Kamis, 07 Mei 2015

31 Old Woman - Dua

Dua

“KAU GILA!”
Juna tidak merasa kesal sama sekali, “Manis...” gumamnya sambil menjilat bibirnya sensual. “Aku tidak sabar ‘melakukannya’ denganmu lagi nona Dan.”
“Selain penampilanmu yang buruk, ternyata hatimu sangat busuk! Pantas tidak ada seorang wanita yang mau denganmu.” Serunya marah.
“Diamlah kau tidak tahu apa-apa tentangku! Jangan samakan aku dengan pria brengsek diluar sana!” Juna mencengkram lengan Dani menariknya ke kereta bayi. Tanpa melepas cengkramannya, dia membopong bayinya dengan tangan kanannya. Membuat bayi itu menangis kencang.
“Lepaskan aku! Lepas!”
Dani buru-buru merebut bayi itu dan menggendongnya, sisi keibuannya ke luar, saat melihat seorang bayi di gendong dengan tidak layak. “Setidaknya perlakukan anakmu dengan baik, meski anda marah. Tidak seharusnya bayi ini mendapat imbas atas kemarahan anda!” Dia menimang-nimang bayi dalam dekapannya dengan penuh sayang.
Juna diam, melihat seorang wanita asing menyayangi anaknya dengan tulus membuat hatinya menghangat. Sejak pertama kali melihat wanita ini menenangkan tangis anaknya, ia yakin bahwa wanita ini adalah calan istri yang baik. “Apa pun yang akan terjadi, kau harus menjadi milikku.” Batinnya.
Dia menjauh wanita dan bayinya, dia mengambil ponsel kemudian menaruhnya di telinga. “Cari tahu semua tentang wanita yang bernama Khodijah Ramadani. Jangan sampai ada sedikitpun yang terlewat. Dan sebelum malam tiba, harus sudah di meja kerjaku.”
Dia mengantongi ponselnya ke saku jas dalam. Dia menghampiri mereka, menarik lengan Dani untuk pulang.
***
Dani berdiri di depan sebuah pintu kayu dengan banyak ukiran unik. Saat sebuah tangan menariknya, dengan tegas dia menyentakkan tangan tersebut dan memandang tajam si pemilik. Ada kemarahan yang terlihat dari mimik mukanya.
Bukannya takut mendapat tatapan horor seperti itu, Juna malah tersenyum sinis. Ia membuka pintu rumahnya lebar. Rumah bergaya minimalis modern dengan halaman yang sangat luas, terlihat sepi.
“Mulai saat ini, kau akan tinggal dirumah ini.” Ucapnya melangkah masuk. “Kita akan berbagi kamar dan juga ranjang.”
Dani yang sedari tadi mengekor berhenti. “Tidak! Aku belum tentu menyetujui usulanmu untuk menikah. Bagaimana bisa kau seenak jidatmu menyuruhku tinggal. Dan sekarang kau menyuruhku tidur bersama. Kau gila!”
“Diamlah! Kau akan membangunkan Baby Jo. Jika kau terus berteriak seperti itu!” Juna mengambil bayi yang dipanggil baby Jo ke dalam gendongannya. Ia membawanya ke lantai dua, memasuki kamar dengan pintu putih. Ia meletakkan Baby Jo ke boks tidur lalu menyelimutinya.
Dari belakang Dani hanya mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia terdiam, saat melihat keuletan Juna menidurkan anaknya. Entah kenapa jantungnya berdebar 3 kali lebih cepat dari biasanya. “Jarang seorang pria merawat anak kecil sendiri, seperti ini. Ku kira sikapnya sangat menyebalkan, di balik semua itu ternyata dia memiliki sisi lembut yang orang lain tidak bisa melihatnya.” Gumamnya.
“Bawa aku ke pabrik!”
“Untuk apa? Mencari suami yang alim, seperti yang kamu impikan?”
“Memang mencari suami semudah berganti celana dalam. Kalau semudah itu pasti dulu aku sudah mendapatkannya. Aku harus bekerja. Aku tidak mau kehilangan pekerjaan, lagi pula mencari kerja sangat sulit.” Ucapnya panjang lebar.
“Sudah ku katakan, kau akan menjadi istriku. Jadi tidak usah bekerja.”
“Tapi aku belum menyetujuinya. Bagaimana bisa kau memaksakanku!”
“Harus dengan cara apa agar kamu mau? Kekerasan? Atau berhubungan sebelum nikah?” Juna berjalan mendekati Dani.
Alaram dalam kepala Dani berbunyi, merasa ada sebuah bahaya yang mengancam. Dani berjalan mundur, ia terhenti karena tubuh bagia belakangnya membentur sesuatu. Dia menoleh, sebuah tembuk berada tepat di selakang tubuhnya. “Ya Allah. Lindungi hamba.” Batinnya berteriak panik.
“Apa yang akan Anda lakukan?!” serunya panik.
“Memang apa yang akan aku lakukan di dalam sini?” kata Juna menunjuk kapala Dani. Dani diam, tak berani berargumen.
“Kenapa diam? Kau ingin menerimanya dengan baik-baik atau dengan...” Juna mengelus pipi Dani perlahan, membuat tubuh Dani tegang.
“Baik... baik, aku akan menerimanya. Tapi aku meminta beberapa syarat padamu.”
“Sebutkan!”
“Pertama, anda harus mengikuti keyakinanku. Kedua, tidak ada hubungan suami istri, sampai benar-benar ada cintai diantara kita. Ketiga, tidak ada orang ketiga dalam hubungan kita. Atau lebih tepatnya aku menuntut kesetiaan. Dan terakhir, saya diperbolehkan untuk bekerja.”
“Syarat pertama aku setuju.” Dani tercengang. “Memangnya kamu menganggapku apa? Meski margaku Shin, yang lebih menonjol ke Korea. Tapi harus kamu ingat, ibuku adalah anak dari seorang keyai. Syarat terakhir aku setuju, asal tidak menelantarkan keluarga. Tapi syarat kedua dan ketiga aku menolak.”
“Kenapa?”
“Kau menginginkan kesetiaan, bukan?” tanya Juna dengan berbisik sambil meniup telinga bagian bawah Dani. Sehingga merasa menegang. “Bagaimana aku bisa setia, jika kebutuhanku sebagai seorang pria tidak ku dapatkan dari istriku? Jadi dua dan tiga hapus.”
“Baiklah.” Jawabnya lesu.
“Kalau begitu pernikahan akan dimajukan satu bulan. Lusa kita akan menemui keluargamu. Aku dan juga keluargaku akan melamarmu secara resmi.”
“Ba-bagaimana bisa? Anda mengatakan 2 bulan lagi?”
“Itu karena kamu telah menyetujuinya, sayang.”
***
Dani duduk di ruang tamu, ruangan ini memang terlihat sangat nyaman. Tapi tidak untuknya. Ia merasa was-was, setiap kali ia sadar dia berada di tempat asing yang sangat memukau.
“Apa saya memang harus tinggal di sini, pak?” tanyanya memandang pria yang ada di hadapannya.
“Iya.” Jawabnya singkat, padat dan irit. “Dan panggil aku Juna.”
“Lalu bagaimana dengan baju dan lainnya. Tidak mungkin aku harus memakai baju ini selamanya, pak Juna!” akalannya, dia tidak mau harus tinggal seatap dengan seorang pria yang bukan muhrimnya.
“Itu bukan masalah, aku bisa membelikanmu, semua yang kamu butuhkan.”
“Tidak! Aku ingin punyaku, dan juga ponselku!”
“Baiklah, sebelum isya yang kau inginkan akan ada di sini.”
“Apa tidak ada seorang ART satupun yang bekerja?” tanya Dani penasaran.
“Meraka hanya akan datang pagi untuk membersihkan rumah dan siang pulang.”
“Lalu pengurus Jo?”
“Tidak ada, aku yang mengurusnya.”
“Astaga! Kau gila. Bagaimana jika dia lapar di malam hari? Dari sikapmu padaku, aku yakin pak Juna tidak mendengarnya dari kamar anda!”
Juna tertawa, “Dasar kuno! Disana ada alat penghubung ke kamarku, agar aku mendengar tangisannya, bodoh!”
Dani hanya tersenyum canggung, menyadari ke-katro-annya. Dia merutuki kebodohannya. Memang bigutulah kenyataannya, dia kurang bergaul dengan orang yang di sekitarnya. Hanya orang yang sudah dikenallah yang dekat. Dia juga kurang menyatu dengan orang baru.
“Ngomong-ngomong aku harus istirahat dimana? Aku sangat lelah.”
“Kau bisa istirahat di kamarku.”
“Tidak! Aku bisa tidur dengan Jo, di kamarnya!” tolaknya.
“Terserah kamu saja, disana tidak ada ranjang. Hanya ada sofa sempit yang akan membuatmu sakit saat bangun.”
***
Sebelum magrib, Dani turun dengan menggendong Jo. Dia meletakkan Jo di kursi khusus yang memang sudah dipersiapkan di ruang makan. Ia hendak menyiapkan makan malam, tak mungkin dia merepotkan pemilik rumah. Dia membuka kulkas, ia sedikit terkejut. Hanya ada buah, minuman ringan, susuk pria, telur dan beberapa pitza beku yang hampir busuk.
Dani segera membuang pitza itu ke tong sampat. Dia menggerutu, apa tidak ada yang memasakkannya dirumah? Dia beralih membuka lemari. Mendapati peralatan makan yang sangat lengkap, sereal, susu bubuk untuk pria dan balita, serta makanan ringan.
“Apa hidupnya seperti ini?”
“Apa?!”
Dani terloncat kaget. Dia mengelus dadanya dan berbalik menatap tajam Juna.”Kau mengagetkanku!”
“Maaf.” Ucapnya. “Sedang apa kau disini?”
“Masak makan malam, tapi hanya ada buah, telur dan roti.” Dani cemberut, “Bagaimana kalau senwit saja, aku tidak tahu harus mengolahnya.”
“Terserah kamu, sayang. Apapun yang kamu masak akan ku makan, sekalipun itu jamu brotowali.” Juna tertawa terbahak.
***
Rumah mewah bergaya mediterania, yang luasnya dua kali atau bahkan tiga kali dari lapangan sepak bola berstandar internasional. Rumah dengan cat putih tulang itu, sangat mencolok di antara rumah rumah yang ada di sekitarnya. Rumah paling luas, paling mewah, dan yang tak kalah ketinggalan adalah terindah. Disetiap 100 meter terdapat penjaga, dengan tubuh besar bak seorang tukang jagal.
Dani mengenakan kaos hitam polos panjang dan rok batik panjang berwarna kuning. Rambutnya dikucir kuda, dan sedikit polesan make up. Sedangkan Juna, dia mengenakan kemeja kedodoran serta kacamata yang tak pernah dilepaskan saat keluar rumah.
Dani berjalan di sebelah pria jangkun berkaca mata tebal. Dia mengeratkan pegangannya pada lengan pria itu. Tangan satunya menggendong bayi. Pria itu menoleh dan tersenyum, untuk menenangkannya.
Mereka berjalan menuju ruang tamu. Disana telah duduk sepasang suami istri yang tengah menunggu keatangan mereka. Sang istri dengan balutan gamisnya terlihat sangat cantik. Sedangkan sang suami dengan balutan kemejanya terlihat elegan. Beberapa kesamaan antara Juna dengan sang wanita, senyum mereka benar-benar memabukkan jiwa. Dan satu yang dapat dilihat dari ayah dan anak itu adalah mata mereka benar-benar sipit.
“Assalamu’alaikum, mah, pah?” sapa Juna sambil mencium kedua punggung orang tuanya secara bergantian.
“Assalamu’alaikum, tante, om?” sapa Dani sambil tersenyum dan mengangguk dengan menggendong Jo.
“Wa’alaikumsalam warohmatulloh.” Jawab orang tua Juna ramah. “Mas, siapa gadis cantik ini?” tanya ibu Juna. “Wah Jo, sudah akrab ya sama tante cantik?” tanya ibu Juna pada Jo sambil menoel pipi cubi Jo.
“Kenalkan mah, dia Khodijah Ramadani. Calon istri Al.” Juna merangkul pundak Dani untuk mengikis jarak antara mereka. Mereka duduk saling berdekatan, dan Jo di pangku Dani.
“Beneran mas? Bagus itu, mamah dan papah setuju. Benerkan pah?” tanya ibu Juna pada ayah Juna.
“Iya. Kalo memang kalian cocok, ya papah ga bisa komentar apa-apa.”
Seorang pelayan datang dengan membawa sebuah nampan, yang diatasnya terdapat dua buah cangkir berisi teh. Setelah meletakkan cangkir pada Juna dan Dani, pelayan itu permisi.
“Kenalin tante Syifa Nur Janah, mamahnya Al.” Ucap Nur menyalami tangan Dani. “Dan itu papah Juna, Shin Jun oh. Alias Muahammad Ibram Shin.” Ayah Juna hanya mengangguk, kembali membaca korannya.
“Kapan kalian akan nikah?” tanya Nur.
“Secepatnya mah. Tapi dua hari lagi aku ingin melamarnya.” Ucap Juna tegas.
“Rumah kamu dimana sayang?” Nur beralih menatap Dani.
“Rumah saya di Kebumen tan.” Dani menepuk-nepuk pelan Jo yang sedikit rewel.
“Kamu sudah pernah ke sana mas?” kini Nur beralih menatap anaknya, Juna menggeleng sebagai jawabannya. “Kamu kenal Khadijah, dimana mas?”
“Di pabrik mah.”
“Dia cinta sama kamu? Dengan penampilan kamu kayak gini?” tanya Nur penuh selidik. “Kamu ga maksa dia kan?”
“Nda ko mah. Kalo masalah cinta, kami dalam proses.”
“Kamu ga hamilin dia kan?” ucapan Nur terdengar sedikit emosi.
“Tidak tan. Pak Juna melamar saya di pabrik, saat saya tidak sengaja dipergoki sedang menggendong Jo yang sedang menangis. Awalnya saya ragu, terus dia yakinin saya, dan akhirnya saya mau. Saya juga merasa cocok, jadi kami putusin menjalin hubungan yang serius.” Dani segera menyela ucapan Nur, takut ada salah paham.
“Pernikahan bukan hal main-main loh. Kalau bisa dalam hidup sekali aja.”
“Aku yakin Khodijah jodohku. Meski kami belum saling cinta tapi kami akan menghadirkan cinta di rumah tangga kami mah, pah.”
“Menurut kami, cinta itu penting dalam rumah tangga. Tapi kalau menikah berdasarkan cinta, mungkin rumah tangga tidak akan seumur hidup. Cinta itu bisa habis, tapi kalau niat karena Alloh. Insya allah, Allah akan menjaga pernikahan kami.” Ucap, Dani mengungkapkan argumen-nya.
“Papah setuju dengan pernikahan kalian. Minggu pagi kita terbang ke Jogja baru ke rumahmu, Khodijah.” Ibram angkat bicara. “Mas, papah tunggu di ruang kerja.” Dia meninggalkan ruang tamu, disusul oleh Juna.
Setelah kepergian ayah dan anak itu, Nur menghampiri Dani dan duduk di sebelahnya. Dia tersenyum ramah, memegang tangan Dani dengan pandangan haru.
“Khodijah terimah kasih, kamu mau menikah dengan anak tante.”
“Iya tan, Khodijah berharap mas Jun bisa menjadi imam yang terbaik.”
“Insya allah, Di. Mulai sekarang Di panggil tante mamah ya. Kaya Al manggil mamah.”
“Iya Tan, eh iya mah.”
***
Juna duduk di tengah ruang kerja ayahnya. Dia seperi terdakwa pengedar narkoba yang menunggu keputusan sidang yang akan mendapatkan hukuman mati. Kalau sudah di panggil ke ruang kerja seperti ini. Maka ada kesalahan besar yang dilakukan oleh sang terdakwa.
“Apa kau serius dengan keputusanmu?” tanya Ibram tegas. Dia duduk di kursi kebesarannya seperti seorang hakim.
“Iya pah. Al sangat yakin malah. Bukankah mamah dan papah yang terus mendesak untuk cepat-cepat menikah?” tegas Juna. “Pah, aku mencari istri yang mau menerimaku apa adanya. Papah juga tadi mendengar jawabannya. Dia ingin menikah karena ingin melakukan sunah Rosul. Kami yakin yang mempertemukan dan memisahkan kami hanya Allah, Tuhan yang maha kuasa.”
“Lalu apa dia menerimanya karena hartamu?”
“Tidak...” Juna bingung sendiri dengan jawabannya. Dia bahkan belum tahu seperti apa wanita yang akan dinikahinya. “Al yakin dia jodoh yang Allah utus untuk ku.”
“Baik, jika itu sudah bulat. Papah hanya bisa berpesan, pertahankan rumah tanggamu apa pun yang terjadi.” Ibram berjalan menghampiri Juna dan menepuk-nepuk bahu Juna sambil tersenyum. Kemudian  dia keluar.
Juna menghempuskan nafas kasar. Beban-beban yang ada di pundaknya seolah lenyap seketika. “Syukurlah, mereka bisa mengerti.” Gumanya.
***
“Mah, mana Jo dan Di? Aku tidak melihatnya dari tadi?” tanya Juna yang berpapaan ibunya di ruang tengah.
“Mereka tidur di kamarmu. Tadi setelah di tinggal kamu, Jo nangis kejet. Setelah dikasih susu oleh Di, baru dia diem dan tidur. Melihat Di terus menggendong Jo jadi mamah suruh mereka tidur di kamarmu.” Jelas ibunya, kemudian pergi menuju kamarnya.
Setelah ditinggal ibunya tidur, Juna segera menuju kamar lamanya. Benar saja di sana terdapat seorang wanita yang tidur menyamping memeluk Jo. Juna menghampiri mereka, duduk di tepi ranjang. Memandang dua malaikat yang tengah tertidur dengan wajah polos. Ia menyelipkan rambut Di ke belakang telinganya kemudian menaruh guling di samping Jo agar tidak jatuh.

Dia pergi ke kamar mandi, cuci muka, gosok gigi, dan mengambil air wudhu. Dia melaksanakan sholat isya’, kemudian beranjak ke tempat tidur di sebelah Dani. Membaringkan tubuhnya dan menyelipkan tangannya ke pinggang Dani. Tak lama dia tertidur dengan keadaan memeluk Dani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar