lulusan luar negeri.”
“Dia seperti autis, yang salah masuk sekolah.”
“Kenapa dia ada di sini? Apa dia tidak salah masuk?”
“Lalu siapa wanita yang ada di sampingnya?”
“Dilihat dari seragamnya, dia sama seperti kita. Malang sekali nasibnya.”
“Dia seperti wanita murahan yang, meminta pertanggung jawaban pada seorang pria. Tapi sayang, pria itu sangat, euhhh. Mejijikan dan memuakkan dilihat.”
Dani mendengar dengan jelas orang-orang bergosip tentang dirinya. Tanpa dapat dihalangi, kristal cair jatuh dari kedua sudut matanya. Ia menunduk, ketika mendengar kata murahan tersemat di dalam dirinya.
Pria itu memandang wanita yang ada di sampingnya. Melepas cekalan tangannya dan menarik pinggul wanita itu mendekat. Ia memeluk eret pinggul wanita itu seolah tak ingin menyakitinya.
Dia mengutuk microfhone. “Diam semuanya!” bentaknya dengan nada yang membuat semua orang terdiam dan juga ketakutan.
Pria itu berdehem sebentar untuk menormalkan suaranya. “Perhatian semuanya! Pertama, saya akan memperkenalkan diri. Saya Al Juna Shin, saya adalah direktur baru di pabrik ini. Dan wanita serta bayi yang ada di gendongannya adalah anak kami. Dia adalah kekasih saya, ibu dari anak saya.”
Dani syok, mendengar pengakuan dari pria yang baru pertama ditemuinya. Benar saja sekarang nama murahan yang tersemat cocok untuknya. Wanita tanpa ikatan mengumumkan memiliki anak dengan orang yang baru saja ia tahu namanya. Keadaan aula menjadi ricuh setelah mendengar pengklaiman dirinya.
“Kami akan menikah 2 bulan lagi. Siapa pun yang bergosip tentang kami, saya tidak akan segan-segan untuk memecat detik itu juga! Dan saya tidak main-main dengan ucapan saya!”
Juna menarik Dani, meninggalkan aula. Dia berjalan cepat menuju ruangannya. Ekspresi wajahnya sangat dingin dengan rahang yang mengeras, menahan amarah. Sedangkan Dani mengikutinya dengan pandangan kosong.
Mereka tiba di ruang kerja Juna. Mengunci pintu dan menggiring wanita itu menuju sofa yang ada di ruangannya. Mendudukkan wanita itu dan menggendong bayi itu dan menidurkannya di kereta bayi.
Juna meletakkan segelas air putih di depan wanita itu. “Kita harus bicara, nona Khodijah!.” Gadis itu tidak merespon.
“Maaf mengenai hal tadi. Aku sungguh-sungguh ingin menikahimu. Aku tahu diumur sekarang, banyak pria yang lebih memilih yang lebih muda, cantik dan seksi. Pasti mereka akan berfikir ulang untuk menikahimu.”
Dani menundukkan wajahnya memikirkan pernyataan pria itu. Dia mengglatukkan giginya menahan amarah. Matanya berkaca-kaca, siap menumpahkan air bah yang sewaktu-waktu siap meluap. Hatinya sakit mendengar ucapan pria itu.
“Apa pandangan pernikahan bagi anda?”
“Setatus untuk menutupi sebuah nafsu, kenapa kau mananyakan itu?”
“Kalau begitu saya menolak. Banyak wanita di luar sana yang dengan suka rela menyalurkan kebutuhan anda. Saya tidak bisa menikah dengan niat yang tidak masuk akal seperti itu. Saya akui, memang saya tidak menarik, tidak seksi dan juga tua. Saya akui itu. Tapi bukan berarti anda bisa seolah saya tidak laku.” Ucapnya dengan menaikkan satu oktaf.
“Kalua kamu memang laku, tidak mungkin sekarang menyandang status singgle. Dengan sifatmu seperti ini, saya yakin tidak ada yang mau denganmu.”
“CUKUP!! ANDA TIDAK BISA MENGHAKIMI SAYA DENGAN STATUS SAYA!” ucapnya langsung berdiri dengan dada yang naik turun.
“Diam! Kau bisa mengganggu tidur anakku!” ucapnya sinis. “Setiap pernikahan pasti akan berakhir dengan perpisahan... Apa konsep menurutmu?”
“Tidak semua pernikahan berakhir dengan perpisahan. Hanya pernikahan yang didasarkan karena Allahlah yang akan selalu abadi. Pernikahan itu pernyataan cinta dan setia di hadapan Tuhan.” Dadanya naik turun serta hidungnya kembang kempis dan air bah yang sedari tadi ditahan telah jebol.
“Bukan berarti karena belum menikah, saya tidak laku. Saya hanya menyeleksi siapa yang yang cocok menjadi pendamping hidup saya.” Lanjutnya sambil menahan isakannya.
Dani berjalan cepat menuju pintu, dengan cepat Juna mengejar dan mencengkram pergelangan tangan kirinya. Membalikkan tubuh wanita itu menjadi berhadapan. Mendorongnya kedinding sambil mengunci kedua pergelangan tangan.
“Aku tahu, kamu menolakku karena penampilanku, bukan? Dengan penampilan yang norak seperti ini, mustahil wanita melirikku. Sekalipun wanita buta. Mereka hanya mengandalkan kekayaan untuk bisa dipuaskan. Kau juga seperti itu bukan?”
Dani meronta, mencoba melepaskan diri. “Apa kau bilang?! Aku bukan wanita rendehan seperti itu. Aku hanya perlu seorang imam yang akan membawaku ke jalan yang lurus.”
Juna tertawa pilu, mendengar ucapan wanita itu. Di zaman sekarang, masih ada wanita yang tidak melihat harta? Ini sangat langka!
“Lalu aku harus menyebutmu wanita religius, yang menunggu seorang pria alim untuk di jadikan suami? Hah. Jangan munafik nona, kita hidup di dunia yang kejam. Bukan di dunia mimpi yang dapat kita atur sendiri.”
Juna mendekatkan wajahnya, “Aku hanya butuh tubuhmu, kesetiaan dan juga merawat anakku. Banyak keuntungan jika kamu menjadi istriku. Kau bisa hidup nyaman tanpa perlu bersusah payah, itu salah satunya.”
Juna menempelkan bibirnya pada bibir Dani. Ciuman pertamanya. Ciuman untuk suaminya kelak. Dani membela-lakan matanya syok. Bibirnya sudah tidak perawan lagi?!
Sedangkan Juna, menikmati setiap sapuan bibinya pada bibir wanita yang beberapa saat lalu menjadi calon istrinya. Ciuman itu terlihat kasar, melumat, menjilat menghisap. Dani menamparnya tepat di pipi kiri. Membuatnya mundur dan menghapus darah yang mengalir di sudut bibir. Pria itu tersenyum sinis dan menjilat darah yang ada di tangannya.

“KAU GILA!”
______________________
Coppyan dari Wattpad saya, mudah-mudahan kalian suka.
vote dan kritik ditunggu dengan senang hati. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar