Sabtu, 06 Agustus 2016

Thanks God - Jodoh Manusia dan Syukur

Thanks God - Jodoh Manusia dan Syukur

Selamat pagi semua. Semoga Tuhan meberi kesehatan pada kalian. Pada kesempatan kali ini aku akan mengutarakan opiniku tentang Jodoh. Tentu saja Jodoh yang Tuhan beri. Meski pun aku sendiri belum berjupa dengannya.



“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (QS. Faatir: 11)
 
 Dalam QS. Faatir ayat 11 sudah dijelaskan sejelas-jelasnya. Bahwa kita (manusia) diciptakan oleh Allah (Tuhan) berawal dari tanah dari kemudian air mani. Penciptaan manusia dari tanah oleh Allah adalah Adam as. sedangkan keturunannya dicitakan oleh Allah dari air mani (sperma).

Tidak perlu saya jelaskan proses penciptaan manusia, karena kalian pun telah tahu saat pelajaran IPA (Biologi) tenteng reproduksi.

"Kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan)."
Dari kalimat ini sudah jelas bahwa Dia menciptakan manusia untuk saling bersama, berpasangan. Dalam Islam tidak hanya ada dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Hal itu sudah mutlak ketentuan Allah.

Berbicara tentang jodoh, sebenarnya kita tak perlu khawatir dengan Jodoh kita. Kenapa? Karena Allah telah menuliskannya di Loh Mahfuz bersamaan dengan kelahiran, kematian dan rezeki kita, jauh sebelum kita diciptakan. Ketentuan Allah itu mutlak dan tak akan bisa kita ubah, namun ada ketentuan yang dapat diubah selain di atas.

Jodoh tidak mutlak harus berpacaran. Karena dalam Quran, as-Sunnah dan ijma sekalipun tidak ada dalil yang mengharuskan manusia untuk berpacaran. Bahkan menurut ulama pacaran itu adalah dosa. Kenapa? Saat laki-laki atau perempuan yang saling pandang dapat mendatangkan dosa, lalau bagaimana dengan hal lainnya. Bukankah jauh lebih dosa?

Menurutku Pacaran itu tidak menimiki manfaat. Meski aku belum pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Tapi aku pun pernah lah merasakan jatuh cinta. Rasanya nano-nano. Ada manis, asin, asam dan pahitnya. Sama sekali tak enak. Manisnya tuh saat si dia pandang aku terus ngajak ngobrol. Asinnya tuh, saat si dia terima fotocopian yang ku beri terus ngasih senyum, bikin nagih. Asamnya tuh, saat si dia ngajakin belajar bareng, bisa deket deket kan? Dan pahitnya tuh, saat dia cuma manfaatin aku, terus mulai deh bully saat temen temennya saat ketahuan layar Laptop majang mukanya. dan yang paling nyakitin tuh si dia pamer kemesraan sama pacarnya.

Aku bersyukur udah ga ketemu dia lagi. Kami terpisah oleh jarak yang lumayan jauh (eh kok curhat!)

Mungkin diantara kalian ada yang sudah berpacaran? Menurut kalian kenapa sih kalian pacaran?

Pacaran tuh ya, hanya perasan nafsu yang ingin deket dengan cewek/ cowok yang disukai doang. Kenapa harus pacaran, sedangkan kita bisa halalin dia. Eh jangan salah kaum cewek, melamar cowok. Ga usah malu kali, jika kamu serius dengan si dia untuk jadi pendampin seumur hidupmu kenapa engga? toh, bukannya pacaran juga ingin bersama orang yang kita sayang dan cinta?

Kenapa halalin sekalian aja, dari pada kalian di grebeg satpol pp, atau bahkan diarak oleh warga keliling desa karena ketahuan yang engaga-engga.

Sebenarnya ada alternatif untuk tidak pacaran, tapi langsung menikah. Pertama, tentu aja kita cari cowok/ cewek yang baik luar dalam. Cowok yang baik bisa dilihat bagaimana dia memperlakukan ibunya dan sodara perempuannya. Sedangkan cewek yang baik dilihat dari bagaimana masa lalu, cara berucap dan bagaimana memperlakukan orang-orang disekitar. Tapi, tidak selamanya cewek/cowok yang baik di lihat dari luar, kadang kita harus tahu seperti apa dia dididik oleh keluarganya.

Kedua, Lihat deh dengan siapa dia bergaul. Kalian bisa tanya-tanya tuh sama temannya seputar si dia. Tapi inget jangan terlalu mencolok, kadang tuh orang terlalu kepo dengan urusan orang lain.

Ketiga, pendidikan. Pendidikan di sini bukan berpatok seberapa tinggi pendidikan. Tapi tidak bisa dipungkiri pendidikan berpengaruh dengan pola pikirnya. Misal seseorang yang lulusan SMK dan seseorang yang lulusan SMA memiliki pola pikir yang berbeda. Dimana SMK tuh di persiapkan untuk bekerja sedangkan SMA kebanyakan dipersiapkan untuk menuruskan ke jenjeng yang lebih tinggi. Lah saat sudah menikah dan memiliki anak pasti pola asuhnya akan berbeda. Yang satu bekerja sambil menitipkan anaknya ke neneknya dan yang satunya menitipkan ke sekolah.

Keempat, Usia. Carilah pasangan yang sebaya. tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Tapi jika dapat mengimbangi kita tak masalah.

Saya ingatkan, bukan berarti seseorang yang telah cerai itu tak berjodoh. Tapi memang segitu batas waktunya. Yakinlah Allah pasti akan memberikan laki-laki atau perempuan yang terbaik untuk kita. jangan karena belum memiliki pasangan di kepala 3 kita mencari pasangan yang asal-asalan. Carilah pasangan yang menerima kita apa adanya, benar perkataan dan tingkahlakunya, mampu bertanggung jawab, dan menegakkan Islam diatas segalanya. karena dia cinta kepada Allah, dia menikahimu.

Mungkin sekian corat-caret tidak bermutu ini. semoga bermanfaat.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar