“Haah...” Dani menghela nafasnya lelah. Ia berjalan menysuri lorong
pabrik yang sepi menuju toilet. Saat ini adalah jam kerja, sehingga semua karyawan
berada di ruangan masing-masing, kecuali OB atau OG yang tugasnya membersihkan
semua isi pabrik.
Dia memijit tengkuknya yang terasa kaku, serta tangannya yang
seperti mau copot. Pekerjaannya cukup berat sebenarnya. Tapi bukan dia saja
pekerja wanita yang ada di pabrik ini. Ada sekitar 1000 pekerja wanita yang
menggantungkan hidupnya disini.
Dia cukup beruntung karena dia tidak susah-susah lagi mencari
kerja, karena ia telah menjadi karyawan tetap di sana. Setelah dua tahun
bekerja di sana, serta berbagai ujian yang ia lakukan, akhirnya ia diakui
sebagai karyawan.
“Oeee....oeee..oee.”
“Apakah itu suara bayi?” gumamnya, “Tapi, mana mungkin. Perusahaan
melarang anak kecil masuk.” Ia berhenti, memastikan ia tidak salah dengar.
“Oee...oee..oe..”
Kali ini suara itu terdengar lebih kencang. “Tidak salah lagi, itu
memang suara bayi.” Ia berjalan, mencari sumber suara. Menyusuri lorong demi
lorong. Bahkan hingga ia lupa tujuan awalnya.
Ia membuka sebuah ruangan, ada sebuah kereta dorong bayi di dekat
meja kerja. Tanpa berfikir panjang, dia menggendong bayi yang sedang menangis
tersebut. Dia timang-timang bayi tersebut, hingga berhenti menangis.
“Hallo, sweety. Namamu siapa swety?” ucapnya mengajak bicara,
seorang anak berusia 5 bulan. Tapi bayi itu malah tertawa sambil
menggapai-gapai wajah Dani. Ia terus menggoda bayi tersebut dengan
mendekat-dekatkan wajahnya, sehingga bayi tersebut tertawa.
“Bakpao, kamu seneng ya? Mana ayah dan ibu mu, hem?” ucapnya, ia
menyelipkan jari telunjuknya pada tangan mungil dan lembut itu.
Di ambang pintu, seorang pria dengan penampilan jadul. Rambut
dibelah dengan banyak minyak rambut. Kaca mata besar serta baju yang norak. Dia
memperhatikan Dani yang tengah menenangkan anaknya. Ia tersenyum, baru kali ini
ia melihat anaknya tertawa dengan orang lain. Bahkan keluarganya saja tidak ada
yang mampu membuat anaknya tertawa.
“Pao, kenapa kau sangat manis sekali?” Dani menempelkan hidungnya
pada bayi itu, kemudian mencium pipi.
Pria yang ada di ambang pintu, mengepalkan tangannya serta air
mukanya berubah marah. Dia segera menghampiri wanita itu dan mencekal lengan
kanannya.
Dani terkesiap mendapati seorang pria mencekal tangannya. “Maaf
pak. Saya hanya ingin menenangkan pao. Itu saja.” Ucapnya takut-takut.
“Kau sebut apa anakku tadi? PAO?!!”
Dani menunduk, memejamkan matanya sekilas sambil mengernyit. “Tamat
riwayatmu, Dan.” Gumamnya.
“Maaf Pak, saya telah lancang.” Ucapnya takut-takut.
“Khodijah Ramadani.” gumam pria itu. Ia menyeret Dani keluar
ruangan. “Dibagian mana kamu bekerja?” ucapnya sambil terus menyeret gadis itu.
“Me-mesin Pak.” Ucapnya takut, sebenarnya ia kewalahan mengikuti
pria itu karena ia menggendong anak berumur 5 bulan. Ia harus berhati-hati agar
tidak terjelembab jatuh. Pria itu mencekal lengannya dengan kuat dan langkah
pria itu yang pancang dan cepat.
“Sam, suruh semua karyawan ke aula. Jangan sisakan semuanya.”
Ucapnya pada seseorang yang ada di seberang.
“Pak, kenapa kita ke aula?” Tapi pria itu tidak menjawab dan terus
menyeret Dani.
Keadaan aula telah dipenuhi dengan dengan para karyawan. Ke tiga
orang itu melewati kerumunan tanpa halangan berarti. Hanya perasaan Dani yang
mendadak tidak enak, karena mendapat tatapan mencemooh dari rekan-rekan
kerjanya. Ia juga mendapat firasat buruk tentang hal ini.
Mereka tiba di podium. Dani mencoba melepaskan tangannya. Ia sangat
malu sekarang, dipandangi seluruh karyawan dengan pandangan menilai dan juga
mencemooh. Dia juga malu setiap kali harus berdiri di depan umum seperti
sekarang.
“Perhatian-perhatian.” Seru pria itu menggunakan pengeras suara,
tapi para karyawan tengah menggosipkan mereka.
“Direktur baru kita kampungan sekali, katanya lulusan luar
negeri.”
“Dia seperti autis, yang salah masuk sekolah.”
“Kenapa dia ada di sini? Apa dia tidak salah masuk?”
“Lalu siapa wanita yang ada di sampingnya?”
“Dilihat dari seragamnya, dia sama seperti kita. Malang sekali
nasibnya.”
“Dia seperti wanita murahan yang, meminta pertanggung jawaban pada
seorang pria. Tapi sayang, pria itu sangat, euhhh. Mejijikan dan memuakkan
dilihat.”
Dani mendengar dengan jelas orang-orang bergosip tentang dirinya.
Tanpa dapat dihalangi, kristal cair jatuh dari kedua sudut matanya. Ia
menunduk, ketika mendengar kata murahan tersemat di dalam dirinya.
Pria itu memandang wanita yang ada di sampingnya. Melepas cekalan
tangannya dan menarik pinggul wanita itu mendekat. Ia memeluk eret pinggul
wanita itu seolah tak ingin menyakitinya.
Dia mengutuk microfhone. “Diam semuanya!” bentaknya dengan nada
yang membuat semua orang terdiam dan juga ketakutan.
Pria itu berdehem sebentar untuk menormalkan suaranya. “Perhatian
semuanya! Pertama, saya akan memperkenalkan diri. Saya Al
Juna Shin, saya adalah direktur baru di pabrik ini. Dan wanita serta bayi yang
ada di gendongannya adalah anak kami. Dia adalah kekasih saya, ibu dari anak
saya.”
Dani syok, mendengar pengakuan dari pria yang baru
pertama ditemuinya. Benar saja sekarang nama murahan yang tersemat cocok
untuknya. Wanita tanpa ikatan mengumumkan memiliki anak dengan orang yang baru
saja ia tahu namanya. Keadaan aula menjadi ricuh setelah mendengar pengklaiman
dirinya.
“Kami akan menikah 2 bulan lagi. Siapa pun yang bergosip tentang
kami, saya tidak akan segan-segan untuk memecat detik itu juga! Dan saya tidak
main-main dengan ucapan saya!”
Juna menarik Dani, meninggalkan aula. Dia berjalan cepat menuju
ruangannya. Ekspresi wajahnya sangat dingin dengan rahang yang mengeras,
menahan amarah. Sedangkan Dani mengikutinya dengan pandangan kosong.
Mereka tiba di ruang kerja Juna. Mengunci pintu dan menggiring
wanita itu menuju sofa yang ada di ruangannya. Mendudukkan wanita itu dan
menggendong bayi itu dan menidurkannya di kereta bayi.
Juna meletakkan segelas air putih di depan wanita itu. “Kita harus
bicara, nona Khodijah!.” Gadis itu tidak merespon.
“Maaf mengenai hal tadi. Aku sungguh-sungguh ingin menikahimu. Aku
tahu diumur sekarang, banyak pria yang lebih memilih yang lebih muda, cantik
dan seksi. Pasti mereka akan berfikir ulang untuk menikahimu.”
Dani menundukkan wajahnya memikirkan pernyataan pria itu. Dia
mengglatukkan giginya menahan amarah. Matanya berkaca-kaca, siap menumpahkan
air bah yang sewaktu-waktu siap meluap. Hatinya sakit mendengar ucapan pria
itu.
“Apa pandangan pernikahan bagi anda?”
“Setatus untuk menutupi sebuah nafsu, kenapa kau mananyakan itu?”
“Kalau begitu saya menolak. Banyak wanita di luar sana yang dengan
suka rela menyalurkan kebutuhan anda. Saya tidak bisa menikah dengan niat yang
tidak masuk akal seperti itu. Saya akui, memang saya tidak menarik, tidak seksi
dan juga tua. Saya akui itu. Tapi bukan berarti anda bisa seolah saya tidak
laku.” Ucapnya dengan menaikkan satu oktaf.
“Kalua kamu memang laku, tidak mungkin sekarang menyandang status
singgle. Dengan sifatmu seperti ini, saya yakin tidak ada yang mau denganmu.”
“CUKUP!! ANDA TIDAK BISA MENGHAKIMI SAYA DENGAN STATUS SAYA!”
ucapnya langsung berdiri dengan dada yang naik turun.
“Diam! Kau bisa mengganggu tidur anakku!” ucapnya sinis. “Setiap
pernikahan pasti akan berakhir dengan perpisahan... Apa konsep menurutmu?”
“Tidak semua pernikahan berakhir dengan perpisahan. Hanya
pernikahan yang didasarkan karena Allahlah yang akan selalu abadi. Pernikahan
itu pernyataan cinta dan setia di hadapan Tuhan.” Dadanya naik turun serta
hidungnya kembang kempis dan air bah yang sedari tadi ditahan telah jebol.
“Bukan berarti karena belum menikah, saya tidak laku. Saya hanya
menyeleksi siapa yang yang cocok menjadi pendamping hidup saya.” Lanjutnya
sambil menahan isakannya.
Dani berjalan cepat menuju pintu, dengan cepat Juna mengejar dan
mencengkram pergelangan tangan kirinya. Membalikkan tubuh wanita itu menjadi
berhadapan. Mendorongnya kedinding sambil mengunci kedua pergelangan tangan.
“Aku tahu, kamu menolakku karena penampilanku, bukan? Dengan
penampilan yang norak seperti ini, mustahil wanita melirikku. Sekalipun wanita
buta. Mereka hanya mengandalkan kekayaan untuk bisa dipuaskan. Kau juga seperti
itu bukan?”
Dani meronta, mencoba melepaskan diri. “Apa kau bilang?! Aku bukan
wanita rendehan seperti itu. Aku hanya perlu seorang imam yang akan membawaku
ke jalan yang lurus.”
Juna tertawa pilu, mendengar ucapan wanita itu. Di zaman sekarang,
masih ada wanita yang tidak melihat harta? Ini sangat langka!
“Lalu aku harus menyebutmu wanita religius, yang menunggu seorang
pria alim untuk di jadikan suami? Hah. Jangan munafik nona, kita hidup di dunia
yang kejam. Bukan di dunia mimpi yang dapat kita atur sendiri.”
Juna mendekatkan wajahnya, “Aku hanya butuh tubuhmu, kesetiaan dan
juga merawat anakku. Banyak keuntungan jika kamu menjadi istriku. Kau bisa
hidup nyaman tanpa perlu bersusah payah, itu salah satunya.”
Juna menempelkan bibirnya pada bibir Dani. Ciuman pertamanya.
Ciuman untuk suaminya kelak. Dani membela-lakan matanya syok.
Bibirnya sudah tidak perawan lagi?!
Sedangkan Juna, menikmati setiap sapuan bibinya pada
bibir wanita yang beberapa saat lalu menjadi calon istrinya. Ciuman itu terlihat
kasar, melumat, menjilat menghisap. Dani menamparnya tepat di pipi kiri. Membuatnya
mundur dan menghapus darah yang mengalir di sudut bibir. Pria itu tersenyum
sinis dan menjilat darah yang ada di tangannya.
“KAU GILA!”
______________________
Coppyan dari Wattpad saya, mudah-mudahan kalian suka.
vote dan kritik ditunggu dengan senang hati. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar